Senin, 30 Maret 2009

Porno

Selasa, 10 Maret 2009

Contoh LKTI TIK

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya-lah penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini tepat pada waktunya. Karya Tulis yang berjudul “Implementasi Pengintegrasian Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Sekolah dalam Menunjang Pembelajaran” ini dapat terselesaikan berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Bapak I Gusti Made Suberata, M. Ag. selaku Kepala Sekolah SMA Pariwisata Saraswati Klungkung.

2. Bapak I Made Eka Sulantara, S. Pd. selaku guru pembimbing yang telah banyak meluangkan waktunya dalam pembuatan karya tulis ini.

3. Bapak I Nyoman Winastra, SE. yang telah memberikan kepercayaan kepada penulis untuk mengikuti lomba karya tulis ini.

4. Teman-teman yang telah banyak memberikan bantuan dalam menyelesaikan tulisan ini.

5. Pihak-pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah banyak membantu penyelesaian tulisan ini.

Penulis menyadari, bahwa uraian singkat yang termuat dalam tulisan ini masih sangat sederhana dan memiliki banyak kekurangan. Untuk itu, penulis mengharapkan bagi pembaca yang berminat menindaklanjuti tulisan ini berpartisifasi dalam menuangkan idenya demi kesempurnaan tulisan berikutnya. Akhirnya penulis berharap, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Semarapura, Desember 2008

Penulis


DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................................................................. i

Kata Pengantar ............................................................................................................ ii

Daftar Pustaka ............................................................................................................. iii

BAB I Pendahuluan .................................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ............................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................... 3

1.3 Tujuan Penulisan ......................................................................................... 4

1.4 Manfaat Penulisan ...................................................................................... 4

BAB II Metode Penulisan ........................................................................................... 5

BAB III Pembahasan .................................................................................................. 6

3.1 Teknologi Informasi di Sekolah ................................................................... 6

3.2 Konsep Peranan TIK sebagai E-Media ........................................................ 7

3.3 Peranan TIK dalam Menunjang KegiatanPembelajaran .............................. 9

3.4 Penghambat Penerapan TIK di Sekolah ...................................................... 10

BAB IV Penutup

4.1 Kesimpulan................................................................................................... 13

4.2 Saran ............................................................................................................ 13

Daftar Pustaka

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Teknologi yang dipandang sebagai salah satu agen perubahan peradaban manusia saat ini masih belum banyak dapat dinikmati oleh masyarakat. Ketidakseimbangan/ektremitas pengetahuan yang dimiliki masyarakat kota dan masyarakat desa sangat jauh berbeda dan ini merupakan dampak dari perkembangan teknologi. Hal ini terbukti dari rendahnya kepemilikan sarana teknologi informasi khususnya komputer di masyarakat, terutama masyarakat yang berada di daerah pedalaman. Walaupun demikian, dengan perkembangan teknologi informasi sekarang telah mengubah paradigma masyarakat dalam mencari dan mendapatkan informasi yang tidak lagi terbatas pada informasi surat kabar, audio visual, tetapi juga pada sumber informasi lainnya yang salah satunya adalah internet. Keunggulan internet daripada alat informasi yang lain membuat beberapa masyarakat beralih untuk memanfaatkannya. Salah satu keunggulan tersebut adalah dapat dipakai sebagai media komunikasi dan transaksi real pada saat itu juga, tanpa harus menunggu berhari-hari untuk dapat bertemu dan melakukan transaksi. Hai ini adalah sebagian kecil dari keunggulan dan fungsi dari implemetasi teknologi informasi. Secara umum, teknologi informasi dan komunikasi telah berpengaruh banyak di segala bidang kehidupan manusia termasuk didalamnya adalah di bidang pendidikan khususnya dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan.

Berbagai inovasi telah dilakukan oleh pelaku pendidikan untuk meningkatkan mutu pembelajarannya. Berbagai penelitian pun telah dilakukan, namun hasilnya sampai saat ini belum bisa dinikmati secara maksimal dan menyeluruh. Hal ini diakibatkan oleh berbagai faktor, yang diantaranya adalah faktor kebermanfaatan, yaitu hasil suatu penelitian terhadap pembelajaran hanya dapat bermanfaat besar pada kondisi saat itu, sementara untuk penggunaan yang lebih luas belum menjanjikan. Jika diperhatikan lebih khusus tentang prestasi siswa, utamanya di bidang sains hasil dari tes yang dilakukan oleh Trends International Mathematics and Science Study (TIMSS) mengungkapkan bahwa kemampuan siswa SMP berada pada peringkat ke 32 dari 50 negara yang berperan serta. Sementara tes yang dilakukan oleh Associations for Evaluation of Educational Achievement International (AEEAI) menunjukan bahwa kemampuan sains siswa Indonesia berada pada peringkat 36 dari 50 negara (Santyasa, 2008). Fakta-fakta tersebut mengindikasikan bahwa kualitas pembelajaran sains di Indonesia perlu ditingkatkan, mengingat kemampuan sains menjadi landasan dalam pengembangan teknologi. Dengan demikian dengan adanya teknologi informasi seperti sekarang ini (khususnya komputer), pemanfaatanya perlu lebih ditingkatkan dalam menunjang kegiatan pembelajaran.

Masa sekarang teknologi dan sains telah menjadi satu kesatuan yang berkembang dan bermanfaat di segala bidang kehidupan manusia. Khusus di bidang pendidikan, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) seolah-olah telah menjadi menjadi kebutuhan mutlak. Hal ini terlihat dari telah digunakannya komputer secara luas sebagai akses informasi dan pengolahan data sekolah. Komputer telah digunakan dalam mengolah data-data sekolah, seperti pengolahan data siswa, pegawai, sampai pada pengelolaan perpustakaan dan juga sebagai sarana dalam pembelajaran. Walaupun demikian, masih banyak pelaku pendidikan, utamanya guru senior belum mampu berinovasi dengan bantuan teknologi informasi dan komunikasi. Mereka masih lebih cenderung melaksanakan pembelajaran secara konvensional dengan model oriented book. Dengan demikian pengalaman siswa sama seperti apa yang tertuang dalam buku sehingga dituntut pengalaman belajar siswa sama seperti di buku. Apa yang ada dan tertuang di buku, itu yang diajarkan kepada siswanya tanpa memperhatikan situasi, kondisi, dan geografis sekolah. Sebagai suatu contoh, situasi, kondisi, dan geografis sekolah yang ada di dataran rendah tidak sama dengan sekolah yang berada pada dataran tinggi, sehingga pengalaman belajarnya pun idelanya harus berbeda dengan menekankan pada konsep materi ajar yang sama.

Dalam penelitian-penelitian pendidikan, metode-metode pembelajaran seperti itu sudah mulai ditinggalkan dan walalupun masih digunakan hanyalah sebagai pembanding yang dianggap standar dalam pembelajaran dan tentunya tidak revelan lagi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam beberapa penelitian pembelajaran, model pembelajaran konstruktivis dilaporkan telah berkontribusi positif terhadap hasil belajar siswa, yaitu guru mendisain pembelajaran dan mengahdapkan siswa pada pembelajaran riil sehingga siswa mampu membentuk pengetahuannya sendiri. Teori ini sangat tepat diterapkan hanya pada materi-materi tertentu yang tidak banyak memerlukan waktu. Untuk menyelesaikan materi-materi yang memerlukan banyak waktu, maka guru diharapkan lebih inovatif dalam melaksanakan pembelajaran, terutama dalam memanfaatkan TIK. Mengingat teknologi informasi dan komunikasi tidak hanya terbatas pada hrdware dan sofrware, tetapi juga mengikutsertakan manusia dan tujuan yang ditentukan maka penggunaan teknologi informasi terutama e-media sebagai pilihan dalam dalam mengembangkan materi ajar sesuai dengan situasi, kondisi, dan geografis sekolah. Sarana TIK dapat membantu mengintegrasikan dan mensimulasi materi-materi pembelajaran tersebut, seperti dalam bentuk presentasi slide, film, gambar maupun bagan sehingga keriilan pengalaman siswa dapat terwujud dalam keterbatasan waktu pembelajaran.

Dengan dibentuknya pembelajaran seperti itu diharapkan olah pikir yang dapat dibentuk siswa dapat membantu mereka dalam menginternalisasikan konsep-konsep baru yang dipelajarinya yang berbasis pada pengetahuan awal yang telah dimilikinya. Penalaran sangat diperlukan dalam perkembangan teknologi informasi. Pengintegrasian pengetahuan baru ke pengetahuan yang telah dimiliki siswa dapat berlangsung melalui proses asimilasi dan akomodasi. Menurut Novak dan Canas (2008) dalam Santyasa (2008) proses asimilasi dan akomodasi dapat dipercepat dengan bantuan peta konsep. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam melaksanakan pembelajaran dengan peta konsep tersebut, diantaranya adalah dengan memanfaatkan media elekronik, seperti OHP dan LCD-Proyektor-komputer. Dalam hal ini, basis pembelajaran yang dapat dirancang adalah pembelajaran peta konsep berbasis komputer. Sampai saat ini belum ditemukan adanya model pembelajaran yang memanfaatkan komputer sebagai alat bantu penyampaian materi ajar. Dengan demikian dalam tulisan ini akan digagas dan dikupas tentang peranan TIK dalam menunjang pembelajaran.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang dan luasnya lingkup permasalahan yang dikaji, maka permasalahan dibatasi sebagai berikut.

  1. Bagaimana peranan TIK dalam menunjang kegiatan pembelajaran?
  2. Kendala-kendala apa yang menghambat pelaksanaan TIK di sekolah-sekolah?

1.3 Tujuan Penulisan

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peranan penerapan TIK dalam membantu proses pembelajaran dan mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dalam penerapan TIK dalam pembelajaran.

1.4 Manfaat Penulisan

Manfaat secara umum penulisan ini memberikan wawasan dan paradigma tentang peranan teknologi informasi di masyarakat di era globalisasi ini. Sedangkan manfaat khususnya adalah:

1. memberikan pengetahuan dasar dan kasar tentang keberadaan dan peranan teknologi informasi dan komunikasi di sekolah.

2. memberikan gambaran tentang kendala-kendala yang yang menjadi barier penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di sekolah.

3. dapat dijadikan sebagai acuan dalam penulisan karya berikutnya yang mengambil pokok permasalahan yang serupa.

BAB II

METODE PENULISAN

Metoda pengumpulan data memegang peranan yang sangat penting dalam suatu karya ilmiah. Dalam penulisan karya ini, metoda yang digunakan adalah telaah kepustakaan, yaitu dengan memadukan intisari dari beberapa sumber bacaan yang relevan dengan judul, sehingga diperoleh suatu data yang kemudian dianalisis atau diolah secara deskriftif. Dengan demikian simpulan yang dibuat diharapakan menjadi lebih tepat berdasarkan teori-teori yang telah ada.

BAB III

PEMBAHASAN

Teknologi Informasi di Sekolah

Sebuah sekolah pada hakekatnya adalah sebuah unit kerja yang bertugas dalam memberikan layanan kepada masyarakat dalam mencerdaskan anak-anak bangsa. Idealnya, sebagai tempat pelaksanaan pembelajaran sekolah memiliki unsur-unsur sebagai berikut.

1. Ruangan atau gedung yang difungsikan sebagai ruang pembelajaran.

2. Halaman dan taman yang juga dapat difungsikan sebagai ruang pembelajaran.

3. Perpustakaan yang juga difungsikan sebagai ruang pembelajaran.

4. Sarana dan prasarana lain yang difungsikan sebagai penunjang pembelajaran.

5. Tenaga pengelola, baik kepala sekolah, guru, pegawai, dan satpam yang bertanggungjawab terhadap kelancaran kegiatan pembelajaran.

6. Keuangan.

Sarana yang mutlak diperlukan saat ini khususnya di sekolah adalah adanya peralatan teknologi informasi dan komunikasi yang dalam hal ini berwujud dalam seperangkat peralatan komputer. Hal ini dapat terwujud jika semua komponen sekolah, terutama masalah pendanaan memenuhi. Di mata masyarakat, walaupun tidak sepenuhnya, sekolah yang bermutu adalah sekolah yang salah satunya memiliki fasilitas TIK, yaitu komputer. Komputer yang merupakan seperangkat alat elektronik pengolah data fungsinya telah diluaskan menjadi sumber belajar. Beberapa materi yang absrak dan memerlukan waktu yang lebih dapat dituangkan dalam sebuah pembelajaran dengan bantuan komputer, dan dengan harapan materi tersebut dapat dipahami dalam bentuk semi riil oleh pebelajar. Dengan demikian pebelajar tidak akan belajar menghayal atau hanya menghafal, tetapi secara audio visual pebelajar dapat mengalami dan merasakan pembelajarannya. Dengan mengalami dan merasakan pembelajarannya, pebelajar akan dituntut mampu menyusun konsep materinya sendiri menjadi sebuah pengetahuan sesuai dengan tuntutan teori konstruktivisme. Selain itu, guru-guru yang ada akan dituntut dan dipaksa untuk mengikuti perkembangann tersebut sehingga guru akan menjadi lebih berinovasi dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar sehingga secara menyeluruh akan terwujud civitas dan masyarakat intelek yang penuh dengan inovasi dan pengtahuan. Dengan harapan kesunyataan seperti itu, maka tidak berlebihan kiranya setiap sekolah diwajibkan memiliki fasilitas teknologi informasi dan komunikasi.

Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di sekolah sekarang telah dimasukan dalam materi kurikulum dan pembelajaran. Dengan kata lain TIK telah menjadi materi pokok dalam pengembangan diri sebuah sekolah. Ini merupakan sudah suatu tujuan yang berkembang daripada hanya sekedar penyediaan sarana, tetapi juga tuntutan profesionalisme sebuah institusi yang akan membawa institusi tersebut menuju pada wawasan internasional. Dengan masuknya sarana dan materi TIK sebagai penunjang pembelajaran di sekolah akan sangat membantu sekolah tersebut dalam mengakses dan mengirim informasi, serta akan memudahkan guru dan siswa dalam melaksanakan pembelajaran.

Konsep Peranan TIK Sebagai E-Media

Dunia pendidikan semakin hari semakin berkembang dan bergerak ke depan. Perkembangan dunia pendidikan ini perlu didukung oleh teknologi informasi dan komunikasi. Perkembangan teknologi informasi beberapa tahun belakangan ini berkembang dengan kecepatan yang sangat tinggi, sehingga dengan perkembangan ini telah mengubah paradigma masyarakat dalam mencari dan mendapatkan informasi, yang tidak lagi terbatas pada informasi surat kabar, audio visual dan elektronik, tetapi juga sumber-sumber informasi lainnya yang salah satu diantaranya melalui jaringan Internet. Atau paling tidak dapat mengintegrasikan peranan teknologi informasi sebagai sarana penunjang dalam suatu kegiatan. Salah satu bidang yang mendapatkan dampak yang cukup berarti dengan perkembangan teknologi ini adalah bidang pendidikan, yang pada dasarnya pendidikan merupakan suatu proses komunikasi dan informasi dari pendidik kepada peserta didik yang berisi informasi-informasi pendidikan, yang memiliki unsur-unsur pendidik sebagai sumber informasi, media sebagai sarana penyajian ide, gagasan dan materi pendidikan serta peserta didik itu sendiri. Beberapa bagian unsur ini mendapatkan sentuhan media teknologi informasi, sehingga mencetuskan lahirnya ide tentang e-learning (Utomo, 2001) e-Learning berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika, khususnya perangkat komputer (Soekartawi, 2003). Karena itu e-learning sering disebut juga dengan on-line course. Dalam berbagai literatur e-learning tidak dapat dilepaskan dari jaringan Internet, karena media ini yang dijadikan sarana untuk penyajian ide dan gagasan pembelajaran. Namun dalam perkembangannya masih dijumpai kendala dan hambatan untuk mengaplikasikan sistem e-learning ini, antara lain:

(a) masih kurangnya kemampuan menggunakan Internet sebagai sumber
pembelajaran,

(b) biaya yang diperlukan masih relatif mahal untuk tahap-tahap awal,

(c) belum memadainya perhatian dari berbagai pihak terhadap pembelajaran
melalui Internet, dan

(d) belum memadainya infrastruktur pendukung untuk daerah-daerah tertentu
(Soekartawi, 2003).

Selain kendala dan hambatan tersebut di atas, kelemahan lain yang dimiliki oleh sistem e-learning ini yaitu hilangnya nuansa pendidikan yang terjadi antara pendidik dengan peserta didik, karena yang menjadi unsur utama dalam e-learning adalah pembelajaran.
Maka dengan melihat kelemahan dan kekurangan tersebut, para ahli berusaha menjawab fenomena ini dengan mengembangkan sistem e-education. Sistem ini telah didiskusikan secara aktif pada beberapa dekade terakhir ini. Pengembangan sistem e-education ini telah memberi inspirasi untuk mengembangkan e-media secara optimal guna percepatan pemerataan layanan pendidikan kepada masyarakat (Oetomo dan Priyogutomo, 2004). Masyarakat dalam hal ini selain memperoleh pendidikan melalui pendidikan formal, juga didukung oleh pendidikan melalui e-media, sebagai wujud dari pendidikan yang mandiri.
e-Education dengan pemanfaatan e-media, juga ditujukan untuk mengatasi persoalan e-learning, dimana e-media dapat dijadikan alternatif terdekat jika tidak ada koneksi ke Internet. Selain itu, e-media juga dapat membantu guru dan siswa dalam menyajikan dan membahas topik atau materi tertentu yang desain dan objek belajarnya adalah lingkungan alam maupun masyarakat luas yang tentunya memerlukan waktu lebih banyak dalam menemukan konsep permasalahan dan solusinya. Dengan demikian e-electronic, e-media dalam e-education merupakan salah satu solusi sederhana dalam mengatasi permasalahan beratnya materi pelajaran dan sempitnya alokasi waktu yang tersedia. Jadi pada saat ini, elektronik akan memegang peranan sangat besar dalam menunjang pembelajaran.

Peranan TIK dalam Menunjang Kegiatan Pembelajaran

Pada dasarnya penerapan teknologi informasi dan komunikasi di sekolah sangat memberi dampak positif bagi sekolah yang bersangkutan. Beberapa penerapan yang mungkin digunakan di sekolah diantaranya adalah laboratorium komputer, jaringan komputer, koneksi internet, sistem informasi yang berkaitan dengan kegiatan sekolah seperti perpustakaan, data siswa, bahan pelajaran, dan lainnya (Daunsalam, 2008). Dari hal-hal tersebut terlihat bahwa TIK berperanan cukup luas dalam menunjang kegiatan pembelajaran. Secara rinci peranan TIK dalam menunjang kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.

a. Mendukung sarana di laboratorium komputer. Laboratorium komputer merupakan hal yang paling lazim sebagai bentuk penggunaan teknologi informasi di sekolah. Walaupun laboratorium komputer umumnya digunakan untuk kegiatan pembelajaran komputer, namum tidak menutup kemungkinan dimanfaatkan secara optimal. Siswa maupun guru yang memiliki bakat dalam komputer dapat melakukan eksperimen dan eksplorasi lebih lanjut di laboratorium komputer. Dengan memberikan keluasaan dalam penggunaannya, serta pengawasan dan bimbingan yang cukup, maka mereka akan menghasilkan suatu produk yang mungkin dapat membangkan diri dan sekolahnya sehingga laboratorium TIK ini akan menjadi tempat yang sangat berguna bagi mereka. Pelatihan, diskusi, maupun aktifitas internal sekolah yang juga melibatkan masyarakat dapat juga dilakukan di laboratorium ini.

b. Mendukung koneksi antar komputer melalui sebuah jaringan. Umumnya jaringan komputer sudah menjadi kebutuhan dasar jika sebuah institusi memiliki banyak komputer. Dengan dibuatkan jaringan seperti LAN akan banyak manfaat yang diperoleh. Institusi tersebut akan dapat membangun berbagai sistem informasi yang berkaitan dengan tugas sehari-hari. Pemindahan data lebih cepat dapat dilakukan. Jaringan LAN juga meningkatkan efisiensi pengunaan internet.

c. Memudahkan akses informasi dari dan ke Internet. Institusi yang bersangkutan dapat mengirimkan informasi yang dimiliki ataupun mencari informasi terkait dengan pelajaran, pengembangan sekolah dan sebagainya. Dengan demikian koneksi internet memberikan banyak manfaat bagi kegiatan sekolah dan tentunya dengan pertimbangan bahwa internet adalah pisau bermata dua. Di satu sisi jika penggunaannya bijak, internet akan memberikan bantuan yang sangat berharga bagi pelaksanaan pembelajaran dan kegiatan lain di sekolah. Disisi lain internet dapat juga memberikan informasi yang berbau sara atau pornografi. Maka dari itu diperlukan pengawasan dan pembatasan terhadap akses internet dari TIK tersebut. Internet adalah ibarat sebuah perpustakaan dan sumber data. Selain itu internet juga sebagai alat komunikasi dengan pihak luar yang berkepentingan melalui e-mail.

d. Media bantu guru dalam menyajikan materi pembelajaran. Dalam menyajikan suatu topik atau materi tertentu yang cakupannya cukup luas dan memerlukan pengalaman belajar yang cukup banyak yang tidak sesuai dengan tersedianya waktu pembelajaran, guru dapat menggunakan fasilitas TIK terutama komputer dan LCD-Proyektornya dalam mempresentasikan materi pelajarannya, sehingga pengalaman pebelajar diharapkan menjadi bertambah dan terkonstruk dalam pola pikir pebelajar. Dengan demikian tekonologi merupakan suatu alat yang sangat efektif untuk meningkatkan kemampuan pembelajaran di kelas.

3.4 Penghambat Penerapan TIK di Sekolah

Kurang efektifnya penggunaan fasilitas TIK di sekolah diakibatkan oleh berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut merupakan kendala yang perlu segera ditangani. Penangannya pun tidak mudah dilakukan, seperti mencarikan sarana baru dan mutahir, mencarikan tenaga handal dalam mengelolanya, ataupun memberikan pelatihan-pelatihan terhadap pegawai dan guru pada sekolah yang bersangkutan. Beberapa dari hal itu memang benar-benar telah dilakukan, namun belum menunjukan hasil yang diharapkan atau signifikan. Secara rinci, beberapa faktor yang menjadi penyebab terganggunya penerapan TIK di sekolah adalah sebagai berikut.

1. Ketersedian dana. Pemerintah pusat maupun daerah, negeri maupun swasta yang inten terhadap dunia pendidikan telah banyak berkontribusi meningkatkan jumlah sarana TIK bagi sekolah. Walaupun demikian, tidak semua sekolah dapat menikmati dana tersebut. Dan terkesan seolah-olah diprioritaskan terhadap sekolah-sekolah unggul saja. Dengan demikian, sekolah-sekolah kecil dan berada di pedalaman akan semakin tidak kelihatan kemajuan dan merasakan manfaatnya dalam pengunaan TIK. Atau beberapa sekolah telah berusaha mengumpulkan dana untuk secara mandiri untuk membeli peralatan TIK walaupun secara kredit atau dibeli secara sedikit demi sedikit.

2. Ketersediaan sarana. Walaupun dana memadai untuk pengadaan sarana, namun sampai saat ini sarana yang ada kebanyakan sudah berumur usang sehingga sering bermasalah dan bahkan mengganggu pembelajaran. Karena masalah tersebut guru menjadi enggan untuk menggunakannya. Sekolah yang bagus setiap saat mampu mengupdate sarana yang dimilikinya sesuai dengan versi yang diperlukan. Sampai saat ini kebanyakan sekolah di satu sisi masih belum menyediakan ruangan khusus untuk peralatan TIK untuk digunakan oleh masing-masing guru secara bergiliran, walaupun mereka telah memiliki laboratorium komputer. Jadi dalam hal ini minimal diperlukan dua ruangan untuk peralatan TIK. Satu ruangan khusus untuk kegiatan pembelajaran multi media, dan satu ruangan khusus untuk pembelajaran TIK. Hal ini diperlukan mengingat jam mata pelajaran TIK di sekolah cukup pada seiring dengan banyaknya jumlah kelas.

3. Pengelolaan dan Maintenance. Peralatan (sarana) yang sudah disediakan juga memerlukan pengelolaan dan perawatan yang berkesinambungan sehingga dapat terhindar dari kerusakan lebih dini. Kerusakan dapat terhindarkan lebih dini jika pengguna (user) sarana tersebut juga memiliki pengetahuan tentang etika dari penggunaan TIK khusunya barang-barang elektronik. Dalam melalukan pengelolaan dan perawatan tersebut juga diperlukan tenaga ahli di bidangnya. Dengan demikian sarana yang ada akan bertahan sesuai dengan rekomendasi perusahaannya. Sampai saat ini di kebanyakan sekolah masih menggunkan beberapa stap pegawai atau guru sebagai pengelola laboratorium komputer, sehingga kalau terjadi kerusakan mereka memanggil tenaga ahli dari luar, dalam artian sekolah belum memiliki tenaga yang handal.

4. Sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki oleh suatu sekolah. Sampai saat ini masih banyak terlihat pegawai maupun guru yang masih gagap teknologi. Mereka kurang mampu beradaptasi dengan pesatnya kemajuan teknologi, khusunya teknologi yang dapat membantu kegiatan pembelajaran. Dengan adanya sarana ini tentunya para guru akan lebih mudah dalam memberikan pengalaman belajar pada pebelajarnya, yaitu dengan membuat inovasi-inovasi dalam pembelajaran. Namun kenyataannya mereka masih menggunakan metode lama yang nota bene adalah oriented books. Hal ini mengindikasikan bahwa mereka saja masih malas untuk membelajarkan dirinya dalam rangka mengikuti tuntutan jaman dalam rangka pemenuhan tugas-tugas mereka sebagai tenaga kependidikan.

Dari beberapa faktor tersebut yang menjadi kendala dan tantangan utama adalah masalah dana dan sumber daya manusianya. Hal ini didasari oleh asumsi sebaik dan seberapa besar anggaran dana yang ada jika tidak didukung oleh sumber daya manusia yang handal tidak akan mampu mengelola dan merawat sarana yang ada. Demikian juga sebalikanya, jika tersedia sumber daya manusia yang handal tetapi tidak didukung oleh sumber dana juga tidak akan mampu melakukan mintenance yang maksimal, sehingga peralatan juga tidak mampu dioperasikan secara optimal, apalagi secara maksimal.

BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan urain pada pembahasan, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.

1. Teknologi informasi dan komunikasi merupakan sarana mutlak yang diperlukan oleh dunia pendidikan sekarang.

2. Dengan teknologi informasi dan komunikasi, para pelaku pendidikan dapat meingkatkan improvisasi, kreasi, dan inovasi dalam pembelajaran.

3. Peranan teknologi informasi dan komunikasi sebagai e-electronic dan e-media searah dengan kebutuhan dunia pendidikan yang berupa e-education.

4. Dalam menunjang kegiatan pembelajaran, teknologi informasi dan komunikasi mendukung sarana pembelajaran di laboratorium komputer, mendukung koneksi antar komputer melalui sebuah jaringan, memudahkan akses informasi dari dan ke internet, serta membantu guru dalam menyajikan materi pembelajaran.

5. Faktor-faktor yang menjadi penghambat penerapan TIK di sekolah adalah kurangnya pendanaan, tidak tersedianya sarana yang memadai dan tenaga ahli yang mampu mengelolanya.

Saran

Dari uraian permasalahan dan pembahasan, ada beberapa saran yang disampaikan dalam kesempatan ini. Saran tersebut antara lain:

1. kepada masyarakat luas hendaknya mengikuti perkembangan teknologi khususnya teknologi informasi dan komunikasi dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan kesejahteraan hidupnya,

2. kepada pelaku-pelaku pendidikan hendaknya lebih mempersiapkan diri dalam usaha menguasai pengetahuan teknologi informasi dan komunikasi,

3. kepada sekolah-sekolah yang belum memenuhi syarat dan standar kepemilikan sarana teknologi informasi dan komunikasi, hendaknya mulai membenah diri,

4. kepada pihak yang berkompeten, perlu kiranya diadakan penelitian lebih jauh tentang peranan TIK dalam menunjang pembelajaran.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Metode Project Based Learning (PBL) dalam Mata Diklat KKPI Pengintegrasian TIK dalam Beberapa Improvisasi KBM. Internet. Diakses tanggal 24 November 2008 pada http://endahgf.blogspot.com/2007/09/metode-project-based-learning-pbl-dalam.html.

Anonim. 2008. Peran Teknologi dalam Pendidikan. Internet. Diakses tanggal, 24 November 2008 pada http://www.bloggaul.com/yannugrohosaleh/readblog/82784/ peran-teknologi-dalam-pendidikan.

Daunsalam, 2008. Kerangka Dasar Penerapan Teknologi Informasi di Sekolah. Artikel (tidak diterbitkan).

Santyasa. 2008. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Sains Bermuatan Peta Konsep dan Model Perubahan Konseptual serta Pengaruhnya terhadap Penalaran Siswa. Usulan Penelitian Hibah Penelitian Tim Pascasarjana (tidak diterbitkan). Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.

Winisudarwati. 2008. Penerapan Teknologi Informasi di Sekolah melalui E-Liblary. Makalah (tidak diterbitkan). Disajikan dalam pelatihan jardiknas. Ciamis, Jawa Barat.


Selasa, 03 Maret 2009

Ramalan Sejarah Dunia

RAMALAH TAHUN 2012

(KALENDER BANGSA MAYA)

TRANSISI PEREMAJAAN BUMI DAN ALAM SEMESTA


EKA SULANTARA, I MADE

KATA PENGANTAR

Berdasaskan filosofi, bangsa Maya berarti bangsa yang tidak jelas (misterius) muncul dan lenyapnya tidak diketahui. Bangsa Maya memiliki kemampuan yang luar biasa dan bahkan di luar logika manusia yang ada pada saat ini (abab 21). Mereka mampu mengetahui dan membuat catatan-catatan seputar perjalanan manusia, bumi, dan alam semesta. Maka dari itu, mereka dapat disetarakan dengan para Resi, Para Nabi, dan Malaikat yang menerima wahyu dari Sang Pencipta untuk umat manusia. Sang Pencipta menurunkan wahyu (sabda) di beberapa tempat melalui orang-orang suci dalam waktu dan zaman yang berbeda, yang disesuaikan dengan kondisi manusia, bumi, dan alam semesta pada saat itu. Berdasarkan kondisi itu, diketahuilah ada zaman Weda, zaman Budha, zaman Yesus, zaman Nabi dan sebagainya. Kitab-kitab suci diturunkan untuk memberi petuah dan petunjuk pada manusia. Salah satu sisa yang memang untuk reflektif bagi manusia adalah peninggalan Kalender Maya, yang pada intinya menyatakan bumi dan alam semesta akan mengalami pemurnian (pembersihan dari hal-hal yang kotor dan buruk) baik secara fisik maupun psikis/metafisik yang berlangsung dan memerlukan waktu lama dan pasti (evolusi).

Peninggalan pada kalender tersebut menyatakan pada tahun 2012, tepatnya tanggal, 12 Desember akan terjadi “End of Time” dalam artian luas. Dunia dan waktu seakan-akan berhenti sejenak untuk memasuki masa yang baru, seperti seorang atlit yang mengambil persiapan start (ancang-ancang) sebelum lari. Setelah memasuki zaman tersebut manusia akan kembali memiliki kemampuan ke-Tuhanan, seperti dapat berkomunikasi dengan pikiran (telepati) dan berpindah dalam jarak jauh bahkan sampai lintas planet (telekinesis). Hal ini setara dengan zaman yang diuraikan pada kitab Suci Weda. Disebutkan ada 4 zaman, yaitu kreta, duapara, yuda, dan kali. Zaman kerta semua kehidupan selaras, manusia bicara dengan tumbuhan dan binatang. Mereka hidup berdampingan tanpa ada kekerasan dan perselisihan. Sekarang adalah zaman kali yang dicirikan dengan kekacauan di seantero jagat dan di segala bidang. Semoga zaman ini berakhir dan kembali ke zaman kerta seperti yang tersurat dalam kitab suci Weda dan tersirat pada kalender bangsa Maya. Manusia yang bijak akan kembali ke Tuhan dan menjadi pembimbing (malaikat) bagi manusia lainnya yang kurang bijak. Manusia yang kurang bijak, serakah, dan sejenisnya akan menerima wejangan manusia bijak untuk sama-sama kembali ke asal, yaitu sang pencipta. Yang tidak mau mengikuti/kembali, akan menerima dan menjalani kehidupan berulang-ulang di suatu planet tertentu (mungkin di luar bumi) sesuai dengan perilakuknya, dan tentunya hal ini juga terkait dengan konsep sorga dan neraka.

Tulisan ini hanyalah sebuah pemabah untuk bisa direnungkan dan dihayati lebih jauh. Tentunya tiada gading yang tidak retak, maka dari itu mari bersama-sama membangun pengetahuan, saling mengisi, dan saling menumbuhkan rasa mempercayai segala sesuatu di luar logika yang tentunya dapat dinalar dan kasat mata oleh pemahaman Sang Waktu. Akhir kata semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca.

Tindak Lanjut:

Kenapa alam semesta ini mengalami pemurnian?

Kalender Bangsa Maya Menyingkap Peristiwa Besar

Dalam kalender bangsa Maya, diramalkan bahwa pada periode 1992-2012 Bumi akan dimurnikan, selanjutnya peradaban manusia sekarang ini akan berakhir dan mulai memasuki peradaban baru. Dalam sejarah peradaban kuno dunia, bangsa Maya bagaikan turun dari langit, mengalami zaman yang cemerlang, kemudian lenyap secara misterius. Mereka menguasai pengetahuan tentang ilmu falak yang khusus dan mendalam, sistem penanggalan yang sempurna, penghitungan perbintangan yang rumit serta metode pemikiran abstrak yang tinggi. Kesempurnaan dan akurasi daripada penanggalannya membuat orang takjub!

Sekelompok masyarakat yang misterius ini tinggal di wilayah Selatan Mexico sekarang (Yucatan) Guatemala, bagian utara Belize dan bagian barat Honduras. Banyak sekali piramid, kuil dan bangunan-bangunan kuno yang dibangun oleh bangsa Maya yang masih dapat ditemui di sana. Banyak juga batu-batu pahatan dan tulisan-tulisan misterius pada meja-meja yang ditinggalkan mereka. Para arkeolog percaya bahwa Maya mempunyai peradaban yang luar biasa. Hal itu bisa dilihat dari peninggalannya seperti buku-bukunya, meja-meja batu dan cerita-cerita yang bersifat mistik.

Tetapi sayang sekali buku-buku mereka di perpustakaan Mayan semuanya sudah dibakar oleh tentara Spanyol ketika menyerang sesudah tahun 1517. Hanya beberapa tulisan pada meja-meja dan beberapa sistem kalender yang membingungkan tersisa sampai sekarang.

Seorang sejarawan Amerika, Dr. Jose Arguelles mengabdikan dirinya untuk meneliti peradaban bangsa ini. Ia mendalami ramalan Maya yang dibangun di atas fondasi kalender yang dibuat bangsa itu, di mana prediksi semacam ini persis seperti cara penghitungan Tiongkok, ala Zhou Yi. Kalendernya, secara garis besar menggambarkan siklus hukum benda langit dan hubungannya dengan perubahan manusia. Dalam karya Arguelles, The Mayan Factor: Path Beyond Technology yang diterbitkan oleh Bear & Company pada 1973, disebutkan dalam penanggalan Maya tercatat bahwa sistem galaksi tata surya kita sedang mengalami The Great Cycle’ (siklus besar) yang berjangka lima ribu dua ratus tahun lebih. Waktunya dari 3113 SM sampai 2012 M.

Dalam siklus besar ini, tata surya dan Bumi sedang bergerak melintasi sebuah sinar galaksi (galatic beam) yang berasal dari inti galaksi. Diameter sinar secara horizontal ini ialah 5125 tahun Bumi. Dengan kata lain, kalau Bumi melintasi sinar ini akan memakan waktu 5125 tahun lamanya.

Orang Maya percaya bahwa semua benda angkasa pada galaksi setelah selesai mengalami reaksi dari sinar galaksi dalam siklus besar ini, akan terjadi perubahan secara total, orang Maya menyebutnya, penyelarasan galaksi (Galatic Synchronization).

Siklus besar ini dibagi menjadi 13 tahap, setiap tahap evolusi pun mempunyai catatan yang sangat mendetail. Arguelles dalam bukunya itu menggunakan banyak sekali diagram-diagram untuk menceritakan kondisi evolusi pada setiap tahap. Kemudian setiap tahap itu dibagi lagi menjadi 20 masa evolusi. Setiap masa itu akan memakan waktu 20 tahun lamanya.

Dari masa 20 tahun antara tahun 1992-2012 itu, Bumi kita telah memasuki tahap terakhir dari fase Siklus Besar, bangsa Maya menganggap ini adalah periode penting sebelum masa Pra-Galatic Synchronization, mereka menamakannya: The Earth Regeneration Period (Periode Regenerasi Bumi). Selama periode ini Bumi akan mencapai pemurnian total. Setelah itu, Bumi kita akan meninggalkan jangkauan sinar galaksi dan memasuki tahap baru: penyelarasan galaksi.

Pada 31 Desember 2012 akan menjadi hari berakhirnya peradaban umat manusia kali ini, dalam perhitungan kalender Maya. Sesudah itu, umat manusia akan memasuki peradaban baru total yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan peradaban sekarang. Pada hari itu, tepatnya musim dingin tiba, matahari akan bergabung lagi dengan titik silang yang terbentuk akibat ekliptika (jalan matahari) dengan ekuator secara total. Saat itulah, matahari tepat berada di tengah-tengah sela sistem galaksi, atau dengan kata lain galaksi terletak di atas Bumi, bagaikan membuka sebuah “Pintu Langit” saja bagi umat manusia.

Dalam perhitungannya, bangsa Maya tidak menyinggung tentang apa penyebab peradaban kali ini berakhir. Ada sedikit yang kelihatannya jelas, bahwa berakhirnya hari itu’ sama sekali bukan berarti malapetaka apa yang datang menghampiri, melainkan mengisyaratkan kepada seluruh umat manusia akan adanya transisi dalam kesadaran dan spiritual kosmis, selanjutnya masuk ke peradaban baru.

Tahun 755 M, seorang rahib Maya pernah meramal, setelah tahun 1991 kemudian, akan ada dua peristiwa penting terjadi pada manusia yaitu kebangkitan kesadaran, dan pemurnian Bumi serta regenerasinya.

Mulai 1992, Bumi memasuki apa yang oleh bangsa Maya disebut “Periode Regenerasi Bumi”. Pada periode ini, Bumi dimurnikan, termasuk juga hati manusia (ini hampir mirip ramalan orang Indian Amerika Utara terhadap orang sekarang ini), substansi yang tidak baik akan disingkirkan, dan substansi yang baik dan benar akan dipertahankan, akhirnya selaras dengan galaksi (alam semesta), ini adalah singkapan misteri dari gerakan sistem galaksi kita yang diperlihatkan oleh bangsa Maya.

Dari titik pandang ilmu pengetahuan umat manusia sekarang, hal itu benar-benar tidak dapat dipercaya. Mungkin saja bangsa Maya sedang membicarakan tentang Galaksi Bima Sakti (Milky Way), yang mana ilmu pengetahuan dan teknologi kita belum juga sampai ke solar sistem, seperti pepatah orang Tionghoa mengatakan “serangga di musim panas tidak dapat menjelaskan es di musim dingin”. Fenomena kosmik yang diperlihatkan oleh kalender Maya adalah benar-benar berharga dari suatu penyelidikan yang serius oleh umat manusia sekarang ini.

Mungkin sudah diatur, bahwa kalender Maya tidak hilang dalam sejarah manusia, dan harus diuraikan dengan kode oleh manusia sekarang. Namun ia tetap saja harus dilihat, apakah umat manusia yang terpesona oleh konsepsinya yang terbentuk sesudah kelahiran dapat menembus batas-batas untuk mengingatkan dan memahami kebenaran yang melampaui sistem pengetahuan kita.

Walahu ‘alam

Sumber Data :

http://altzone.blogspot.com/2005/08/bangsa-maya-menyingkap-peristiwa-besar.html

Filed under: Ensiklopedia

http://teguhimanprasetya.wordpress.com/2008/09/05/ramalan-bangsa-maya/

Ramalan Bangsa Maya mengatakan : Akhir dunia akan ditandai dengan perselisihan dan perang nuklir.

Dalam Berbagai Ajaran Agama, semua yang bermula pasti akan berakhir. Seperti halnya ada siang akan diikuti oleh malam, adanya sehat pasti akan diikuti datangnya sakit dan adanya sifat jahat pasti akan diimbangi oleh kebaikan. Tinggal bagimana kita menyikapi semua hal tersebut untuk tetap menjaganya sesuai dengan kehidupan seperti apa yang kita inginkan.

Ada sebuah cerita dan ramalan menarik yang dapat diambil dari setiap ajaran agama dan ramalan para ahli sufi. Dalam mitos-mitos kuno, setiap masa atau kaum memiliki era dan kepercayaan bagimana dunia akan berakhir. Namun disetiap waktunya ramalan tersebut menjadi satu hal yang patut diperhitungkan dan mana yang benar. Menurut para ahli arkeolog, Ramalan Nostradamus dan Para Sufi Bangsa Mayalah yang paling tersohor.

Kalender Bangsa Maya hingga saat ini disebutkan adalah kalender yang paling akurat yang pernah ada di bumi. Sudah banyak kejadian dan fenomena mereka kumpukan dan diterangkan dalam sebuah simbol-simbol dan karakter untuk meramal kehidupan budaya dan akhir jaman. Salah satunya perhitungan kalender menyebutkan bahwa tepatnya tanggal 21 Desember 2012, merupakan “End of Times”. Maksud kata ini masih banyak diperdebatkan oleh para ilmuwan dan arkeolog namun makna tersebut salah satunya dimaknai sebagai berakhirnya kehidupan manusia di bumi.

Seperti mengingat kisah nabi Nuh (Noah), pada saat itu, seluruh kehidupan manusia telah musnah. Akibat sebuah bencana yang disebut karena azab, hanya umat nabi Nuh yang hidup dan selamat. Tidak hanya sekali itu, menurut catatan sejarah telah sebanyak 81 kali kehidupan dibumi membuat seperti siklus. Kehidupan satu muncul dan kehidupan lainnya dihancurkan. Akankah kehidupan manusia di lima tahun mendatang musnah? ”Ketika ramalan demi ramalan saya artikan tersembunyi sebuah makna bahwa perang dunia ketiga akan segera terjadi,” kata Doktor Michael Ratherford seoarang arkeolog yang mempelajari manuskrip Nostradamus sejak 1975. Selanjutnya kisah yang ia tangkap dari ramalan tersebut ditulisnya dalam bentuk buku yang berjudul The Nostradamus Code: World War III.

Tumpukan manuskrip yang ditulis oleh Michel de Nostradame, atau lebih dikenal Nostradamus (1503-1566) itu ditemukan oleh anggota dari Italian National Library di Roma. Temuan besar pada Mei 2005 tersebut memberikan makna yang lebih besar sekarang dengan sebutan The Nostradamus Code. Untuk memahaminya, Ratherford menggunakan sebuah teknik analisa seni dan bilangan alogaritma. Data yang dihasilkan dapat dianalisis dalam waktu 10 menit. Dalam buku disebutkan permusuhan dan perkelahian akan berkecamuk dan perang dunia ketiga akan terjadi.

Salah satu terpanas yang saat ini sedikit menyinggung dan benar-benar menjadi tanda dibahas dalam BAB empat buku tersebut. BAB tersebut membahas kapan waktu permasalahan timbul. Dalam syair ke 3 dan 4 Nostradamus Code menyebutkan pada abad ke 20 perselisihan akan banyak terjadi. Pemimpin yang gila meluncurkan bom nuklir ke daerah Mediterania dan Eropa. Selama periode kegelisahan tersebut pemimpin negara di Timur Tengah mampu mendapatkan senjata nuklir. Dia kemudian melakukan sesuatu hal yang kecil dan tidak akan ragu lagi menggunakan senjata untuk peperangan.

Selain itu dalam syair ke 67 disebutkan sumber bencana seperti gunung api, gempabumi, banjir dan musim kekeringan akan semakin dirasakan oleh seluruh umat manusia. Bencana-bencana tersebut akan menyebabkan pertikaian semakin besar dan konflik sosial semakin parah. Amerika disebutkan akan mengalami kondisi yang paling parah terhadap bencana alam seperti gempabumi dan banjir. Pada waktu itu kondisinya akan penuh konflik, keputusasaan dan kesengsaraan. Akibat bencana yang besar tersebut Amerika akan Bangkrut dan struktur politik serta sosialnya melemah.

Tanda lain yang disebutkan dalam syair ke 23 dan 81 disebutkan bahwa kepercayaan anti terhadap keberadaan Tuhan akan kembali meningkat di Timur Tengah. Kepercayaan ini kemudian akan merambah keberbagai penjuru seperti Eropa, dan Wilayah Mediterania. Tanda lainnya adalah untuk negara ke tiga dunia, para pemimpinnya akan saling berselisih. Selain itu masih banyak lagi sumber masalah yang menjadi tanda perang dunia ke tiga untuk menuju akhir dunia.

”Rangkuman dalam buku ini hampir sama penggambarannya seperti dalam kepercayaan Tuhan yang terangkum di umat nabi Musa, di Injil atau Islam,” kata Ratherford. Dalam sampel buku yang diterbitkannya tersebut ia tidak menyebutkan apakah Nostradamus menyebutkan waktu akhir dunia seperti bangsa Maya atau tidak. Namun setiap BAB yang diterangkannya bahwa keterangan kapan akhir dunia ini akan terjadi sudah sangat dekat.

Pemusnahan Berkali-kali. Didalam beberapa mitologi-mitologi kuno bahwa bumi ini pernah dilanda banjir dahsyat yang mengerikan, hampir semua peradaban-peradaban zaman dulu ada cerita tentang bencana yang satu ini, misalnya diantara lebih dari 130 suku Indian di Benua Amerika hampir tidak ada suku yang tidak memitoskan banjir dahsyat sebagai topik.

Mari ingat Kisah Nabi Nuh (Noah). Dikisahkan didalam Al-Qur’an maupun Bible, bahwa seluruh peradaban manusia pada saat itu musnah, terkecuali bagi orang-orang yang percaya pada ajaran Tuhan yang disampaikan oleh Nabi Nuh yang selamat dari bencana air bah yang maha dahsyat itu.

Di sekitar pedalaman kaki Gunung Himalaya, Tibet misalnya, orang-orang menjumpai sebuah suku, keturunan dan rupa mereka hampir mirip dengan orang Yunani. Konon katanya, mereka adalah orang-orang yang beruntung masih hidup atas peristiwa banjir yang dahsyat itu.

Pada tahun 1986, kantor berita pemerintah Turki menyatakan bahwa 5.200 meter di atas permukaan laut puncak gunung (Ararat), telah ditemukan sebuah benda yang mirip dengan perahu Nabi Nuh yang berbentuk persegi empat, lalu mengambil gambarnya dari angkasa, dan panjang perahunya sesuai dengan yang dicatat dalam kitab suci.

Adalah sebuah artikel menarik, menurut penuturan dari Master Li Hongzhi (pendiri Falun Gong/Falun Dafa) dalam buku Zhuan Falun Ceramah I halaman 22. Beliau menuturkan bahwa peradaban dimuka bumi ini setidaknya telah dihancurkan kurang lebih sebanyak 81 kali mengalami kemusnahan total.

Lalu kenapa manusia bisa mengalami bencana itu? Mitologi dari setiap negara mempunyai penjelasan yang sama terhadap hal ini. Semua ini dikarenakan kemerosotan dan kebejatan manusia, lalu Sang Penguasa Alam Semesta memutuskan untuk menghukum manusia.

Dikisahkan pada zaman nabi-nabi terdahulu, ada yang disebut sebagai zaman edan dan zaman fitrah kembali, sehabis zaman edan akan kembali lagi ke zaman fitrah sampai saatnya tiba alam semesta ini benar-benar akan dihancurkan secara keseluruhan.

Ketika suatu zaman dimana manusia telah menunjukkan kemerosotan moral yang luar biasa (zaman edan), Sang Pencipta memutuskan untuk mengakhiri peradaban tersebut dengan mengirimkan beberapa bencana besar yang akhirnya mengakhiri kehidupan dimuka bumi pada saat itu.

Hanya beberapa oranglah yang disisakan untuk memulai peradaban baru selanjutnya. Pada waktu peradaban baru ini lahir, hati orang-orang yang berhasil terselamatkan tersebut kembali dalam keadaan bersih/fitrah (setelah bertobat) karena telah disadarkan oleh rentetan bencana mengerikan yang menimpanya dimasa silam.

Pada saat ini, dimana tanda-tanda zaman edan telah dapat terlihat dengan begitu jelas, mungkin kembali saatnya peradaban pada saat ini harus kembali diakhiri, dan akan digantikan dengan sebuah peradaban baru yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan peradaban sebelumnya. (mungkin manusia-manusia yang akan datang akan mengenal sisa-sisa peradaban kita sebagai sebuah peradaban maju yang hilang ditelan masa, seperti halnya kisah mengenai peradaban Atlantis dan Lemuria yang tenggelam dimasa silam).

Tahun 2012 Bumi akan dihancurkan kembali?

Pada sistem penanggalan didalam Kalender Bangsa Maya/Maya Calendar yang merupakan kalender paling akurat hingga kini yang pernah ada di bumi. (Perhitungan Maya Calendar dari 3113 SM sampai 2012 M), mereka (Bangsa Maya) menyatakan pada tahun 2012, tepatnya tanggal 21 Desember 2012, merupakan “End of Times”. Maksud dari “End of Times” itu sendiri masih diperdebatkan oleh para ilmuwan dan arkeolog.

Ada yang menyatakan bahwa maksudnya adalah :

1. Berhentinya waktu (bumi berhenti berputar)

2. Peralihan dari Zaman Pisces ke Aquarius

3. Peralihan dari Abad Silver ke Abad keemasan

4. End of Times = End of the World as we know it

5. Akan ada sebuah galactic Wave yang besar, yang memberhentikan semua kegiatan di muka bumi ini, termasuk kemusnahan manusia

6. Perubahan dari dimensi 3 ke dimensi 4, bahkan 5

7. Kehidupan manusia meningkat dari level dimensi 3, ke 4, DNA manusia meningkat dari strain 2 ke 12, sehingga manusia dapat menggunakan telepati bahkan telekinesis

8. Ada yang menyatakan tidak akan terjadi apa-apa

9. Ada yang menyatakan waktu sudah tidak akan berlaku, jadi waktu tidak linear, tetapi bisa berubah-ubah, sesuai dengan waktu yang kita alami, karena ditemukannya mesin waktu

10. Ditemukannya mesin waktu dan stargate

11. Manusia sudah dapat melakukan transportasi ke galaxi lain, melalui stargate

12. Bangkitnya messiah, yang akan menyelamatkan manusia dari kehancuran

13. Kebangkitan Isa AS / Jesus

14. First Contact pertama kali peradaban manusia dengan Alien/UFO

15. Manusia bergabung dengan komunitas antar galaxi pertama kali, manusia = galaxy being.

Seperti ceritera sebelumnya, dalam kalender bangsa Maya yang sangat tersohor itu, diramalkan bahwa pada periode 1992-2012 bumi akan “dimurnikan”, selanjutnya peradaban manusia sekarang ini akan berakhir dan mulai memasuki peradaban baru.

Dalam sejarah peradaban kuno dunia, bangsa Maya dikenal menguasai pengetahuan tentang ilmu falak yang khusus dan mendalam, sistem penanggalan yang sempurna, penghitungan perbintangan yang rumit serta metode pemikiran abstrak yang tinggi. Kesempurnaan dan akurasi dari pada penanggalannya membuat orang takjub.

Sekelompok masyarakat yang misterius ini tinggal di wilayah selatan Mexico sekarang (Yucatan) Guetemala, bagian utara Belize dan bagian barat Honduras. Banyak sekali pyramid, kuil dan bangunan-bangunan kuno yang dibangun oleh Maya yang masih dapat ditemui di sana. Banyak juga batu-batu pahatan dan tulisan-tulisan misterius pada meja-meja yang ditinggalkan mereka.

Para arkeolog percaya bahwa Maya mempunyai peradaban yang luar biasa. Hal itu bisa dilihat dari peninggalannya seperti buku-bukunya, meja-meja batu dan cerita-cerita yang bersifat mistik. Tetapi sayang sekali buku-buku mereka di perpustakaan Maya semuanya sudah dibakar oleh tentara Spanyol ketika menyerang sesudah tahun 1517. Hanya beberapa tulisan pada meja-meja dan beberapa system kalender yang membingungkan tersisa sampai sekarang.

Seorang sejarahwan Amerika, Dr. Jose Arguelles mengabdikan dirinya untuk meneliti peradaban bangsa ini. Ia mendalami ramalan Maya yang dibangun di atas fondasi kalender yang dibuat bangsa itu, dimana prediksi semacam ini persis seperti cara penghitungan Tiongkok, ala Zhou Yi. Kalendernya, secara garis besar menggambarkan siklus hukum benda langit dan hubungannya dengan perubahan manusia.

Dalam karya Arguelles, The Mayan Factor: Path Beyong Technology yang diterbitkan oleh Bear & Company pada 1973, disebutkan dalam penanggalan Maya tercatat bahwa sistim galaksi tata surya kita sedang mengalami ‘The Great Cycle’ (siklus besar) yang berjangka lima ribu dua ratus tahun lebih. Waktunya dari 3113 SM sampai 2012 M. Dalam siklus besar ini, tata surya dan bumi sedang bergerak melintasi sebuah sinar galaksi (Galatic Beam) yang berasal dari inti galaksi. Diameter sinar secara horizontal ini ialah 5125 tahun bumi. Dengan kata lain, kalau bumi melintasi sinar ini akan memakan waktu 5125 tahun lamanya.

Orang Maya percaya bahwa semua benda angkasa pada galaksi setelah selesai mengalami reaksi dari sinar galaksi dalam siklus besar ini, akan terjadi perubahan secara total. Orang Maya menyebutnya, penyelarasan galaksi (Galatic Synchronization). Siklus besar ini dibagi menjadi 13 tahap, setiap tahap evolusi pun mempunyai catatan yang sangat mendetail. Arguelles dalam bukunya itu menggunakan banyak sekali diagram-diagram untuk menceritakan kondisi evolusi pada setiap tahap. Kemudian setiap tahap itu dibagi lagi menjadi 20 masa evolusi. Setiap masa itu akan memakan waktu 20 tahun lamanya.

Dari masa 20 tahun antara tahun 1992-2012 itu, bumi kita telah memasuki tahap terakhir dari fase Siklus Besar, bangsa Maya menganggap ini adalah periode penting sebelum masa pra-Galatic Synchronization, mereka menamakannya: The Earth Generetion Priod (Periode Regenerasi Bumi). Selama periode ini bumi akan mencapai pemurnian total. Setelah itu, bumi kita akan meninggalkan jangkauan sinar galaksi dan memasuki tahap baru: penyelarasan galaksi.

Pada 21 Desember 2012 akan menjadi hari berakhirnya peradaban umat manusia kali ini, dalam perhitungan kalender Maya. Sesudah itu, umat manusia akan memasuki peradaban baru total yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan peradaban sekarang. Pada hari itu, tepatnya musim dingin tiba, matahari akan bergabung lagi dengan titik silang yang terbentuk akibat ekliptika (jalan matahari) dengan ekuator secara total. Saat itulah, matahari tepat berada di tengah-tengah sela sistem galaksi, atau dengan kata lain galaksi terletak di atas bumi, bagaikan membuka sebuah “Pintu Langit” saja bagi umat manusia.

Mulai 1992, bumi memasuki apa yang oleh bangsa Maya disebut ‘Periode Regenerasi Bumi”. Pada periode ini, Bumi dimurnikan, termasuk juga hati manusia, (ini hampir mirip ramalan orang Indian Amerika-Utara terhadap orang sekarang ini), subtansi yang tidak baik akan disingkirkan, dan substansi yang baik dan benar akan dipertahankan, akhirnya selaras dengan galaksi (alam semesta), ini adalah singkapan misteri dari gerakan sistem galaksi kita yang diperlihatkan oleh bangsa Maya.

Sejak tahun 1992 sampai 2012 nanti, bagaimana terjadi “pemurnian” dan bagaimana pula terjadi “regenerasi” pada bumi kita ini, tidak disebutkan secara detail oleh bangsa Maya. Dalam ramalan mereka pun tidak menyinggung tentang apa hal konkret yang memberikan semangat manusia untuk bangkit dari kesadaran dan bagaimana bumi mengalami permurnian, yang ditinggalkan oleh mereka kepada anak cucunya (barangkali tidak tercatat). Lantas, fenomena baru apa yang sudah bisa kita lihat sejak tahun 1992 sampai sekarang yang bisa kita kaitkan dengan ramalan bangsa Maya yang beradab itu?

Mungkin sudah diatur, bahwa kalender Maya tidak hilang dan sejarah manusia, dan harus diuraikan dengan kode oleh manusia sekarang. Namun ia tetap saja harus dilihat, apakah umat manusia yang terpesona oleh konsepsinya yang terbentuk sesudah kelahiran dapat menembus batas-batas untuk mengingatkan dan memahami kebenaran yang melampaui sistim pengetahuan kita.

Sebenarnya, jika ditinjau dari beberapa penelitian yang telah dilakukan saat ini. Memang pada beberapa dua dasawarsa belakangan ini, bumi sedang mengalami suatu siklus yang dinamakan pembalikan daya magnet kutub.

Pembalikan daya magnet kutub adalah proses yang terjadi pada waktu kutub utara dan kutub selatan saling bertukar posisi. Ketika ini terjadi, untuk beberapa saat medan magnet bumi mencapai Gauss nol, yang berarti bumi pada waktu itu punya daya magnet nol. Ketika ini terjadi bersamaan dengan perbalikan orbit sebelas tahunan kutub matahari, masalah besar akan terjadi.

Menurut perhitungan computer Hyderabad, pembalikan kutub Bumi dan Matahari dapat mengakibatkan masalah besar selain elektronik tidak bekerja dengan semestinya, burung yang bermigrasi kehilangan haluan, dan bermacam macam:

1. Sistem ketahanan tubuh semua hewan dan termasuk manusia akan banyak melemah.

2. Lapisan luar bumi akan mengalami pertambahan gunung berapi, pergerakan tektonik, gempa bumi, dan tanah longsor.

3. Medan magnet Bumi akan melemah dan radiasi alam semesta berasal dari matahari bertambah berlipat ganda mengakibatkan bahaya radiasi seperti kanker dan sebagainya tidak dapat dihindari.

4. Benda-benda angkasa akan tertarik masuk ke Bumi.

5. Daya gravitasi Bumi akan mengalami perubahan meskipun tidak diketahui bagaimana ia akan berubah.

Jika anda menambahkan semua skenario bencana yang mungkin terjadi, anda dapat dengan mudah mengatakan dengan kalimat sederhana ini, Bumi dapat menjadi tempat yang tidak cocok untuk ditinggali peradaban manusia pada 2012 ataupun mereka yang hidup dekat lapisan luar bumi. Hal ini mungkin saja dapat terjadi pada Mars jutaan tahun yang lalu.

Mungkin benar adanya apa yang dikatakan Bangsa Maya mengenai kehancuran perdaban manusia di tahun 2012 esok, hal tersebut tentunya dapat kita lihat dari sifat-sifat manusia zaman sekarang yang bagaimana moralnya, kelakuan telah sangat merosot dan alam-pun kelihatannya semakin tidak bersahabat dengan kita.

Di Indonesia sendiri seorang peramal mengatakan, “pada tahun 2012 nanti jumlah penduduk di Indonesia ini tinggal 40%”. Lalu ketika ditanya apa penyebabnya,dia menuturkan, “pada tahun itu sebuah bencana besar akan melanda Bumi secara Global, mungkin pada setiap negara nantinya hanya menyisakan 30%-40% kehidupan untuk kembali membangun kehidupan baru”.

Ramalan serupa juga diutarakan oleh Beberapa Biksu di Tibet yang terkenal dengan penguasaan clairvoyance-nya yang sangat baik. Mereka mengatakan pada awal tahun 2012 merupakan tahun paling mendebarkan bagi umat manusia di muka Bumi, dimana pada permulaan tahun, beberapa fenomena aneh akan banyak bermunculan. Namun dalam penutupnya, Para Biksu mengatakan Bumi akan terselamatkan oleh sebuah kekuatan besar yang melindungi mereka secara kasat mata, sehingga memungkinkan peradaban manusia tidaklah sepenuhnya musnah.

Pada 10 tahun belakangan ini Master Li Hongzhi mengajarkan prisip karakter alam semesta “Zhen-Shan-Ren” (Sejati-Baik-Sabar) yang berefek untuk memurnikan hati manusia dan alam ini. Dalam waktu singkat pengikut latihan kultivasi jiwa dan raga ini telah lebih mencapai dari 200 juta orang yang tersebar lebih di 60 negara. Melalui kultivasi yang terus menerus latihan ini dapat menyapai tujuan menggantikan sel-sel tubuh manusia dengan materi energi tinggi dengan meningkatkan moral manusia sesuai dengan karakter alam semesta.

Tidak ada seorangpun yang bisa meramalkan kapan tepatnya kiamat itu datang. Tapi dilain sisi, akan ada regenarasi suatu peradaban yang diramalkan para Orang Bangsa Maya ditahun 2012 nanti. Ini bukanlah suatu kehancuran Alam semesta secara keseluruhan (Jadi belum bisa diartikan kiamat yang sebenarnya), mungkin nantinya secuil para manusia-manusia yang terselamatkan dari bencana akan kembali membangun tonggak peradaban baru yang lebih baik dan lebih bermoral daripada kita.

http://aindra.blogspot.com/2007/09/ramalan-suku-maya.html

Pustaka

http://aindra.blogspot.com/2007/09/ramalan-suku-maya.html

http://altzone.blogspot.com/2005/08/bangsa-maya-menyingkap-peristiwa-besar.html

Sabtu, 28 Februari 2009

Benarkah Bumi Kiamat?

Kurikulum Indonesia

Wednesday, October 29, 2008
STANDAR ISI, STRUKTUR KURIKULUM SD/MI
Drs, Edy Maryanto,M.M
THE EDY MARYANTO CENTER
CENTER OF EXCELENT
KONSULTASI BISNIS PENDIDIKAN
DELAPAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
1. STANDAR ISI
2. STANDAR PROSES
3. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN
4. STANDAR PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
5. STANDAR SARANA DAN PRASARANA
6. STANDAR PENGELOLAAN
7. STANDAR PEMBIAYAAN
8. STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN
STANDAR ISI
1.KERANGKA DASAR DAN STRUKTUR KURIKULUM
2.BEBAN BELAJAR
3.KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
4.KALENDER PENDIDIKAN
1. KERANGKA DASAR & STRUKTUR KURIKULUM
KELOMPOK MATA PELAJARAN AGAMA DAN AKHLAK MULIA
KELOMPOK MATA PELAJARAN KEWARGANEGARAAN DAN KEPRIBADIAN
KELOMPOK MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
 KELOMPOK MATA PELAJARAN ESTETIKA
KELOMPOK MATA PELAJARAN JASMANI, OLAH RAGA, DAN KESEHATAN

STRUKTUR KURIKULUM SD/MI
(tabel belum diposting)
PENGEMBANGAN DIRI
*)ekivalen 2 jam pembelejaran Bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, bakat, minat, dan kondisi masing-masing peserta didik. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/atau dibimbing oleh guru, konselor, atau tenaga kependidikan.

2. BEBAN BELAJAR
BEBAN BELAJAR MENGGUNAKAN JAM PEMBELAJARAN SETIAP MINGGU SETIAP SEMESTER DENGAN:
1) SISTEM TATAP MUKA
{@ 35 (SD), 40 (SMP). 45 (SMA) menit},
2) PENUGASAN TERSTRUKTUR &
3) KEGIATAN MANDIRI TIDAK TERSTRUKTUR
2) + 3) maks 60% waktu tatap muka
BEBAN BELAJAR
KEGIATAN TATAP MUKA KESELURUHAN
(tabel belum diposting)

3. KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
SEKOLAH DAN KOMITE SEKOLAH MENGEMBANGKAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN DAN SILABUSNYA BERDASARKAN:
KERANGKA DASAR KURIKULUM, DAN
STANDAR KOMPETENSI,
DI BAWAH SUPERVISI DINAS KAB/KOTA (SD, SMP, PAKET A & B),
DAN/ATAU DINAS PROVINSI (SMA, SMK, PLB, PAKET C)

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN DIKEMBANGKAN SESUAI DENGAN:
SATUAN PENDIDIKAN,
POTENSI DAERAH/ KARAKTERISTIK DAERAH,
SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT SETEMPAT, &
 PESERTA DIDIK

Kurikulum Indonesia

Wednesday, October 29, 2008
STANDAR ISI, STRUKTUR KURIKULUM SD/MI
Drs, Edy Maryanto,M.M
THE EDY MARYANTO CENTER
CENTER OF EXCELENT
KONSULTASI BISNIS PENDIDIKAN
DELAPAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
1. STANDAR ISI
2. STANDAR PROSES
3. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN
4. STANDAR PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
5. STANDAR SARANA DAN PRASARANA
6. STANDAR PENGELOLAAN
7. STANDAR PEMBIAYAAN
8. STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN
STANDAR ISI
1.KERANGKA DASAR DAN STRUKTUR KURIKULUM
2.BEBAN BELAJAR
3.KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
4.KALENDER PENDIDIKAN
1. KERANGKA DASAR & STRUKTUR KURIKULUM
KELOMPOK MATA PELAJARAN AGAMA DAN AKHLAK MULIA
KELOMPOK MATA PELAJARAN KEWARGANEGARAAN DAN KEPRIBADIAN
KELOMPOK MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
 KELOMPOK MATA PELAJARAN ESTETIKA
KELOMPOK MATA PELAJARAN JASMANI, OLAH RAGA, DAN KESEHATAN

STRUKTUR KURIKULUM SD/MI
(tabel belum diposting)
PENGEMBANGAN DIRI
*)ekivalen 2 jam pembelejaran Bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, bakat, minat, dan kondisi masing-masing peserta didik. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/atau dibimbing oleh guru, konselor, atau tenaga kependidikan.

2. BEBAN BELAJAR
BEBAN BELAJAR MENGGUNAKAN JAM PEMBELAJARAN SETIAP MINGGU SETIAP SEMESTER DENGAN:
1) SISTEM TATAP MUKA
{@ 35 (SD), 40 (SMP). 45 (SMA) menit},
2) PENUGASAN TERSTRUKTUR &
3) KEGIATAN MANDIRI TIDAK TERSTRUKTUR
2) + 3) maks 60% waktu tatap muka
BEBAN BELAJAR
KEGIATAN TATAP MUKA KESELURUHAN
(tabel belum diposting)

3. KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
SEKOLAH DAN KOMITE SEKOLAH MENGEMBANGKAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN DAN SILABUSNYA BERDASARKAN:
KERANGKA DASAR KURIKULUM, DAN
STANDAR KOMPETENSI,
DI BAWAH SUPERVISI DINAS KAB/KOTA (SD, SMP, PAKET A & B),
DAN/ATAU DINAS PROVINSI (SMA, SMK, PLB, PAKET C)

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN DIKEMBANGKAN SESUAI DENGAN:
SATUAN PENDIDIKAN,
POTENSI DAERAH/ KARAKTERISTIK DAERAH,
SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT SETEMPAT, &
 PESERTA DIDIK

Trik Menghadapi Ujian

Ketika kamu melakukan ujian, kamu sedang mendemonstrasikan kemampuanmu dalam memahami materi kuliah, atau dalam melakukan tugas-tugas tertentu. Bila kamu ragu terhadap kejujuran ujian, atau kredibilitas ujian tersebut untuk menguji kemampuanmu, temuilah
dosen pembimbingmu.
Ujian memberikan dasar evaluasi dan penilaian
terhadap perkembangan belajarmu.
Ada beberapa kondisi lingkungan,
termasuk sikap dan kondisimu sendiri, yang mempengaruhimu dalam melakukan ujian.
Sepuluh tips untuk membantu kamu dalam mengerjakan ujian:
• Datanglah dengan persiapan yang matang dan lebih awal.
Bawalah semua alat tulis yang kamu butuhkan, seperti pensil, pulpen, kalkulator, kamus, jam (tangan), penghapus, tip ex, penggaris, dan lain-lainnya. Perlengkapan ini akan membantumu untuk tetap konsentrasi selama mengerjakan ujian.
• Tenang dan percaya diri.
Ingatkan dirimu bahwa kamu sudah siap sedia dan akan mengerjakan ujian dengan baik.
• Bersantailah tapi waspada.
Pilihlah kursi atau tempat yang nyaman untuk mengerjakan ujian. Pastikan kamu mendapatkan tempat yang cukup untuk mengerjakannya. Pertahankan posisi duduk tegak.
• Preview soal-soal ujianmu dulu (bila ujian memiliki waktu tidak terbatas)
Luangkan 10% dari keseluruhan waktu ujian untuk membaca soal-soal ujian secara mendalam, tandai kata-kata kunci dan putuskan berapa waktu yang diperlukan untuk menjawab masing-masing soal. Rencanakan untuk mengerjakan soal yang mudah dulu, baru soal yang tersulit. Ketika kamu membaca soal-soal, catat juga ide-ide yang muncul yang akan digunakan sebagai jawaban.
• Jawab soal-soal ujian secara strategis.
Mulai dengan menjawab pertanyaan mudah yang kamu ketahui, kemudian dengan soal-soal yang memiliki nilai tertinggi. Pertanyaan terakhir yang seharusnya kamu kerjakan adalah:
o soal paling sulit
o yang membutuhkan waktu lama untuk menulis jawabannya
o memiliki nilai terkecil
• Ketika mengerjakan soal-soal pilihan ganda, ketahuilah jawaban yang harus dipilih/ditebak.
Mula-mulai, abaikan jawaban yang kamu tahu salah. Tebaklah selalu suatu pilihan jawaban ketika tidak ada hukuman pengurangan nilai, atau ketika tidak ada pilihan jawaban yang dapat kamu abaikan. Jangan menebak suatu pilihan jawaban ketika kamu tidak mengetahui secara pasti dan ketika hukuman pengurangan nilai digunakan. Karena pilihan pertama akan jawabanmu biasanya benar, jangan menggantinya kecuali bila kamu yakin akan koreksi yang kamu lakukan.
• Ketika mengerjakan soal ujian esai, pikirkan dulu jawabannya sebelum menulis.
Buat kerangka jawaban singkat untuk esai dengan mencatat dulu beberapa ide yang ingin kamu tulis. Kemudian nomori ide-ide tersebut untuk mengurutkan mana yang hendak kamu diskusikan dulu.
• Ketika mengerjakan soal ujian esai, jawab langsung poin utamanya.
Tulis kalimat pokokmu pada kalimat pertama. Gunakan paragraf pertama sebagai overview esaimu. Gunakan paragraf-paragraf selanjutnya untuk mendiskusikan poin-poin utama secara mendetil. Dukung poinmu dengan informasi spesifik, contoh, atau kutipan dari bacaan atau catatanmu.
• Sisihkan 10% waktumu untuk memeriksa ulang jawabanmu.
Periksa jawabanmu; hindari keinginan untuk segera meninggalkan kelas segera setelah kamu menjawab semua soal-soal ujian. Periksa lagi bahwa kamu telah menyelesaikan semua pertanyaan. Baca ulang jawabanmu untuk memeriksa ejaan, struktur bahasa dan tanda baca. Untuk jawaban matematika, periksa bila ada kecerobohan (misalnya salah meletakkan desimal). Bandingkan jawaban matematikamu yang sebenarnya dengan penghitungan ringkas.
• Analisa hasil ujianmu.
Setiap ujian dapat membantumu dalam mempersiapkan diri untuk ujian selanjutnya. Putuskan strategi mana yang sesuai denganmu. Tentukan strategi mana yang tidak berhasil dan ubahlah. Gunakan kertas ujian sebelumnya ketika belajar untuk ujian akhir.

Pembelajaran Bermakna Tipe STAD

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Kemajuan teknologi pada saat ini tidak lepas dari peran pendidikan, dan pendidikan merupakan bagian hakiki dari kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, masalah pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Masalah pendidikan seringkali menjadi topik perbincangan yang menarik dan hangat, baik di kalangan masyarakat luas, lebih-lebih lagi pakar pendidikan. Hal ini merupakan hal yang wajar karena semua orang berkepentingan dan ikut terlibat dalam proses pendidikan
Upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah telah lama dilakukan. Berbagai inovasi dan program pendidikan juga telah dilaksanakan oleh guru, antara lain penyediaan buku ajar atau diktat, memperbanyak frekuensi tugas, memberikan nilai plus kepada siswa yang aktif dalam proses pembelajaran mau pun penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS). Namun demikian berbagai indikator menunjukkan bahwa mutu pendidikan belum meningkat secara signifikan bahkan dapat dikatakan relatif rendah.
Bukanlah suatu pekerjaan yang mudah untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dicita-citakan oleh guru. Mengajarkan suatu bahan pelajaran dengan baik kepada siswa memerlukan pengorganisasian semua komponen pembelajaran. Ada beberapa komponen yang harus diperhatikan dan diterapkan dalam pembelajaran, diantaranya; materi/topik yang akan diajarkan, metode/strategi pembelajaran, pemanfaatan lingkungan, skemata siswa serta alat evaluasi.
Namun kenyataannya, dari hasil penelitian yang telah banyak dilakukan di sekolah-sekolah menunjukkan, sampai saat ini masih banyak guru yang belum bisa dan mampu menerapkan komponen-komponen pembelajaran (Yasa, 2007). Hal inilah yang menyebabkan proses pembelajaran yang terjadi maih bersifat teoritis dan berpusat pada guru (teacher centered). Dalam pembelajaran ini fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, hukum-hukum maupun teori-teori yang diterima siswa hampir semuanya berasal dari “kata guru” dan guru merupakan kendali utama dalam pembelajaran. Siswa seolah-olah belajar sebagai pendengar yang baik.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka perlu dilakukan suatu perubahan di dalam pendekatan pembelajaran. Pembelajaran yang menuntut siswa sekedar untuk menghafal fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, hukum-hukum maupun teori-teori harus ditinggalkan. Menurut teori Ausabel belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif siswa (Dahar, 1989; Suparno, 1997; Nursyamsi, 2008). Dengan demikian, konsep yang dipelajari akan dipahami di dalam diri siswa. Pada kesempatan ini, penulis membuat makalah refleksi tentang proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru selama ini dan bagaimana merancang pembelajaran yang bermakna.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut.
1.2.1 Bagaimanakah deskripsi dari pembelajaran bermakna?
1.2.2 Bagaimanakah merancang suatu pembelajaran yang bermakna dalam proses pembelajaran?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, adapun tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
1.3.1 Untuk mengetahui deskripsi pembelajaran bermakna.
1.3.2 Untuk dapat merancang pembelajaran yang bermakna dalam proses pembelajaran.









BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Deskripsi Pembelajaran Bermakna
Bagi kaum konstruktivis, mengajar bukanlah kegiatan yang memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti partisipasi dengan pelajar dalam bentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis dan mengadakan justifikasi. Jadi, mengajar adalah suatu bentuk belajar sendiri (Bettecourt dalam Suparno, 1997).
Belajar adalah proses mengkonstruksi pengetahuan dari abstraksi pengalaman baik alami maupun manusiawi. Mengkonstruksi pengetahuan itu adalah siswa sendiri melalui suatu proses aktif, bukan guru yang membangun pengetahuan dipikiran siswa. Dengan demikian, pengetahuan tersebut tidak dapat dipindahkan dari guru ke siswa. Tetapi dalam belajar siswa selalu memberi makna terhadap apa yang dipelajari dengan cara menyesuaikannya dengan pengalaman-pengalaman yang telah dimiliki (Suparno, 1997).
Ausubel (dalam Nursyamsi, 2008) berpendapat bahwa guru harus dapat mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses belajar yang bermakna. Sama seperti Bruner dan Gagne, Ausubel beranggapan bahwa aktivitas belajar siswa, terutama mereka yang berada di tingkat pendidikan dasar akan bermanfaat kalau mereka banyak dilibatkan dalam kegiatan langsung. Inti dari teori belajar bermakna Ausubel adalah proses belajar akan mendatangkan hasil atau bermakna kalau guru dalam menyajikan materi pelajaran yang baru dapat menghubungkannya dengan konsep yang relevan yang sudah ada dalam struktur kognisi siswa. Agar terjadi belajar bermakna maka dalam diri siswa harus ada konsep-konsep relevan yang disebut subsumer (Sholahuddin, 2006).

2.2 Merancang Pembelajaran Bermakna
Teori belajar bermakna Ausebel, menekankan bahwa pentingnya siswa mengasosiasikan pengalaman, fenomena, dan fakta-fakta yang baru ke dalam sistem pengertian yang telah dimiliki. Dalam proses ini siswa dapat mengembangkan skema yang ada atau dapat mengubahnya. Seorang guru pada saat pembelajaran harus mampu merancang pembelajaran bermakna dengan memperhatikan serta menerapkan komponen-komponen pembelajaran yang terdiri dari; materi/topik yang akan diajarkan, metode/strategi pembelajaran, pemanfaatan lingkungan, skemata siswa serta alat evaluasi.
Langkah awal yang harus dipertimbangkan dalam merancang suatu pembelajaran bermakna adalah menentukan materi atau topik yang akan diajarkan kepada siswa. Selama ini materi yang diajarkan oleh guru hanya berasal dari buku ajar (teks book) saja. Selain itu, materi yang diajarkan kurang dikaitkan dengan kehidupan dunia nyata siswa (tidak konstekstual), sehingga dalam proses pembelajaran guru berperan sangat doniman sedangkan siswa hanya sebagai pendengar yang baik saja. Dalam hal ini, seorang guru harus dapat memilih topik yang tepat dengan pembelajaran, artinya topik dipilih atau ditentukan sesuai dengan kehidupan nyata siswa sehingga apa yang dipelajari akan menjadi bermakana dan tidak bersifat menghafal saja.
Dalam seluruh kegiatan pembelajaran strategi pembelajaran memegang peran penting. Tanpa strategi yang tepat seluruh proses pembelajaran akan sia-sia belaka. Oleh karena itu, guru harus mampu menguasai berbagai metode pembelajaran dan benar-benar menguasai metode pembelajaran yang akan digunakan dengan baik. Hal ini sering menjadi kesulitan bagi guru, karena guru sudah terbiasa menguasai satu metode pembelajaran tertentu. Seolah-olah metode yang digunakan guru sudah mendarah daging dalam jiwanya serta sulit sekali untuk diubah. Tentunya semua ini akan menimbulkan kerugian bagi siswa, karena mengajar bukan hanya sekadar menyampaikan bahan pelajaran kepada siswa, tetapi lebih ditekankan pada bagaimana suatu bahan pelajaran itu disajikan pada siswa. Dalam proses pembelajarannya guru masih menerapkan metode/strategi klasikal dan ceramah menjadi pilihan utama sebagai metode pembelajaran. Pola pembelajaran atau urutan sajian materi dalam pembelajaran yang biasa dilakukan selama ini adalah (1) pembelajaran diawali penjelasan singkat materi oleh guru, siswa diajarkan fakta, konsep, prinsip, hukum dan teori yang semuanya harus dihafal, (2) pemberian contoh soal dan (3) diakhiri dengan latihan soal. Pola ini akan membuat siswa kurang aktif di kelas dalam proses pembelajaran serta tidak akan memperlihatkan adanya interaksi siswa di dalam kelas.
Strategi mengajar seperti ini harus ditinggalkan oleh guru, karena kurang merangsang siswa untuk belajar aktif. Saat ini telah banyak dikembangkan model-model pembelajaran inovatif yang sudah terbukti dapat meningkatkan pemahaman siswa, hasil belajar siswa, dan mampu mengurangi miskonsepsi yang dimiliki siswa. Jadi, guru harus mampu menerapkan berbagai strategi pembelajaran sehingga memberikan pengalaman dan kesempatan untuk siswa belajar membangun sendiri pengetahuan yang dimiliki.
Pemanfaatan lingkungan sangat erat kaitannya dengan merencanakan strategi pembelajaran yang diterapkan. Dalam proses pembelajaran selama ini, guru sangat jarang mengajak siswa untuk mengeksplorasi lingkungan yang ada di sekitar siswa sebagai sumber pelajaran. Pembelajaran guru hanya berorientasi pada buku pelajaran, menyampaikan materi, memberikan contoh soal dan memberikan latihan soal selalu diambil dari buku pelajaran maupun LKS yang dipegang oleh guru dan siswa. Keteribatan guru dalam pembelajaran sangat dominan, di mana guru sebagai sumber utama pengetahuan. Dominasi guru dapat dilihat saat guru menjelaskan materi pembelajaran, memberikan tugas-tugas dan menyimpulkan materi pembelajaran. Hal inilah yang menyebabkan proses pembelajaran yang terjadi bersifat teoritis dan berpusat pada guru (teacher centered). Kebiasaan guru seperti ini harus diubah, peroses pembelajaran harus berpusat pada siswa (student centred). Hal ini bertujuan agar apa yang dipelajari siswa bersifat nyata dan sesuai dengan kehidupan siswa sehari-hari.
Selama ini guru mengganggap belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, hukum-hukum maupun teori-teori yang tersaji dalam bentuk informasi atau materi pelajaran. Pembelajaran yang dilakukan oleh guru masih berpegang pada teori tingkah laku (behavioristik). Teori ini didasari asumsi bahwa peserta didik (siswa) adalah manusia pasif yang bisa dikontrol dan hanya melakukan respon terhadap stimulus yang datang dari luar. Guru akan merasa bangga ketika anak didiknya mampu menyebutkan kembali secara lisan (verbal) sebagaian besar informasi yang terdapat dalam buku teks atau yang diberikan oleh guru. Guru tidak pernah melihat pengetahuan awal yang dimiliki oleh siswa, sehingga guru akan mengajar sesuai dengan kemauannya sendiri.
Seseorang dikatakan belajar jika mampu mengasosiasikan fenomena baru ke dalam skema yang ia telah punyai. Dalam proses itu seseorang dapat mengembangkan skema yang ada atau mengubahnya (Ausubel dalam Suparno, 1997). Belajar juga merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dimiliki seseorang sehingga pengertiannya dikembangkan. Dengan demikian, dalam merancang pembelajaran yang bermakan perlu mempertimbangkan skema yang dimiliki siswa agar siswa benar-benar paham dengan apa yang mereka pelajari.
Selain materi/topik yang akan diajarkan, metode/strategi pembelajaran, pemanfaatan lingkungan, skemata, evaluasi juga merupakan hal yang sangat esensial dalam pembelajaran. Dalam satu kali proses pembelajaran, guru hendaknya menjadi seorang evaluator yang baik. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai atau belum, dan apakah materi pelajaran yang diajarkan sudah tepat. Menurut Suastra (2007) dalam merancang suatu pembelajaran yang bermakna, guru harus melakukan penilaian yang otentik (Authentic Assessment), penilaian yang dilakukan tidak terbatas hanya dengan tes saja, apalagi jenis tes yang digunakan didominasi oleh tes objektif. Menurut Fogarty (dalam Marhaeni, 2005) tes objektif sangat sedikit kontribusinya terhadap pembelajaran sehingga tidak tepat digunakan untuk semua penilaian yang dilakukan di sekolah. Model penilaian ini tidak dapat mengukur kemampuan siswa yang sebenarnya karena hanya terfokus pada beberapa aspek saja sehingga tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan dan kelebihannya masing-masing.
Dalam pembelajaran, seorang guru hendaknya mampu dan terampil melaksanakan penilaian, karena dengan penilaian guru dapat mengetahui prestasi yang dicapai oleh siswa setelah ia melaksanakan proses belajar. Dengan menelaah pencapaian tujuan pengajaran, guru dapat mengetahui apakah proses belajar yang dilakukan cukup efektif, memberikan hasil yang baik dan memuaskan atau sebaliknya. Dalam fungsinya sebagai penilai hasil belajar siswa, guru hendaknya terus menerus mengikuti hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa dari waktu ke waktu. Informasi yang diperoleh melalui evaluasi ini merupakan umpan balik (feed back) terhadap proses belajar mengajar. Umpan balik ini akan dijadikan titik tolak untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar selanjutnya. Dengan demikian proses belajar mengajar akan terus dapat ditingkatkan untuk memperoleh hasil yang optimal.




BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Berdasarkan pembahasan yang diuraikan di atas, maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut.
1. Belajar bermakna merupakan suatu proses belajar yang mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang yang sedang belajar.
2. Merancang pembelajaran yang bermakna, ada beberapa komponen pembelajaran yang harus diterapkan diantaranya; materi/topik yang akan diajarkan, metode/strategi pembelajaran, pemanfaatan lingkungan, skemata siswa serta alat evaluasi yang digunakan.

3.2 Saran
Berdasarkan pembahasan tersebut, maka dapat diajukan beberapa saran guna peningkatan kualitas pembelajaran ke depan antara lain sebagai berikut.
3.2.1 Dominasi guru dalam pembelajaran sebaiknya dikurangi, artinya guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran, yaitu dengan lebih mengoptimalkan metode diskusi saat siswa menemukan fakta, konsep, prinsip, hukum, maupun teori dalam mengerjakan permasalahan sehingga peran guru sebagai sumber informasi baru bisa diminimalkan atau dengan kata lain keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar bisa lebih diintensifkan. Diskusi bisa dilakukan dengan teman sebangku atau pun diskusi kelompok.
3.2.2 Dalam proses belajar mengajar peran guru hanya sebagai mediator, fasilitator dan moderator, bukan sebagai pemindah pengetahuan. Proses belajar harus membantu siswa dalam membangun pengetahuannya, karena pengetahuan itu dibentuk sendiri oleh siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan yang dihadapinya. Dalam proses belajar mengajar haruslah berpusat pada siswa (student center), artinya siswa secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya, bukan guru yang aktif memberikan pengetahuan pada siswa

DAFTAR PUSTAKA


Afdhee, 2008. Kegagalan Guru dalam Melakukan Evaluasi (Artikel). http://school-development.com/2008/Kegagalanguru.html (diakses Tanggal 19 Pebruari 2008)

Dahar, R. W. 1989. Teori-teori belajar. Jakarta: Erlangga
Marhaeni, A. A. I. N. 2005. Pengaruh Asesmen Portofolio dan Motivasi Berprestasi dalam Belajar Bahasa Inggris terhadap Kemampuan Menulis Bahasa Inggris. Disertasi (tidak diterbitkan). Universitas Negeri Jakarta Program Pasca Sarjana Program Studi PEP
Nursyamsi,A. 2008. Teori Belajar. Http://neozonk.blogspot.com/2008/02/teori-belajar.html (diakses Tanggal 19 Pebruari 2008)
Santyasa, I W. 2005. Implementasi pembelajaran inovatif dalam praktik pengalaman lapangan. Makalah. Disajikan dalam pembekalan awal pelaksanaan program hibah kemitraan LPPL IKIP Negeri Singaraja dengan Sekolah Laboratorium IKIP Negeri Singaraja, 18-20 Juli 2005, di Singaraja
Sholahuddin, A. 2006. Implementasi Teori Ausubel pada Pembelajaran Senyawa Karbon di SMU. http://www.duniaguru.com/index.php?option=com_content&task=view&id=71&itemid=26
Suastra, I W. 2007. Mengembangkan Penilaian Otentik (Authentic Assessment) dalam Pembelajaran Fisika. Makalah. Disampaikan pada seminar dengan tema “Pengembangan Model Pembelajaran Inovatif dan Asesmen sebagai Antisipasi Pelaksanaan KTSP di SMP/SMA”, tanggal 24 – 25 September 2007, Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja
Suparno, P. 1997. Filsafat konstruktivisme dalam pendidikan. Yogyakarta: Kanisius
Suryosubroto, B. 1997. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta

Yasa, I P. 2007. Inovasi Model Belajar Sains Sesuai Tuntutan Standar Proses Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Makalah. Disampaikan pada seminar dengan tema “Pengembangan Model Pembelajaran Inovatif dan Asesmen sebagai Antisipasi Pelaksanaan KTSP di SMP/SMA”, tanggal 24 – 25 September 2007, Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja
`

Pengembangan IPA terpadu

BURAM




PANDUAN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU





















SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/ MADRASAH TSANAWIYAH
(SMP/MTs)




























Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas
Jl. Gunung Sahari Raya No. 4, Jakarta Pusat
Telp. : (62-21)3804248,3453440,34834862
Fax. : (62-21) 3508084, 34834862
www.puskur.net

DAFTAR ISI





Daftar Isi




Halaman




Bab I. Pendahuluan 1
A. Latar Belakang .…………………………………………………………………………. 1
B. Tujuan ………………………………………………………………………………………… 2
C. Ruang Lingkup …………………………………………………………………………… 2
D. Sistematika 2


Bab II. Kerangka Berpikir 4
A. Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam ………………………………………….. 4
B. Karakteristik Bidang kajian IPA …………………………………………………. 6
C. Tujuan Pembelajaran IPA Terpadu ……………………………………………. 7
D. Konsep Pembelajaran Keterpaduan dalam IPA …………………………. 8


Bab III. Strategi Pelaksanaan Pembelajaran IPA Terpadu 13
A. Perencanaan ………………………………………………………………………………. 13
B. Model Pelaksanaan Pembelajaran ……………………………………………… 15
C. Penilaian …………………………………………………………………………………….. 17


Bab IV Implikasi Pembelajaran IPA Terpadu 20
A. Guru 20
B. Peserta Didik 22
C. Bahan Ajar 23
D. Sarana dan Prasarana 24


Lampiran:
1. Peta Kompetensi Dasar Yang Berpotensi IPA Terpadu …………………. 25
2. Contoh Silabus Pembelajaran IPA Terpadu ….......................... 27
3. Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran IPA Terpadu ……….... 35


























i




A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN



Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar merupakan kurikulum hasil refleksi, pemikiran, dan pengkajian ulang dari kurikulum yang telah berlaku sebelumnya. Kurikulum baru ini diharapkan dapat membantu mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan di masa depan. Standar kompetensi dan kompetensi dasar diarahkan untuk memberikan keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam kondisi yang penuh dengan berbagai perubahan, persaingan, ketidakpastian, dan kerumitan dalam kehidupan. Kurikulum ini disusun untuk menciptakan tamatan yang kompeten, cerdas dalam membangun integritas sosial, serta mewujudkan karakter nasional.

Dalam implementasi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, telah dilakukan berbagai studi yang mengarah pada peningkatan efisiensi dan efektivitas layanan dan pengembangan sebagai konsekuensi dari suatu inovasi pendidikan. Sebagai salah satu bentuk efisiensi dan efektivitas implementasi kurikulum dikembangkan berbagai model implementasi kurikulum.

Model pembelajaran terpadu merupakan salah satu model implementasi kurikulum yang dianjurkan untuk diaplikasikan pada semua jenjang pendidikan, mulai dari tingkat Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) sampai dengan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA). Model pembelajaran ini pada hakikatnya merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud,
1996:3). Pembelajaran ini merupakan model yang mencoba memadukan beberapa pokok bahasan (Beane, 1995:615).

Melalui pembelajaran IPA terpadu, peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk mencari, menyimpan, dan menerapkan konsep yang telah dipelajarinya. Dengan demikian, peserta didik terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari secara menyeluruh (holistik), bermakna, otentik dan aktif. Cara pengemasan pengalaman belajar yang dirancang guru sangat berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman bagi para peserta didik. Pengalaman belajar yang lebih menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual akan menjadikan proses belajar lebih efektif. Kaitan konseptual yang dipelajari dengan sisi bidang kajian Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang relevan akan membentuk skema kognitif, sehingga anak memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Perolehan keutuhan belajar IPA, serta kebulatan pandangan tentang kehidupan, dunia nyata dan fenomena alam hanya dapat direfleksikan melalui pembelajaran terpadu.

Pembelajaran terpadu dalam IPA dapat dikemas dengan TEMA atau TOPIK tentang suatu wacana yang dibahas dari berbagai sudut pandang atau disiplin keilmuan yang mudah dipahami dan dikenal peserta didik. Dalam pembelajaran IPA terpadu, suatu konsep atau tema dibahas dari berbagai aspek bidang kajian dalam bidang kajian IPA. Misalnya tema lingkungan dapat dibahas dari



1

sudut makhluk hidup dan proses kehidupan, energi dan perubahannya, dan materi dan sifatnya. Pembahasan tema juga dimungkinkan hanya dari aspek makhluk hidup dan proses kehidupan dan energi dan perubahannya, atau materi dan sifatnya dan makhluk hidup dan proses kehidupan, atau energi dan perubahannya dan materi dan sifatnya saja. Dengan demikian melalui pembelajaran terpadu ini beberapa konsep yang relevan untuk dijadikan tema tidak perlu dibahas berulang kali dalam bidang kajian yang berbeda, sehingga penggunaan waktu untuk pembahasannya lebih efisien dan pencapaian tujuan pembelajaran juga diharapkan akan lebih efektif.



B. Tujuan
Tujuan penyusunan Model Pembelajaran IPA Terpadu untuk SMP/MTs ini pada dasarnya untuk memberikan pedoman yang dapat dijadikan sebagai kerangka acuan bagi guru dan pihak terkait. Secara rinci, penyusunan model ini di antaranya bertujuan untuk:
1. memberikan wawasan bagi guru tentang apa, mengapa, dan bagaimana pembelajaran IPA terpadu pada tingkat SMP/MTs;
2. memberikan bekal keterampilan kepada guru untuk dapat menyusun rencana pembelajaran (memetakan kompentensi, menyusun silabus, dan menjabarkan silabus menjadi rencana pelaksanaan pembelajaran) dan penilaian;
3. memberikan bekal kemampuan kepada guru agar memiliki kemampuan melaksanakan pembelajaran IPA terpadu;
4. memberikan wawasan, pengetahuan, dan pemahaman bagi pihak terkait
(misalnya kepala sekolah dan pengawas), sehingga mereka dapat memberikan dukungan terhadap kelancaran dan ketepatan pelaksanaan pembelajaran IPA terpadu.



C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup penyusunan Model ini meliputi pengertian IPA Terpadu, Karakteristik Pembelajarn IPA Terpadu, pelaksanaan pembelajaran IPA Terpadu dan penilaian di kelas sehingga dicapai tujuan yang diinginkan.

Pembelajaran IPA secara terpadu harus menggunakan tema yang relevan dan berkaitan. Materi yang dipadukan sebaiknya masih dalam lingkup bidang kajian IPA.

Tema yang dibahas disajikan dalam konteks IPA-lingkungan-teknologi- masyarakat, yang melibatkan aktivitas peserta didik secara berkelompok maupun mandiri. Aktivitas peserta didik perlu ditunjang oleh media pembelajaran yang memadai, agar peserta didik dapat memahami tema secara komprehensif dan mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.


D. Sistematika

Model Pembelajaran IPA Terpadu memuat beberapa keterpaduan antar- Kompetensi Dasar. Model ini juga mencakup apa dan bagaimana seorang guru di SMP/MTs mengembangkan dan melaksanakan model tersebut. Sistematika



2

anduan pengembangan pembelajaran IPA Terpadu SMP/MTs terdiri atas bagian- bagian sebagai berikut.

Bab satu, merupakan pendahuluan yang memuat penjelasan tentang latar belakang serta pentingnya keberadaan panduan. Selain itu juga mengungkapkan tujuan serta sistematika sajian.

Bab dua, berisi penjelasan tentang kerangka berpikir yang mencakup tentang pengertian, karakteristik, tujuan, konsep keterpaduan IPA, dan model keterpaduan berdasarkan topik.

Bab tiga, berisi tentang strategi pelaksanaan pembelajaran IPA Terpadu, yang menjelaskan tahapan tentang perencanaan (meliputi pemetaan Kompetensi Dasar, pemilihan topik, penjabaran Kompetensi Dasar ke dalam indikator, penyusunan silabus, dan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran), pelaksanaan pembelajaran (meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan akhir serta tindak lanjut), dan penilaian.

Bab empat, berisi tentang implikasi pembelajaran IPA Terpadu yang menjelaskan peran guru, peserta didik, serta sarana dan prasarana pembelajaran.


Lampiran:
Model pembelajaran IPA Terpadu SMP/MTs








































3

BAB II KERANGKA BERPIKIR



A. Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam


Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.


Secara umum Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SMP/MTs, meliputi bidang kajian energi dan perubahannya, bumi antariksa, makhluk hidup dan proses kehidupan, dan materi dan sifatnya yang sebenarnya sangat berperan dalam membantu peserta didik untuk memahami fenomena alam. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang telah mengalami uji kebenaran melalui metode ilmiah, dengan ciri: objektif, metodik, sistimatis, universal, dan tentatif. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan ilmu yang pokok bahasannya adalah alam dan segala isinya.

Carin dan Sund (1993) mendefinisikan IPA sebagai “pengetahuan yang sistematis dan tersusun secara teratur, berlaku umum (universal), dan berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen”.


Merujuk pada pengertian IPA itu, maka dapat disimpulkan bahwa hakikat IPA
meliputi empat unsur utama yaitu:
1. sikap: rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, makhluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar; IPA bersifat open ended;
2. proses: prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; metode ilmiah meliputi penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen atau percobaan, evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan;
3. produk: berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum;
4. aplikasi: penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari- hari.
Keempat unsur itu merupakan ciri IPA yang utuh yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Dalam proses pembelajaran IPA keempat unsur itu diharapkan dapat muncul, sehingga peserta didik dapat mengalami proses pembelajaran secara utuh, memahami fenomena alam melalui kegiatan pemecahan masalah, metode ilmiah, dan meniru cara ilmuwan bekerja dalam menemukan fakta baru.



4

Kecenderungan pembelajaran IPA pada masa kini adalah peserta didik hanya mempelajari IPA sebagai produk, menghafalkan konsep, teori dan hukum. Keadaan ini diperparah oleh pembelajaran yang beriorientasi pada tes/ujian. Akibatnya IPA sebagai proses, sikap, dan aplikasi tidak tersentuh dalam pembelajaran.

Pengalaman belajar yang diperoleh di kelas tidak utuh dan tidak berorientasi tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Pembelajaran lebih bersifat teacher-centered, guru hanya menyampaikan IPA sebagai produk dan peserta didik menghafal informasi faktual. Peserta didik hanya mempelajari IPA pada domain kognitif yang terendah. Peserta didik tidak dibiasakan untuk mengembangkan potensi berpikirnya. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak peserta didik yang cenderung menjadi malas berpikir secara mandiri. Cara berpikir yang dikembangkan dalam kegiatan belajar belum menyentuh domain afektif dan psikomotor. Alasan yang sering dikemukakan oleh para guru adalah keterbatasan waktu, sarana, lingkungan belajar, dan jumlah peserta didik per kelas yang terlalu banyak.

Abad 21 ditandai oleh pesatnya perkembangan IPA dan teknologi dalam berbagai bidang kehidupan di masyarakat, terutama teknologi informasi dan komunikasi. Oleh karena itu, diperlukan cara pembelajaran yang dapat menyiapkan peserta didik untuk melek IPA dan teknologi, mampu berpikir logis, kritis, kreatif, serta dapat berargumentasi secara benar. Dalam kenyataan, memang tidak banyak peserta didik yang menyukai bidang kajian IPA, karena dianggap sukar, keterbatasan kemampuan peserta didik, atau karena mereka tak berminat menjadi ilmuwan atau ahli teknologi. Namun demikian, mereka tetap berharap agar pembelajaran IPA di sekolah dapat disajikan secara menarik, efisien, dan efektif.

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang akan dicapai peserta didik yang dituangkan dalam empat aspek yaitu, makhluk hidup dan proses kehidupan, materi dan sifatnya, energi dan perubahannya, serta bumi dan alam semesta.

Indikator pencapaian kompetensi dikembangkan oleh sekolah, disesuaikan dengan lingkungan setempat, dan media serta lingkungan belajar yang ada di sekolah. Semua ini ditujukan agar guru dapat lebih aktif, kreatif, dan melakukan inovasi dalam pembelajaran tanpa meninggalkan isi kurikulum.

Melalui pembelajaran IPA terpadu, diharapkan peserta didik dapat membangun pengetahuannya melalui cara kerja ilmiah, bekerja sama dalam kelompok, belajar berinteraksi dan berkomunikasi, serta bersikap ilmiah.



B. Karakteristik Bidang kajian Ilmu Pengetahuan Alam

Ilmu Pengetahuan Alam didefinisikan sebagai pengetahuan yang diperoleh melalui pengumpulan data dengan eksperimen, pengamatan, dan deduksi untuk menghasilkan suatu penjelasan tentang sebuah gejala yang dapat dipercaya. Ada tiga kemampuan dalam IPA yaitu: (1) kemampuan untuk mengetahui apa yang diamati, (2) kemampuan untuk memprediksi apa yang belum terjadi, dan



5

kemampuan untuk menguji tindak lanjut hasil eksperimen, (3) dikembangkannya sikap ilmiah. Kegiatan pembelajaran IPA mencakup pengembangan kemampuan dalam mengajukan pertanyaan, mencari jawaban, memahami jawaban, menyempurnakan jawaban tentang “apa”, “mengapa”, dan “bagaimana” tentang gejala alam maupun karakteristik alam sekitar melalui cara-cara sistematis yang akan diterapkan dalam lingkungan dan teknologi. Kegiatan tersebut dikenal dengan kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode ilmiah. Metode ilmiah dalam mempelajari IPA itu sendiri telah diperkenalkan sejak abad ke-16 (Galileo Galilei dan Francis Bacon) yang meliputi mengidentifikasi masalah, menyusun hipotesa, memprediksi konsekuensi dari hipotesis, melakukan eksperimen untuk menguji prediksi, dan merumuskan prinsip umum yang sederhana yang diorganisasikan dari hipotesis, prediksi, dan eksperimen.

Dalam belajar IPA peserta didik diarahkan untuk membandingkan hasil prediksi peserta didik dengan teori melalui eksperimen dengan menggunakan metode ilmiah. Pendidikan IPA di sekolah diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitarnya, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, yang didasarkan pada metode ilmiah. Pembelajaran IPA menekankan pada pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik mampu memahami alam sekitar melalui proses “mencari tahu” dan “berbuat”, hal ini akan membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam. Keterampilan dalam mencari tahu atau berbuat tersebut dinamakan dengan keterampilan proses penyelidikan atau “enquiry skills” yang meliputi mengamati, mengukur, menggolongkan, mengajukan pertanyaan, menyusun hipotesis, merencanakan eksperimen untuk menjawab pertanyaan, mengklasifikasikan, mengolah, dan menganalisis data, menerapkan ide pada situasi baru, menggunakan peralatan sederhana serta mengkomunikasikan informasi dalam berbagai cara, yaitu dengan gambar, lisan, tulisan, dan sebagainya. Melalui keterampilan proses dikembangkan sikap dan nilai yang meliputi rasa ingin tahu, jujur, sabar, terbuka, tidak percaya tahyul, kritis, tekun, ulet, cermat, disiplin, peduli terhadap lingkungan, memperhatikan keselamatan kerja, dan bekerja sama dengan orang lain.

Oleh karena itu pembelajaran IPA di sekolah sebaiknya: (1) memberikan pengalaman pada peserta didik sehingga mereka kompeten melakukan pengukuran berbagai besaran fisis, (2) menanamkan pada peserta didik pentingnya pengamatan empiris dalam menguji suatu pernyataan ilmiah
(hipotesis). Hipotesis ini dapat berasal dari pengamatan terhadap kejadian sehari-hari yang memerlukan pembuktian secara ilmiah, (3) latihan berpikir kuantitatif yang mendukung kegiatan belajar matematika, yaitu sebagai penerapan matematika pada masalah-masalah nyata yang berkaitan dengan peristiwa alam, (4) memperkenalkan dunia teknologi melalui kegiatan kreatif dalam kegiatan perancangan dan pembuatan alat-alat sederhana maupun penjelasan berbagai gejala dan keampuhan IPA dalam menjawab berbagai masalah.








6

C. Tujuan Pembelajaran IPA Terpadu


Tujuan pembelajaran IPA Terpadu adalah sebagai berikut.


1. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran
Dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang harus dicapai peserta didik masih dalam lingkup bidang kajian energi dan perubahannya, materi dan sifatnya, dan makhluk hidup dan proses kehidupan. Banyak ahli yang menyatakan pembelajaran IPA yang disajikan secara disiplin keilmuan dianggap terlalu dini bagi anak usia 7-14 tahun, karena anak pada usia ini masih dalam transisi dari tingkat berpikir operasional konkret ke berpikir abstrak. Selain itu, peserta didik melihat dunia sekitarnya masih secara holistik. Atas dasar itu, pembelajaran IPA hendaknya disajikan dalam bentuk yang utuh dan tidak parsial. Di samping itu pembelajaran yang disajikan terpisah-pisah dalam energi dan perubahannya, makhluk hidup dan proses kehidupan, materi dan sifatnya, dan bumi-alam semesta memungkinkan adanya tumpang tindih dan pengulangan, sehingga membutuhkan waktu dan energi yang lebih banyak, serta membosankan bagi peserta didik. Bila konsep yang tumpang tindih dan pengulangan dapat dipadukan, maka pembelajaran akan lebih efisien dan efektif.
Keterpaduan bidang kajian dapat mendorong guru untuk mengembangkan kreativitas tinggi karena adanya tuntutan untuk memahami keterkaitan antara satu materi dengan materi yang lain. Guru dituntut memiliki kecermatan, kemampuan analitik, dan kemampuan kategorik agar dapat memahami keterkaitan atau kesamaan materi maupun metodologi.


2. Meningkatkan minat dan motivasi
Pembelajaran terpadu memberikan peluang bagi guru untuk mengembangkan situasi pembelajaan yang utuh, menyeluruh, dinamis, dan bermakna sesuai dengan harapan dan kemampuan guru, serta kebutuhan dan kesiapan peserta didik. Dalam hal ini, pembelajaran terpadu memberikan peluang bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan tema yang disampaikan.

Pembelajaran IPA Terpadu dapat mempermudah dan memotivasi peserta didik untuk mengenal, menerima, menyerap, dan memahami keterkaitan atau hubungan antara konsep pengetahuan dan nilai atau tindakan yang termuat dalam tema tersebut. Dengan model pembelajaran yang terpadu dan sesuai dengan kehidupan sehari-hari, peserta didik digiring untuk berpikir luas dan mendalam untuk menangkap dan memahami hubungan konseptual yang disajikan guru. Selanjutnya peserta didik akan terbiasa berpikir terarah, teratur, utuh, menyeluruh, sistimik, dan analitik. Peserta didik akan lebih termotivasi dalam belajar bila mereka merasa bahwa pembelajaran itu bermakna baginya, dan bila mereka berhasil menerapkan apa yang telah dipelajarinya.


3. Beberapa kompetensi dasar dapat dicapai sekaligus
Model pembelajaran IPA terpadu dapat menghemat waktu, tenaga, dan sarana, serta biaya karena pembelajaran beberapa kompetensi dasar dapat diajarkan sekaligus. Di samping itu, pembelajaran terpadu juga



7

menyederhanakan langkah-langkah pembelajaran. Hal ini terjadi karena adanya proses pemaduan dan penyatuan sejumlah standar kompetensi, kompetensi dasar, dan langkah pembelajaran yang dipandang memiliki kesamaan atau keterkaitan.



D. Konsep Pembelajaran Terpadu Dalam IPA
1. Konsep Pembelajaran IPA Terpadu
Dalam arti luas pembelajaran terpadu meliputi pembelajaran yang terpadu dalam satu disiplin ilmu, terpadu antarmata pelajaran, serta terpadu dalam dan lintas peserta didik (Fogarty,1991: xiii). Pembelajaran terpadu akan memberikan pengalaman yang bermakna bagi peserta didik, karena dalam pembelajaran terpadu peserta didik akan memahami konsep-konsep yang dipelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep-konsep lain yang sudah dipahami yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Dari sejumlah model pembelajaran terpadu menurut Fogorty (1991) tiga diantaranya seseuai untuk dikembangkan dalam pembelajaran IPA ditingkat pendidikan di Indonesia. Ketiga model yang dimaksud adalah model keterhubungan (connected), model jaring laba-laba (webbad), dan model keterpaduan (integrated). Perbandingan deskripsi karakter, kelebihan dan keterbatasan ketiga model tersebut dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini.


Tabel 1. Perbandingan Diagram dan Deskripsi
Tiga Model Pembelajaran Terpadu


Model Karakteristik Kelebihan Keterbatasan


Model
Keterhubungan
(connected)

















Model jaring laba-laba
(Webbed)






Menghubungkan satu konsep dengan konsep lain, topik dengan topik lain, satu keterampilan dengan keterampilan lain, ide yang satu dengan ide yang lain tetapi masih dalam lingkup satu bidang studi misalnya IPA atau IPS
Dimulai dengan menentukan tema yang kemudian dikembangkan subtemanya dengan


Peserta didik akan lebih mudah menemukan keterkaitan
karena masih dalam lingkup satu bidang studi











 Tema yang familiar membuat motivasi belajar meningkat


Model ini kurang menampakkan keterkaitan interdisiplin















Sulit menemukan tema










8

Model Karakteristik Kelebihan Keterbatasan


memperhatikan kaitannya dengan disiplin ilmu atau bidang studi lain



 Memberikan pengalaman berpikir serta bekerja interdisipliner



Model
Keterpaduan
(integrated)
















Dimulai dengan identifikasi
konsep, keterampilan, sikap yang overlap pada beberapa disiplin ilmu atau beberapa bidang studi. Tema berfungsi sebagai konteks pembelajaran



Hubungan antarbidang studi jelas terlihat melalui kegiatan belajar













 Fokus terhadap kegiatan
belajar, terkadang mengabaikan target penguasaan konsep
 Menuntut wawasan yang luas dari guru


Sumber: Rustaman et al, 2003: 122 dan Fogarty, 1991: xv


2. Kekuatan dan Kelemahan Pembelajaran Terpadu
Walaupun standar kompetensi dan kompetensi dasar IPA dikembangkan dalam bidang kajian, pada tingkat pelaksanaan guru memiliki keleluasaan dalam membelajarkan peserta didiknya untuk mencapai kompetensi tersebut. Salah satu contoh yang akan dikembangkan dalam model ini adalah guru dapat mengidentifikasi standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dekat dan relevan untuk dikemas dalam satu tema dan disajikan dalam kegiatan pembelajaran yang terpadu. Yang perlu dicatat ialah pemaduan kegiatan dalam bentuk tema sebaiknya dilakukan pada jenjang kelas yang sama dan masih dalam lingkup IPA sehingga memudahkan untuk penilaian.

Kekuatan/manfaat yang dapat dipetik melalui pelaksanaan pembelajaran terpadu antara lain sebagai berikut.
(a) Dengan menggabungkan berbagai bidang kajian akan terjadi penghematan waktu, karena ketiga bidang kajian tersebut (Energi dan perubahannya, Materi dan sifatnya, dan Makhluk hidup dan proses kehidupan) dapat dibelajarkan sekaligus. Tumpang tindih materi juga dapat dikurangi bahkan dihilangkan.
(b) Peserta didik dapat melihat hubungan yang bermakna antarkonsep Energi dan perubahannya, Materi dan sifatnya, dan Makhluk hidup dan proses kehidupan.
(c) Meningkatkan taraf kecakapan berpikir peserta didik, karena peserta didik dihadapkan pada gagasan atau pemikiran yang lebih luas dan lebih dalam ketika menghadapi situasi pembelajaran.
(d) Pembelajaran terpadu menyajikan penerapan/aplikasi tentang dunia nyata yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, sehingga memudahkan pemahaman konsep dan kepemilikan kompetensi IPA.
(e) Motivasi belajar peserta didik dapat diperbaiki dan ditingkatkan.


9

(f) Pembelajaran terpadu membantu menciptakan struktur kognitif yang dapat menjembatani antara pengetahuan awal peserta didik dengan pengalaman belajar yang terkait, sehingga pemahaman menjadi lebih terorganisasi dan mendalam, dan memudahkan memahami hubungan materi IPA dari satu konteks ke konteks lainnya.
(g) Akan terjadi peningkatan kerja sama antarguru bidang kajian terkait, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik, peserta didik/guru dengan narasumber; sehingga belajar lebih menyenangkan, belajar dalam situasi nyata, dan dalam konteks yang lebih bermakna.

Di samping kekuatan/manfaat yang dikemukakan itu, model pembelajaran IPA Terpadu juga memiliki kelemahan. Perlu disadari, bahwa sebenarnya tidak ada model pembelajaran yang cocok untuk semua konsep, oleh karena itu model pembelajaran harus disesuaikan dengan konsep yang akan diajarkan. Begitu pula dengan pembelajaran terpadu dalam IPA memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut ini.

(a) Aspek Guru: berwawasan luas, memiliki kreativitas tinggi, keterampilan metodologis yang handal, rasa percaya diri yang tinggi, dan berani mengemas dan mengembangkan materi, bersedia mengembangkan diri untuk terus menggali informasi ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan dan banyak membaca buku agar penguasaan bahan ajar tidak terfokus pada bidang kajian tertentu saja.

(b) Aspek peserta didik: Pembelajaran terpadu menuntut kemampuan belajar peserta didik yang relatif “baik”, baik dalam kemampuan akademik maupun kreativitasnya. Hal ini terjadi karena model pembelajaran terpadu menekankan pada kemampuan analitik
(mengurai), kemampuan asosiatif (menghubung-hubungkan), kemampuan eksploratif dan elaboratif (menemukan dan menggali).

(c) Aspek sarana dan sumber pembelajaran: Pembelajaran terpadu memerlukan bahan bacaan atau sumber informasi yang cukup banyak dan bervariasi, termasuk juga fasilitas internet untuk menunjang, memperkaya, dan mempermudah pengembangan wawasan. Semua ini dapat diatasi karena internet mudah diakses dan warnet mudah ditemukan.

(d) Aspek kurikulum: Kurikulum harus luwes, berorientasi pada pencapaian ketuntasan pemahaman peserta didik (bukan pada pencapaian target penyampaian materi). Guru mempunyai kewenangan dalam mengembangkan materi, metode, penilaian keberhasilan pembelajaran peserta didik.

(e) Aspek penilaian: Pembelajaran terpadu membutuhkan cara penilaian yang menyeluruh (komprehensif), dalam menetapkan keberhasilan belajar peserta didik dengan penilaian yang bervariasi serta berkoordinasi dengan guru lain, bila materi pelajaran berasal dari guru yang berbeda.




10

Sekalipun pembelajaran terpadu mengandung beberapa kelemahan selain keunggulannya, sebagai sebuah bentuk inovasi dalam implementasi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar perlu dikembangkan lebih lanjut. Untuk mengurangi kelemahan-kelemahan di atas, perlu dibahas bersama antara guru bidang kajian terkait dengan sikap terbuka. Kesemuanya ini ditujukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pembelajaran IPA.



2. Pemaduan Konsep Dalam Pembelajaran IPA

Salah satu kunci pembelajaran terpadu yang terdiri atas beberapa bidang kajian adalah menyediakan lingkungan belajar yang menempatkan peserta didik mendapat pengalaman belajar yang dapat menghubungkaitkan konsep- konsep dari berbagai bidang kajian. Pengertian terpadu di sini mengandung makna menghubungkan IPA dengan berbagai bidang kajian (Carin 1997;236). Lintas bidang kajian dalam IPA adalah mengkoordinasikan berbagai disiplin ilmu seperti makhluk hidup dan proses kehidupan, energi dan perubahannya, materi dan sifatnya, geologi, dan astronomi. Sebenarnya IPA dapat juga dipadukan dengan bidang kajian lain di luar bidang kajian IPA dan hal ini lebih sesuai untuk jenjang pendidikan Sekolah Dasar. Mengingat pembahasan materi IPA pada tingkat lebih tinggi semakin luas dan mendalam, maka pada jenjang pendidikan SMP/MTs dan SMA/MA, akan lebih baik bila keterpaduan dibatasi pada bidang kajian yang termasuk bidang kajian IPA saja. Hal ini dimaksudkan agar tidak terlalu banyak guru yang terlibat, yang akan membuka peluang timbulnya kesulitan dalam pembelajaran dan penilaian, mengingat semakin tinggi jenjang pendidikan, maka semakin dalam dan luas pula pemahaman konsep yang harus diserap oleh peserta didik.

Pembelajaran terpadu diawali dengan penentuan TEMA, karena penentuan tema akan membantu peserta didik dalam beberapa aspek yaitu:
(a) peserta didik yang bekerja sama dengan kelompoknya akan lebih bertanggung jawab, berdisiplin, dan mandiri;
(b) peserta didik menjadi lebih percaya diri dan termotivas dalam belajar bila mereka berhasil menerapkan apa yang telah dipelajarinya;
(c) peserta didik lebih memahami dan lebih mudah mengingat karena mereka
‘mendengar’, ‘berbicara’, ‘membaca’, ‘menulis’ dan ‘melakukan’
kegiatan menyelidiki masalah yang sedang dipelajarinya;
(d) memperkuat kemampuan berbahasa peserta didik;
(e) belajar akan lebih baik bila peserta didik terlibat secara aktif melalui tugas proyek, kolaborasi, dan berinteraksi dengan teman, guru, dan dunia nyata.

Oleh karena itu, jika guru hendak melakukan pembelajaran terpadu dalam IPA, sebaiknya memilih tema yang menghubungkaitkan antara IPA–lingkungan- teknologi-masyarakat.

Berikut ini diberikan contoh pembelajaran IPA Terpadu dengan tema yang bernuansa IPA-lingkungan-teknologi-masyarakat.





11

Contoh 1:








Pengaruh asap rokok terhadap lingkungan
(pencemaran udara)



Pengaruh bahan kimia dalam kehidupan sehari- hari



Lingkungan Materi dan sifatnya

Rokok
Perokok aktif



Pengaruh rokok bagi kesehatan



Gangguan pada sistem pernapasan



Perokok pasif




Kesehatan Makhluk hidup dan
proses kehidupan



Gambar 2.1. Jaringan tema rokok







Contoh 2:


Matahari sebagai sumber energi









Aliran Energi








ENERGI







Hukum Kekekalan Energi






Perubahan bentuk energi di alam




Gambar 2.2 Jaringan Tema Energi










Contoh 3:



Pembakaran bahan-bahan fosil







Penebangan pohon Pelapukan




12






Proses-proses Yang Terjadi di Lapisan Biosfer








Penipisan Ozon








Efek Rumah Kaca








Pemanasan Global



Gambar 2.3 Jaringan Tema Proses-proses Yang Terjadi di Lapisan Biosfer



















































13

BAB III
STARTEGI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU



A. PERENCANAAN

Secara konseptual yang dimaksud terpadu pada pengembangan pembelajaran IPA dapat berupa contoh, aplikasi, pemahaman, analisis, dan evaluasi dalam mata pelajaran IPA.

Konsep-konsep yang dapat dipadukan pada semester yang berlainan pembelajarannya dapat dilaksanakan pada semester yang sama (tertentu) dengan tidak meninggalkan standar kompetensi dan kompetensi dasar pada semester lainnya. Sebaiknya tidak memadukan standar komnpetensi dan kompetensi dasar karena akan menyulitkan dalam penilaian.

Keberhasilan pembelajaran terpadu akan lebih optimal jika perencanaan mempertimbangkan kondisi dan potensi peserta didik (minat, bakat, kebutuhan, dan kemampuan). Standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dimiliki peserta didik sudah tercantum dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran IPA.

Ada berbagai model dalam mengembangkan pembelajaran IPA Terpadu yang dapat dilihat pada alur penyusunan perencanaan pembelajaran terpadu berikut ini:




Menetapkan bidang kajian yang akan dipadukan






Membuat matriks atau bagan hubungan kompetensi dasar dan tema atau topik pemersatu


Mempelajari Standar kompetensi dan kompetensi dasar bidang kajian




Merumuskan indikator pembelajaran terpadu





Memilih/menetapkan tema atau topik pemersatu





Menyusun silabus pembelajaran terpadu





Memetakan KD dan tema pemersatu


Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran terpadu





Gambar 3.1 Alur Penyusunan Perencanaan Pembelajaran Terpadu





14

Langkah (1):
Menetapkan bidang kajian yang akan dipadukan. Pada saat menetapkan beberapa bidang kajian yang akan dipadukan sebaiknya sudah disertai dengan alasan atau rasional yang berkaitan dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar oleh peserta didik dan kebermaknaan belajar. Contoh lihat lampiran.


Langkah (2):
Langkah berikutnya dalam pengembangan model pembelajaran terpadu adalah mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar dari bidang kajian yang akan dipadukan dan melakukan pemetaan pada semua Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar bidang kajian IPA per kelas yang dapat dipadukan. Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh. Contoh lihat lempiran.

Beberapa ketentuan dalam pemetaan Kompetensi Dasar dalam pengembangan model pembelajaran IPA terpadu adalah sebagai berikut.
a. Mengidentifikasikan beberapa Kompetensi Dasar dalam berbagai Standar
Kompetensi yang memiliki potensi untuk dipadukan.
b. Beberapa Kompetensi Dasar yang tidak berpotensi dipadukan, jangan dipaksakan untuk dipadukan dalam pembelajaran. Kompetensi Dasar yang tidak diintegrasikan dibelajarkan/disajikan secara tersendiri.
c. Kompetensi Dasar dipetakan tidak harus berasal dari semua Standar Kompetensi yang ada pada mata pelajaran IPA pada kelas yang sama, melainkan memungkinkan hanya dua atau tiga Kompetensi Dasar saja.
d. Kompetensi Dasar yang sudah dipetakan dalam satu topik/tema masih bisa dipetakan dengan topik/tema lainnya.



Langkah (3):
Setelah pemetaan Kompetensi Dasar selesai, langkah selanjutnya dilakukan penentuan tema pemersatu antar-Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Tema yang dipilih harus relevan dengan Kompetensi Dasar yang telah dipetakan dan dapat dirumuskan dengan melihat isu-isu yang terkini, misalnya penyakit demam berdarah, HIV/AIDS, dan lainnya, kemudian baru dilihat koneksitasnya dengan kompetensi dasar dari berbagai bidang kajian IPA. Dengan demikian, dalam satu mata pelajaran IPA pada satu tingkatan kelas terdapat beberapa topik yang akan dibahas. Contoh lihat lampiran

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan topik/tema pada pembelajaran IPA Terpadu antara lain meliputi hal-hal berikut.
a. Tema, dalam pembelajaran IPA Terpadu, merupakan perekat antar- Kompetensi Dasar yang terdapat dalam bidang kajian IPA.
b. Tema yang ditentukan selain relevan dengan Kompetensi-kompetensi Dasar yang terdapat dalam satu tingkatan kelas, juga sebaiknya relevan dengan pengalaman pribadi peserta didik, dalam arti sesuai dengan keadaan lingkungan setempat.
c. Dalam menentukan topik, isu sentral yang sedang berkembang saat ini, dapat menjadi prioritas yang dipilih dengan tidak mengabaikan keterkaitan antar- Kompetensi Dasar pada bidang kajian yang telah dipetakan.



15

Langkah (4):
Membuat matriks keterhubungan kompetensi dasar dan tema/topik pemersatu. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kaitan antara tema/topik dengan kompetensi dasar yang dapat dipadukan. Contoh lihat lampiran.


Langkah (5):
Setelah membuat matriks keterhubungan kompetensi dasar dan tema pemersatu, maka Kompetensi-kompetensi Dasar tersebut dijabarkan ke dalam indikator pencapaian hasil belajar yang nantinya digunakan untuk penyusunan silabus. Contoh lihat lampiran.


Langkah (6):
Menyusun silabus pembelajaran IPA terpadu, dikembangkan dari berbagai indikator bidang kajian IPA menjadi beberapa kegiatan pembelajaran yang konsep keterpaduan atau keterkaitan menyatu antara beberapa bidang kajian IPA. Komponen penyusunan silabus terdiri dari Standar Kompetensi IPA, Kompetensi Dasar, Indikator, Kegiatan Pembelajaran, Alokasi Waktu, Penilaian, dan Sumber Belajar. Contoh lihat lampiran.


Langkah (7):
Setelah teridentifikasi peta Kompetensi Dasar dan tema yang terpadu, selanjutnya adalah menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Pada pembelajaran IPA Terpadu, sesuai dengan Standar Isi, keterpaduan terletak pada strategi pembelajaran. Hal ini disebabkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar telah ditentukan dalam Standar Isi.

Rencana pelaksanaan pembelajaran tersebut merupakan realisasi dari pengalaman belajar peserta didik yang telah ditentukan pada silabus pembelajaran terpadu. Komponennya terdiri atas: identitas mata pelajaran, Kompetensi Dasar yang hendak dicapai, materi pokok beserta uraiannya, langkah pembelajaran, alat media yang digunakan, penilaian dan tindak lanjut, serta sumber bahan yang digunakan. Contoh lihat lampiran.



B. MODEL PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Model pembelajaran dalam hal ini adalah menjabarkan silabus menjadi rencana pelaksanaan pembelajaran terpadu, dikemas dalam kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup/tindak lanjut.


1. Kegiatan Awal/Pendahuluan
Kegiatan pendahuluan merupakan kegiatan awal yang harus ditempuh guru dan peserta didik pada setiap kali pelaksanaan pembelajaran terpadu. Fungsinya terutama untuk menciptakan suasana awal pembelajaran yang efektif, yang memungkinkan peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Efisiensi waktu dalam kegiatan awal ini perlu diperhatikan, karena waktu yang tersedia relatif singkat yaitu antara 5-10 menit. Dengan waktu yang relatif singkat tersebut, diharapkan guru dapat




16

menciptakan kondisi awal pembelajaran dengan baik sehingga peserta didik siap mengikuti pembelajaran dengan seksama.



Kegiatan utama yang dilaksanakan dalam pendahuluan pembelajaran ini di antaranya untuk menciptakan kondisi-kondisi awal pembelajaran yang kondusif, melaksanakan kegiatan apersepsi (apperception), dan penilaian awal (pre-test). Penciptaan kondisi awal pembelajaran dilakukan dengan cara: mengecek atau memeriksa kehadiran peserta didik (presence, attendance), menumbuhkan kesiapan belajar peserta didik (readiness), menciptakan suasana belajar yang demokratis, membangkitkan motivasi belajar peserta didik, dan membangkitkan perhatian peserta didik. Melaksanakan apersepsi (apperception) dilakukan dengan cara: mengajukan pertanyaan tentang bahan pelajaran yang sudah dipelajari sebelumnya dan memberikan komentar terhadap jawaban peserta didik, dilanjutkan dengan mengulas materi pelajaran yang akan dibahas. Melaksanakan penilaian awal dapat dilakukan dengan cara lisan pada beberapa peserta didik yang dianggap mewakili seluruh peserta didik, bisa juga penilaian awal ini dalam prosesnya dipadukan dengan kegiatan apersepsi.



2. Kegiatan Inti
Kegiatan inti merupakan kegiatan pelaksanaan pembelajaran terpadu yang menekankan pada proses pembentukan pengalaman belajar peserta didik
(learning experience). Pengalaman belajar dapat terjadi melalui kegiatan tatap muka dan kegiatan non-tatap muka. Kegiatan tatap muka dimaksudkan sebagai kegiatan pembelajaran yang peserta didik dapat berinteraksi langsung dengan guru maupun dengan peserta didik lainnya. Kegiatan nontatap muka dimaksudkan sebagai kegiatan pembelajaran yang dilakukan peserta didik dengan sumber belajar lain di luar kelas atau di luar sekolah.

Kegiatan inti pembelajaran terpadu bersifat situasional, yakni disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat. Terdapat beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam kegiatan inti pembelajaran terpadu, di antaranya adalah sebagai berikut ini.

a) Kegiatan yang paling awal: Guru memberitahukan tujuan atau kompetensi dasar yang harus dicapai oleh peserta didik beserta garis besar materi yang akan disampaikan. Cara yang paling praktis adalah menuliskannya di papan tulis dengan penjelasan secara lisan mengenai pentingnya kompetensi yang akan dikuasai oleh peserta didik tersebut.

b) Alternatif kegiatan belajar yang akan dialami peserta didik. Guru menyampaikan kepada peserta didik kegiatan belajar yang harus ditempuh peserta didik dalam mempelajari tema atau topik yang telah ditentukan. Kegiatan belajar hendaknya lebih mengutamakan aktivitas peserta didik, atau berorientasi pada aktivitas peserta didik. Guru sebagai fasilitator memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk belajar. Peserta didik diarahkan untuk menemukan sendiri apa yang dipelajarinya. Prinsip




17

belajar sesuai dengan ’konstruktivisme’ hendaknya dilaksanakan dalam pembelajaran terpadu

Dalam membahas dan menyajikan materi/bahan ajar terpadu, pembalajaran harus diarahkan pada suatu proses perubahan tingkah laku peserta didik, penyajian dan perubahan konsep harus dilakukan secara terpadu melalui penghubungan konsep di bidang kajian yang satu dengan konsep di bidang kajian lainnya. Guru harus berupaya untuk menyajikan bahan ajar dengan strategi mengajar yang bervariasi, yang mendorong peserta didik pada upaya penemuan pengetahuan baru, melalui pembelajaran yang bersifat perorangan, kelompok, dan klasikal.


3. Kegiatan Akhir/Penutup dan tindak lanjut

Kegiatan akhir dalam pembelajaran terpadu tidak hanya diartikan sebagai kegiatan untuk menutup pelajaran, tetapi juga sebagai kegiatan penilaian hasil belajar peserta didik dan kegiatan tindak lanjut. Kegiatan tindak lanjut harus ditempuh berdasarkan pada proses dan hasil belajar peserta didik. Waktu yang tersedia untuk kegiatan ini relatif singkat, oleh karena itu guru perlu mengatur dan memanfaatkan waktu seefisien mungkin. Secara umum kegiatan akhir dan tindak lanjut dalam pembelajaran terpadu di antaranya:
a) Mengajak peserta didik untuk menyimpulkan materi yang telah diajarkan.
b) Melaksanakan tindak lanjut pembelajaran dengan pemberian tugas atau latihan yang harus dikerjakan di rumah sebagai penerapan dan perluasan materi yang telah dipelajari, menjelaskan kembali bahan yang dianggap sulit oleh peserta didik, membaca materi pelajaran tertentu, memberikan motivasi atau bimbingan belajar.
c) Mengemukakan topik yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya. d) Memberikan evaluasi lisan atau tertulis.



C. PENILAIAN

Objek dalam penilaian pembelajaran terpadu mencakup penilaian terhadap proses dan hasil belajar peserta didik. Dalam penilaian proses belajar upaya pemberian nilai terhadap kegiatan pembelajaran dilakukan oleh guru dan peserta didik, sedangkan dalam penilaian hasil belajar proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai dengan menggunakan kriteria tertentu. Hasil belajar tersebut pada hakikatnya merupakan pencapaian kompetensi-kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kompetensi tersebut dapat dikenali melalui sejumlah hasil belajar dan indikatornya yang dapat dilakukan, diukur, dan diamati. Penilaian proses dan hasil belajar itu saling berkaitan satu dengan lainnya, hasil belajar merupakan akibat dari suatu proses belajar.


Penilaian yang dikembangkan mencakup teknik, bentuk dan instrumen yang digunakan terdapat pada lampiran. Model penilaian ini disesuaikan dengan penilaian berbasis kelas pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Objek penilaian mencakup penilaian terhadap proses dan hasil belajar peserta didik.




18

1. Teknik Penilaian

Teknik penilaian merupakan cara yang digunakan dalam melaksanakan penilaian tersebut. Teknik-teknik yang dapat diterapkan untuk jenis tagihan tes meliputi: (1) Kuis dan (2) Tes Harian.

Untuk jenis tagihan nontes, teknik-teknik penilaian yang dapat diterapkan adalah: (1) observasi, (2) angket, (3) wawancara,(4) tugas, (5) proyek, dan
(6) portofolio.



2. Bentuk Instrumen

Bentuk instrumen merupakan alat yang digunakan dalam melakukan penilaian/pengukuran/evaluasi terhadap pencapaian kompetensi peserta didik. Bentuk-bentuk instrumen yang dikelompokkan menurut jenis tagihan dan teknik penilaian adalah:

 Tes: isian, benar-salah, menjodohkan, pilihan ganda, uraian, dan unjuk kerja

 Nontes: panduan dan lembar/format rambu-rambu observasi, kuesioner, rambu-rambu wawancara, dan rubrik.



3. Instrumen

Instrumen merupakan alat yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi untuk mengukur tingkat ketercapaian kompetensi atau pencapaian kompetensi.

Apabila penilaian menggunakan tehnik tes tertulis uraian, tes unjuk kerja dan tugas rumah yang berupa proyek, harus disertai rubrik penilaian.



Jenis penilaian terpadu terdiri atas tes dan bukan tes. Sistem penilaian dengan menggunakan tes merupakan sistem penilaian konvensional. Sistem ini kurang dapat menggambarkan kemampuan peserta didik secara menyeluruh, sebab hasil belajar digambarkan dalam bentuk angka yang gambaran maknanya sangat abstrak. Oleh karena itu untuk melengkapi gambaran kemajuan belajar secara menyeluruh maka dilengkapi dengan non-tes, seperti terlihat pada gambar di bawah ini.




















19



PENILAIAN







Non tes





Pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai






Tes






Tes lisan Tes tertulis Tes perbuatan




 Skala sikap
 Daftar periksa
 Kuesioner
 Catatan anekdot
 Portofolio
 Catatan sekolah




Tes tertulis/ uraian

 Tertutup/ terbatas/ terstruktur
 Bebas terbuka







Tes tertulis/
objektif
 Pilihan ganda
 Benar salah
 Menjodohkan
 Isian singkat
 Isian panjang
 Isian khusus




Gambar 3.2 Model penilaian pembelajaran terpadu



Guru dapat mempraktikkan beberapa teknik penilaian, baik yang termasuk dalam ranah kognitif, afektik, maupun psikomotor. Tugas berupa laporan baik secara individu maupun kelompok sebaiknya berupa tugas aplikasi, misalnya merupakan hasil pengamatan di luar kelas. Dapat pula berupa tugas sintesis dan evaluasi, misalnya tugas pemecahan masalah lingkungan dan usulan cara penanggulangannya. Melalui penugasan ini maka kemampuan berpikir dan kepekaan peserta didik akan terasah.

Untuk keperluan pelaporan hasil penilaian guru dapat memberikan bobot bagi setiap tugas yang diberikan tergantung pada pertimbangan guru sesuai dengan karakteristik tugas, baik tes maupun nontes. Penilaian untuk pelaporan mengacu pada pedoman penilaian. Oleh karena keterpaduan pembelajaran IPA meliputi bidang kajian energi dan perubahannya, materi dan sifatnya, makhluk hidup dan proses kehidupan, maka dalam pelaporan hasil penilaian tidak menjadi masalah. Ketiganya akan dipadukan menjadi nilai bidang kajian IPA .















20

BAB IV
IMPLIKASI PEMBELAJARAN IPA TERPADU



Sesuatu yang baru diperkenalkan atau merupakan inovasi tentu tidak mudah untuk dilaksanakan, karena memerlukan penyesuaian diri dan kemauan untuk beradaptasi. Begitu pula dengan pembelajaran IPA Terpadu. Pembelajaran terpadu biasa dilakukan jenjang pendidikan usia dini dan/atau di Sekolah Dasar, namun tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu jenjang SMP/MTs dan SMA/MA. Hasil uji coba menunjukkan bahwa pembelajaran terpadu dapat dilaksanakan.



A. Guru

Pembelajaran IPA Terpadu merupakan pendekatan yang mencoba menggabungkan antara berbagai bidang kajian IPA, yaitu fisika, kimia, dan biologi, maka dalam pelaksanaannya tidak lagi terpisah-pisah melainkan menjadi satu kesatuan. Hal ini memberikan implikasi terhadap guru yang mengajar di kelas.

Di sekolah pada umumnya guru-guru yang tersedia terdiri atas guru-guru disiplin ilmu seperti fisika, kimia, dan biologi. Guru dengan latar belakang tersebut tentunya sulit untuk beradaptasi ke dalam pengintegrasian bidang kajian IPA, karena mereka yang memiliki latar belakang fisika tidak memiliki kemampuan yang optimal pada Kimia dan Biologi, begitu pula sebaliknya. Di samping itu, pembelajaran IPA juga menimbulkan konsekuensi terhadap berkurangnya beban jam pelajaran yang diemban guru-guru yang tercakup ke dalam bidang kajian IPA, sementara ketentuan yang berkaitan dengan kewajiban atas beban jam mengajar untuk setiap guru masih tetap.

Untuk itu, dalam pembelajaran IPA terpadu dapat dilakukan dengan dua cara, yakni: (a) team teaching, dan (b) guru tunggal. Hal tersebut disesuaikan dengan keadaan guru dan kebijakan sekolah masing-masing.

1. Team Teaching

Pembelajaran terpadu dalam hal ini diajarkan dengan cara team teaching; satu topik pembelajaran dilakukan oleh lebih dari satu orang guru. Setiap guru memiliki tugas masing-masing sesuai dengan keahlian dan kesepakatan. Kelebihan sistem ini antara lain adalah: (1) pencapaian KD pada setiap topik efektif karena dalam tim terdiri atas beberapa guru yang ahli dalam masing- masing bidang kajian (Fisiska dan Biologi), (2) pengalaman dan pemahaman peserta didik lebih kaya daripada dilakukan oleh satu orang guru karena dalam satu tim dapat mengungkapkan berbagai konsep dan pengalaman, dan
(3) peserta didik akan lebih cepat memahami karena diskusi akan berjalan dengan nara sumber dari berbagai disiplin ilmu.

Kelemahan dari sistem ini antara lain adalah jika tidak ada koordinasi, maka setiap guru dalam tim akan saling mengandalkan sehingga pencapaian KD tidak akan terpenuhi. Selanjutnya, jika kurang persiapan, penampilan di kelas akan tersendat-sendat karena skenario tidak berjalan dengan semestinya, sehingga para guru tidak tahu apa yang akan dilakukan di dalam kelas.



21

Untuk itu maka diperlukan beberapa langkah seperti berikut.

(a) Dilakukan penelaahan untuk memastikan berapa KD dan SK yang harus dicapai dalam satu topik pembelajaran. Hal ini berkaitan dengan berapa guru bidang studi IPA yang dapat dilibatkan dalam pembelajaran pada topik tersebut.

(b) Setiap guru bertanggung jawab atas tercapainya KD yang termasuk dalam SK yang ia mampu, seperti misalnya SK-1 oleh guru dengan latar belakang biologi, SK-2 oleh guru dengan latar belakang fisika, dan seterusnya.

(c) Disusun skenario pembelajaran dengan melibatkan semua guru yang termasuk ke dalam topik yang bersangkutan, sebagai koordinator dipilih sesuai dengan presentase materi tertinggi/terbanyak sehingga setiap anggota memahami apa yang harus dikerjakan dalam pembelajaran tersebut.

(d) Sebaiknya dilakukan simulasi terlebih dahulu jika pembelajaran dengan sistem ini merupakan hal yang baru, sehingga tidak terjadi kecanggungan di dalam kelas.

(e) Evaluasi menjadi tanggung jawab guru koordinator sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang dicapai, sehingga nilai dari setiap Kompetensi Dasar dan Standar Kompetensi menjadi nilai mata pelajaran IPA, sedangkan guru yang lain diharapkan memberikan soal.

(f) Remedial menjadi tanggung jawab masing-masing guru sesuai dengan nilai yang diperoleh.

Dalam bab sebelumnya telah diuraikan, bahwa yang terpenting adalah kerja sama antarguru IPA yang ada di suatu sekolah dalam membuat perencanaan pembelajaran, mulai dari silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran hingga kesepakatan dalam bentuk penilaian. Bila hal ini dapat dilaksanakan, maka pembelajaran terpadu dapat meningkatkan kerja sama antar guru IPA, baik yang ada di sekolah maupun dalam lingkup MGMP. Kerja sama ini meliputi saling mempelajari materi dari bidang kajian yang lain. Selain meningkatkan kerja sama, pembelajaran terpadu juga meningkatkan keharusan bagi guru untuk memperluas wawasan pengetahuannya.



2. Guru Tunggal

Pembelajaran IPA dengan satu orang guru merupakan hal yang ideal dilakukan. Hal ini disebabkan: (1) IPA merupakan satu mata pelajaran, (2) guru dapat merancang skenario pembelajaran sesuai dengan topik yang ia kembangkan tanpa konsolidasi terlebih dahulu dengan guru yang lain, dan (3) oleh karena tanggung jawab dipikul seorang diri, maka potensi untuk saling mengandalkan tidak akan muncul.

Namun demikian, terdapat beberapa kelemahan dalam pembelajaran IPA terpadu yang dilakukan oleh guru tunggal, yakni: (1) oleh karena mata pelajaran IPA terpadu merupakan hal yang baru, sedangkan guru-guru yang tersedia merupakan guru bidang studi sehingga sangat sulit untuk melakukan



22

penggabungan terhadap berbagai bidang studi tersebut, (2) seorang guru bidang studi fisika tidak menguasai secara mendalam tentang kimia dan biologi sehingga dalam pembelajaran IPA terpadu akan didominasi oleh bidang studi yang selama ini diajarkannya (sesuai dengan latar belakangnya), serta (3) jika skenario pembelajaran tidak menggunakan metode yang inovatif maka pencapaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar tidak akan tercapai karena akan menjadi sebuah narasi yang kering tanpa makna.


Untuk tercapainya pembelajaran IPA Terpadu yang dilakukan oleh guru tunggal tersebut, maka dapat dilakukan beberapa hal sebagai berikut.

(a) Guru-guru yang tercakup ke dalam mata pelajaran IPA diberikan pelatihan bidang-bidang studi di luar bidang keahliannya, seperti guru bidang studi Fisika diberikan pelatihan tentang bidang studi Kimia dan Biologi.

(b) Koordinasi antarbidang studi yang tercakup dalam mata pelajaran IPA tetap dilakukan, untuk mereviu apakah skenario yang disusun sudah dapat memenuhi persyaratan yang berkaitan dengan bidang studi di luar yang ia mampu.

(c) Disusun skenario dengan metode pembelajaran yang inovatif dan memunculkan nalar para peserta didik sehingga guru tidak terjebak ke dalam pemaparan yang parsial bidang studi.

(d) Persiapan pembelajaran disusun dengan matang sesuai dengan target pencapaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar sesuai dengan topik yang dihasilkan dari pemetaan yang telah dilakukan.


Pembelajaran terpadu oleh guru tunggal dapat memperkecil masalah pelaksanaannya yang menyangkut jadwal pelajaran. Secara teknis, pengaturannya dapat dilakukan sejak awal semester atau awal tahun pelajaran. Hal yang perlu dihindarkan adalah pembahasan materi yang tidak seimbang karena wawasan pengetahuan tentang materi pelajaran yang lain kurang memadai. Hal utama yang harus dilakukan guru adalah memahami model pembelajaran terpadu secara konseptual maupun praktikal.




B. Peserta didik

Dilihat dari aspek peserta didik, pembelajaran IPA Terpadu memiliki peluang untuk pengembangan kreativitas akademik. Hal ini disebabkan model ini menekankan pada pengembangan kemampuan analitik terhadap konsep-konsep yang dipadukan, karena dapat mengembangkan kemampuan sintesis konsep dan aplikasi konsep, kemampuan asosiatif, serta kemampuan eksploratif dan elaboratif.


Selain itu, model pembelajaran IPA Terpadu dapat mempermudah dan memotivasi peserta didik untuk mengenal, menerima, menyerap, dan memahami keterkaitan atau hubungan antara konsep, pengetahuan, nilai atau tindakan yang terdapat dalam beberapa indikator dan Kompetensi Dasar. Dengan mempergunakan model pembelajaran IPA Terpadu, secara psikologik, peserta



23

didik digiring berpikir secara luas dan mendalam untuk menangkap dan memahami hubungan-hubungan konseptual yang disajikan guru. Selanjutnya, peserta didik akan terbiasa berpikir terarah, teratur, utuh, menyeluruh, sistemik, dan analitik. Dengan demikian, pembelajaran model ini menuntun kemampuan belajar peserta didik lebih baik, baik dalam aspek intelegensi maupun kreativitas. Pembelajaran terpadu perlu dilakukan dengan variasi metode yang tidak membosankan. Aktivitas pembelajaran harus lebih banyak berpusat pada peserta didik agar dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya.



C. Bahan Ajar

Bahan ajar memiliki peran yang penting dalam pembelajaran termasuk dalam pembelajaran terpadu. Oleh karena pembelajaran terpadu pada dasarnya merupakan perpaduan dari berbagai disiplin ilmu yang tercakup dalam ilmu alam maka pembelajaran ini memerlukan bahan ajar yang lebih lengkap dan komprehensif dibandingkan dengan pembelajaran monolitik. Dalam satu topik pembelajaran, diperlukan sejumlah sumber belajar yang sesuai dengan jumlah Standar Kompetensi yang merupakan jumlah bidang kajian yang tercakup di dalamnya.

Sumber belajar utama yang dapat digunakan dalam pembelajaran IPA Terpadu dapat berbentuk teks tertulis seperti buku, majalah, brosur, surat kabar, poster dan informasi lepas, atau berupa lingkungan sekitar seperti: lingkungan alam, lingkungan sosial sehari-hari. Seorang guru yang akan menyusun materi perlu mengumpulkan dan mempersiapkan bahan kepustakaan atau rujukan (buku dan pedoman yang berkaitan dan sesuai) untuk menyusun dan mengembangkan silabus. Pencarian informasi ini, sebenarnya dapat pula memanfaatkan perangkat teknologi informasi mutakhir seperti multimedia dan internet. Aktivitas peserta didik dalam penugasan dapat memberi nilai tambah yang menguntungkan.



Bahan yang akan digunakan dapat berbentuk buku sumber utama atau buku penunjang lainnya. Di samping itu, bahan bacaan penunjang seperti jurnal, hasil penelitian, majalah, koran, brosur, serta alat pembelajaran yang terkait dengan indikator dan Kompetensi Dasar ditetapkan. Sebagai bahan penunjang, dapat juga digunakan disket, kaset, atau CD yang berkaitan dengan bahan yang akan dipadukan. Guru, dalam hal ini, dituntut untuk rajin dan kreatif mencari dan mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan dalam pembelajaran. Keberhasilan seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran terpadu tergantung pada wawasan, pengetahuan, pemahaman, dan tingkat kreativitasnya dalam mengelola bahan ajar. Semakin lengkap bahan yang terkumpulkan dan semakin luas wawasan dan pemahaman guru terhadap materi tersebut maka berkecenderungan akan semakin baik pembelajaran yang dilaksanakan.

Bahan yang sudah terkumpul selanjutnya dipilah, dikelompokkan, dan disusun ke dalam indikator dari Kompetensi Dasar. Setelah bahan-bahan yang diperlukan terkumpul secara memadai, seorang guru selanjutnya perlu mempelajari secara cermat dan mendalam tentang isi bahan ajar yang berkaitan dengan langkah kegiatan berikutnya.



24

D. Sarana dan Prasarana
Dalam pembelajaran IPA terpadu diperlukan berbagai sarana dan prasarana pembelajaran yang pada dasarnya relatif sama dengan pembelajaran yang lainnya, hanya saja ia memiliki kekhasan tersendiri dalam beberapa hal. Dalam pembelajaran IPA Terpadu, guru harus memilih secara jeli media yang akan digunakan, dalam hal ini media tersebut harus memiliki kegunaan yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai bidang studi yang terkait dan tentu saja terpadu. Karena digunakan untuk pembelajaran konsep yang direkatkan oleh tema, maka penggunaan sarana pembelajaran dapat lebih efisien jika dibandingkan dengan pemisahan bidang kajian.

Namun demikian, dalam pembelajaran ini tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan sarana yang relatif lebih banyak dari pembelajaran monolitik. Hal ini disebabkan untuk memberikan pengalaman yang terpadu, peserta didik harus diberikan ilustrasi dan demonstrasi yang komprehensif untuk satu topik tertentu. Guru dalam pembelajaran ini diharapkan dapat mengoptimalkan sarana yang tersedia untuk mencapai tujuan pembelajaran IPA Terpadu.















































25

LAMPIRAN PETA STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR IPA TERPADU



A. PETA STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR YANG BERPOTENSI IPA TERPADU



Kelas VII Semester 1

Fisika Kimia Biologi Tema



STANDAR KOMPETENSI: 3
Memahami wujud zat dan perubahannya

Kompetensi Dasar: 3.1
Menyelidiki sifat-sifat zat berdasarkan wujudnya dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari



STANDAR KOMPETENSI: 4
Memahami berbagai sifat dalam perubahan fisika dan kimia

Kompetensi Dasar: 4.1
Membandingkan sifat fisika dan sifat kimia zat






Wujud Zat dan
Kelarutan

-









STANDAR KOMPETENSI: 3
Memahami wujud zat dan perubahannya


Kompetensi Dasar: 3.4
Mendeskripsikan peran kalor dalam mengubah wujud zat dan suhu suatu benda serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari











STANDAR KOMPETENSI: 4
Memahami berbagai sifat dalam perubahan fisika dan kimia


Kompetensi Dasar: 4.2
Melakukan pemisahan campuran dengan berbagai cara berdasarkan sifat fisika dan sifat kimia


Kompetensi Dasar: 4.4
Mengidentifikasi terjadinya reaksi kimia melalui percobaan sederhana



Suhu, Kalor, dan
Penyulingan



-


















26


Kelas VIII Semester 1

Fisika Kimia Biologi Tema




- STANDAR KOMPETENSI: 4
Memahami kegunaan bahan kimia dalam kehidupan


Kompetensi Dasar: 4.3
Mendeskripsikan bahan kimia alami dan buatan dalam kemasan yang terdapat dalam bahan makanan
STANDAR KOMPETENSI: 4
- Memahami kegunaan bahan kimia dalam kehidupan


Kompetensi Dasar: 4.5
Menghindarkan diri dari pengaruh zat adiktif dan psikotropika.





STANDAR KOMPETENSI: 1
Memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia


Kompetensi Dasar: 1.4
Mendeskripsikan sistem pencernaan pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan


STANDAR KOMPETENSI: 1
Memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia


Kompetensi Dasar: 1.5
Mendeskripsikan sistem pernapasan pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan




Bahan Kimia dalam
Makanan











Rokok dan Kesehatan


























27

LAMPIRAN PETA STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR IPA TERPADU



B. PEMETAAN STANDAR KOMPETENSI, KOMPETENSI DASAR, DAN INDIKATOR IPA TERPADU



Kelas VII Semester 1

Fisika Kimia Biologi Tema indikator

 Mengamati terjadinya

STANDAR KOMPETENSI: 3
Memahami wujud zat dan perubahannya



Kompetensi Dasar: 3.1
Menyelidiki sifat-sifat zat berdasarkan wujudnya dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari





















STANDAR KOMPETENSI: 4
Memahami berbagai sifat dalam perubahan fisika dan kimia

Kompetensi Dasar: 4.1
Membandingkan sifat fisika dan sifat kimia zat























Wujud Zat dan
Kelarutan

-




























perubahan wujud suatu zat
 Menggambarkan susunan dan gerak partikel pada berbagai wujud zat melalui penalaran
 Menentukan titik didih, titik leleh dan titik beku bahan- bahan materi dan sifatnya di rumah tangga berdasarkan data percobaan.
 Menunjukkan perbedaan antara titik didih dan titik leleh.
 Menyebutkan faktor- faktor yang mempengaruhi kelarutan zat berdasarkan data percobaan.
 Menjelaskan variabel kontrol dan variabel




28



Fisika Kimia Biologi Tema indikator

manipulasi dalam proses pelarutan










































29



Fisika Kimia Biologi Tema indikator

 Menunjukkan pengaruh

STANDAR KOMPETENSI: 3
Memahami wujud zat dan perubahannya


Kompetensi Dasar: 3.4
Mendeskripsikan peran kalor dalam mengubah wujud zat dan suhu suatu benda serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari































STANDAR KOMPETENSI: 4
Memahami berbagai sifat dalam perubahan fisika dan kimia


Kompetensi Dasar: 4.2
Melakukan pemisahan campuran dengan berbagai cara berdasarkan sifat fisika dan sifat kimia


Kompetensi Dasar: 4.4
Mengidentifikasi terjadinya reaksi kimia melalui percobaan sederhana























Suhu, Kalor, dan
Penyulingan









































kalor terhadap:
- perubahan suhu benda
- perubahan wujud zat
 Menyebutkan:
faktor-faktor yang dapat mempercepat penguapan
 Menentukan banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu zat
 Menentukan banyaknya kalor yang dibutuhkan pada saat mendidih
dan melebur
 Menerapkan hubungan
Q = m. C . ∆t;
Q = m. U dan
Q = m. L untuk memecahkan masalah sederhana
 Merancang dan membuat peralatan sederhana yang memanfaatkan prinsip kalor *)
 Menerapkan azas Black untuk menyelesaikan masalah sehubungan dengan kalor *)
 Mengidentifikasi pemisahan

30campuran,
berdasarkan ukuran partikel dan titik didih.




Kelas VIII Semester 1

Fisika Kimia Biologi Tema Indikator

 Mengidentifikasi

- STANDAR KOMPETENSI: 4
Memahami kegunaan bahan kimia dalam kehidupan


Kompetensi Dasar: 4.3
Mendeskripsikan bahan kimia alami dan buatan dalam kemasan yang terdapat dalam bahan makanan




















STANDAR KOMPETENSI: 1
Memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia


Kompetensi Dasar: 1.4
Mendeskripsikan sistem pencernaan pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan




















Bahan Kimia dalam
Makanan































contoh bahan-bahan kimia yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna, pemanis, pengawet, dan penyedap yang terdapat dalam bahan makanan dan minuman kemasan.
 Mengidentifikasi contoh bahan-bahan kima buatan yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna, pemanis, pengawet, penyedap, dan pengembang) yang terdapat dalam bahan makanan kemasan.
 Mendeskripsikan jenis makanan bagi bayi berdasar kandungan zat yang ada di dalamnya



STANDAR KOMPETENSI: 4
- Memahami kegunaan bahan



STANDAR KOMPETENSI: 1
Memahami berbagai


Rokok dan Kesehatan  Menjelaskan dampak negatif rokok bagi




31




Fisika Kimia Biologi Tema Indikator


kimia dalam kehidupan


Kompetensi Dasar: 4.5
Menghindarkan diri dari pengaruh zat adiktif dan psikotropika.













sistem dalam kehidupan manusia


Kompetensi Dasar: 1.5
Mendeskripsikan sistem pernapasan pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan










kesehatan, ekonomi, dan sosial.
 Menjelaskan cara menghindarkan diri dari rokok Menjelaskan proses inspirasi dan ekspirasi pada proses pernapasan
 Mendata contoh kelainan dan penyakit pada sistem pernapasan yang biasa dijumpai dalam kehidupan
sehari-hari dan upaya mengatasinya

























32




SILABUS PEMBELAJARAN IPA TERPADU

SATUAN PENDIDIKAN : SMP/MTs
MATA PELAJARAN : Ilmu Pengetahuan Alam
KELAS : VII/1
TEMA : Wujud zat dan kelarutan





Bidang
Kajian






Kompetensi Dasar Kegiatan Pembelajaran






Penilaian
Indikator Teknik Bentuk Instrumen Contoh
Instrumen





Alokasi
Waktu






Sumber
Belajar


Energi dan perubah annya



















3.1 Menyelidiki sifat-sifat zat berdasarkan wujudnya dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari














 Melakukan percobaan untuk menyelidiki terjadinya perubahan wujud






 Mendiskusikan susunan dan gerak partikel pada berbagai perubahan wujud







 Mengamati terjadinya perubahan wujud suatu zat






 Menggambarkan susunan dan gerak partikel pada berbagai wujud zat
melalui penalaran



Tes unjuk kerja










Tes tulis











Uji petik proses dan produk









Uraian











Rubrik (skala penilaian) Lakukan percobaan tentang terjadinya perubahan wujud zat dan kelarutan zat

Gambarkan susunan partikel zat padat

Berikan contoh penerapan perubahan wujud dalam kehidupan sehari-hari

4 jp  Buku IPA
 Bahan referensi lainnya
 Lingkung- an sekitar
















Materi dan sifatnya

4.1 Membanding- kan fisika dan kimia zat

 Menganalisis data titik didih, titik leleh dan titik beku beberapa bahan

 Menentukan titik didih, titik leleh dan titik

Tes tertulis Uraian Tuliskan perbedaan antara titik didih dengan






33





Bidang
Kajian






Kompetensi Dasar Kegiatan Pembelajaran






Penilaian
Indikator Teknik Bentuk Instrumen Contoh
Instrumen





Alokasi
Waktu






Sumber
Belajar


materi dan sifatnya di rumah tangga














 Melakukan percobaan faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan zat dan menentukan variabel kontrol dan variabel manipulasinya












beku bahan- bahan materi dan sifatnya di rumah tangga berdasarkan data percobaan.
 Menunjukkan perbedaan antara titik didih dan titik leleh.

 Menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan zat berdasarkan data percobaan.
 Menjelaskan variabel kontrol dan variabel manipulasi dalam proses pelarutan


















Tes harian Unjuk kerja



















titik leleh Perhatikan data dalam tabel/grafik. Berikan kesimpulan berkenaan
dengan titik didih, titik leleh, dan titik beku




Ukur suhu air di gelas materi dan sifatnya I dan gelas materi dan sifatnya II menggunakan termometer. Apakah terjadi perubahan wujud ketika proses pelarutan.












34




SATUAN PENDIDIKAN : SMP/MTs
MATA PELAJARAN : Ilmu Pengetahuan Alam
KELAS : VII/1
TEMA : Suhu, Kalor, dan Penyulingan




Bidang
Kajian





Kompetensi Dasar Kegiatan Pembelajaran Indikator






Penilaian

Teknik Bentuk
Instrumen





Contoh
Instrumen




Alokasi
Waktu





Sumber Belajar



Energi dan perubahan- nya



























3.4 Mendeskripsi- kan peran kalor dalam mengubah wujud zat dan suhu suatu benda serta penerapan-nya dalam kehidupan sehari-hari

















 Melakukan percobaan untuk menyelidiki:
- Pengaruh kalor terhadap perubahan suhu dan wujud zat
- Faktor-faktor yang mempercepat penguapan
- Cara memisahkan campuran
- Cara menjernihkan air
 Mendiskusikan:
- Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan
- Variabel kontrol, manipulasi

 Menunjukkan pengaruh kalor terhadap:
- perubahan suhu benda
- perubahan wujud zat
 Menyebutkan:
faktor-faktor yang dapat mempercepat penguapan
 Menentukan banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu zat
 Menentukan banyaknya kalor yang dibutuhkan pada saat mendidih dan melebur
 Menerapkan hubungan Q
= m. C . ∆t;
Q = m. U dan
Q = m. L untuk memecahkan masalah sederhana
 Merancang dan

Unjuk
Kerja








Tes tertulis


















Uji petik prosedur dan produk





Uraian



















Lakukan percobaan pengaruh kalor terhadap perubahan suhu dan wujud zat

Apa hubungan antara titik didih, titik beku, dengan perubahan wujud? Jelaskan!












8 jp  Buku IPA
 Lingkungan
Sekitar































35





Bidang
Kajian






Kompetensi Dasar Kegiatan Pembelajaran Indikator






Penilaian

Teknik Bentuk
Instrumen






Contoh
Instrumen





Alokasi
Waktu






Sumber Belajar













Materi dan sifatnya




































4.2 Melakukan pemisahan campuran dengan berbagai cara berdasarkan sifat fisika dan sifat kimia






4.4 Mengidentifi- kasi terjadinya reaksi kimia melalui percobaan sederhana




dalam proses kelarutan
- Pemisahan campuran berdasarkan ukuran partikel dan titik didih


















 Melakukan percobaan terjadinya reaksi kimia berdasarkan: perubahan warna, perubahan suhu, terbentuknya endapan, dan

membuat peralatan sederhana yang memanfaatkan prinsip kalor *)
 Menerapkan azas Black untuk menyelesaikan masalah sehubungan dengan kalor *)
 Mengidentifikasi pemisahan campuran, berdasarkan ukuran partikel dan titik didih.
 Melakukan percobaan untuk memisahkan
campuran yang sesuai dengan metode yang dipilih (penyaringan, destilasi, penguapan, dan sublimasi).

 Menunjukkan terjadinya reaksi kimia berdasarkan perubahan warna.
 Menunjukkan terjadinya reaksi kimia berdasarkan perubahan suhu











Tes unjuk kerja













Tes unjuk kerja

















Tes identifikasi














Unjuk kerja prosedur dan produk















Kelompokkan bahan berikut
(setelah didiskusikan) sesuai dengan: a. ukuran
partikel b. titik didih







Lakukan percobaan terjadinya reaksi kimia

Tuliskan langkah- langkah kerja





36





Bidang
Kajian




















Kompetensi Dasar Kegiatan Pembelajaran Indikator


terbentuknya gas (reaksi eksoterm dan reaksi endoterm).
 Menunjukkan terjadinya reaksi kimia berdasarkan terbentuknya endapan.
 Menunjukkan terjadinya reaksi kimia berdasarkan terbentuknya gas.




Penilaian

Teknik Bentuk
Instrumen




















Contoh
Instrumen
yang dilakukan sampaikamu menyimpulkan. Petunjuk apa yang digunakan bahwa itu reaksi kimia?









Alokasi
Waktu




















Sumber Belajar












































37




SATUAN PENDIDIKAN : SMP/MTs
MATA PELAJARAN : Ilmu Pengetahuan Alam
KELAS : VIII/1
TEMA : Bahan Kimia Dalam Makanan




Bidang
Kajian





Kompetensi Dasar Kegiatan Pembelajaran Indikator






Penilaian

Teknik Bentuk
Instrumen





Contoh
Instrumen




Alokasi
Waktu





Sumber
Belajar


Materi dan sifatnya

























4.3 Mendeskripsikan bahan kimia alami dan bahan kimia buatan dalam kemasan yang terdapat dalam bahan makanan




















 Mengklasifikasikan bahan kimia dalam makanan dan minuman dalam kemasan





















 Mengidentifikasi contoh bahan-bahan kimia yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna, pemanis, pengawet, dan penyedap yang terdapat dalam bahan makanan dan minuman kemasan.
 Mengidentifikasi contoh bahan-bahan kima buatan yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna, pemanis, pengawet, penyedap, dan pengembang) yang terdapat dalam bahan makanan kemasan.

Tes unjuk kerja
























Tes identifikasi

























Kelompokkan bahan-bahan makanan kemasan yang mengandung: a. bahan
pengawet b. bahan
penyedap c. bahan
pewarna Catatlah jenis- jenis bahan yang ditambahkan dalam makanan dan minuman kemasan minimal 10!

4 jp  Buku IPA
 Lingkungan sekitar































38





Bidang
Kajian































Kompetensi Dasar Kegiatan Pembelajaran Indikator













 Mengidentifikasi bahan kimia dalam kemasan susu bayi dan kaitannya dengan kesehatan













Penilaian

Teknik Bentuk
Instrumen
Uraian









Tes tertulis



















Contoh
Instrumen
Kelompokkan bahantersebut termasuk bahan pengawet, penyedap, atau pewarna!

 Sebutkan bahan- bahan kimia yang terdapat dalam kemasan makanan ringan, contoh: keripik kentang





Alokasi
Waktu































Sumber
Belajar




























Makhluk hidup dan proses kehidupan







1.4 Mendeskripsi- kan sistem pencernaan pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan


Mendeskripsikan jenis makanan bayi berdasar kandungan zat yang ada di dalamnya







 Jelaskan efek samping bahan kimia dalam kemasan susu bayi






39




oiSATUAN PENDIDIKAN : SMP/MTs
MATA PELAJARAN : Ilmu Pengetahuan Alam
KELAS : VIII/1
TEMA : Rokok dan Kesehatan



Bidang
Kajian




Kompetensi Dasar Kegiatan Pembelajaran Indikator





Penilaian

Teknik Bentuk
Instrumen




Contoh
Instrumen



Alokasi
Waktu




Sumber
Belajar


Materi dan sifatnya







Makhluk hidup dan proses kehidupan







4.5 Menghindarkan diri dari pengaruh zat adiktif dan psikotropika.




1.5 Mendeskripsikan sistem pernapasan pada manusia dan hubungannya
dengan kesehatan





 Menggali informasi dampak negatif rokok dan penyakit pada sistem pernapasan
 Menulis artikel atau membuat leaflet tentang cara menghindarkan diri dari asap rokok









 Menjelaskan dampak negatif rokok bagi kesehatan, ekonomi, dan sosial.
 Menjelaskan cara menghindarkan diri dari rokok
 Menjelaskan proses inspirasi dan ekspirasi pada proses pernapasan
 Mendata contoh kelainan dan penyakit pada sistem pernapasan yang biasa dijumpai dalam
kehidupan sehari-hari dan upaya mengatasinya

Tugas Tugas rumah



















Buatlah kliping atau leaflet tentang bahaya rokok

Carilah informasi tentang bahaya rokok dari iklan-iklan yang dipasang atau ditayangkan di TV
Buat daftarnya secara berurut!

2 jp  Buku IPA
 Bahan referensi lainnya































40




Satuan Pendidikan : SMP/MTs
Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam
Kelas : VII/1
Tema : Wujud zat dan kelarutan
Alokasi Waktu : 4 jam pelajaran (2 kali pertemuan)


A. Standar Kompetensi:
Energi dan Perubahannya (3) : Memahami wujud zat dan perubahannya
Materi dan sifatnya (4) : Memahami berbagai sifat dalam perubahan fisika dan kimia


B. Kompetensi Dasar dan Contoh Indikator:
Energi dan Perubahannya (3.1):
Menyelidiki sifat-sifat zat berdasarkan wujudnya dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
 Mengamati terjadinya perubahan wujud suatu zat
 Menggambarkan susunan dan gerak partikel pada berbagai wujud zat melalui penalaran


Materi dan sifatnya (4.1):
Membandingkan sifat fisika dan sifat kimia zat
 Menentukan titik didih, titik leleh, dan titik beku bahan-bahan materi dan sifatnya di rumah tangga berdasarkan data percobaan.
 Menunjukkan perbedaan antara titik didih dan titik leleh.
 Menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan zat berdasarkan data percobaan.
 Menjelaskan variabel kontrol dan variabel manipulasi dalam proses pelarutan


C. Tujuan:
Setelah melakukan percobaan tentang wujud zat dan kelarutannya, peserta didik dapat:
1. menggambarkan susunan dan gerak paertikel berbagai wujud zat
2. menentukan titik didih, tiitk leleh, dan titik beku beberapa bahan kimia di rumah tangga
3. menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan zat





41




D. Pendekatan dan metode pembelajaran :
- Pendekatan : Kontekstual
- Metode : Diskusi kelompok


E. Langkah Pembelajaran:
Pertemuan I: Wujud zat dan kelarutan


Pengetahuan Prasyarat : Kelarutan zat dipengaruhi oleh beberapa faktor

Tahapan Kegiatan Kegiatan

Kegiatan Awal Motivasi: Coba perhatikan bila satu sendok gula dimasukkan dalam segelas air dan diaduk! Apa yang terjadi pada gula tadi?
Kegiatan Inti  Peserta didik secara berkelompok melakukan kegiatan percobaan perubahan wujud zat
 Diskusi kelompok tentang perubahan gerak partikel pada berbagai perubahan wujud
 Presentasi hasil kegiatan

Kegiatan Akhir/ Penutup

 Guru dan peserta didik bersama-sama membuat rangkuman/kesimpulan dari kegiatan
 Guru memberi penghargaan pada kelompok yang kinerjanya baik




Pertemuan II


Prasyarat pengetahuan: Perbedaan titik didih dan titik beku

Tahapan Kegiatan Kegiatan

Kegiatan Awal Motivasi: Coba perhatikan apa yang dapat kamu lihat jika ke dalam gelas berisi es batu ini dimasukkan ke teh!
Kegiatan Inti  Peserta didik secara berkelompok melakukan percobaan memasak agar-agar
 Diskusi kelompok tentang hasil kegiatan memanaskan serbuk agar-agar yang dicampur gula dan air dan menentukan faktor-faktor yang mempengaruhinya





42





Tahapan Kegiatan Kegiatan

 Presentasi hasil kegiatan

Kegiatan Akhir/ Penutup

 Guru dan peserta didik bersama-sama membuat rangkuman/kesimpulan dari kegiatan
 Guru memberi penghargaan pada kelompok yang kinerjanya baik




G. Lembar Kerja
1. Mengamati perubahan wujud zat
Alat dan bahan:
- gelas, sendok
- air
- garam dapur kasar
- gula batu
- gula merah
- permen (gula-gula)


Langkah kerja:
a. Masukkan bahan-bahan tersebut ke dalam gelas yang berisi air secara terpisah
b. Amati bagaimana perubahan yang terjadi, catat keadaan awal dan keadaan akhir
c. Diskusikan hasil kegiatan dengan kelompok


2. Memasak agar-agar
Alat dan bahan:
- satu bungkus agar-agar
- panci
- kaki tiga
- asbes
- air menurut takaran





43




- pengaduk/sendok


Langkah kerja:
a. Masukkan agar-agar dengan segelas air, amati apa yang terjadi?
b. panaskan sampai mendidih, amati apa yang terjadi?
c. masukkan dalam wadah-wadah yang kecil
d. biarkan sampai dingin/mendingin, apa yang terjadi?


Bahan Diskusi:
1. Termasuk perubahan apakah kegiatan yang kalian lakukan?
2. Buatlah kesimpulan dari kegiatan tersebut!


F. Penilaian
1. Teknik : Tes harian
2. Bentuk Instrumen : Soal Uraian, unjuk kerja (performance)


Rubrik Penilaian (Mengamati Perubahan Wujud zat)
Nama peserta didik: .............................................


No Aspek

1 Ketepatan menggunakan bahan
2 Ketepatan membandingkan bahan dengan pelarut
3 Kerjasama dengan teman sekelompok
4 Berpartisipasi dalam membuat kesimpulan
5 Menghargai pendapat teman

Skor
5 4 3 2 1



















44





No Aspek

1 Ketepatan menggunakan alat
2 Ketepatan melarutkan bahan
3 Memasukkan bahan yang sudah dilarutkan dalam wadah yang sesuai
4 Dapat bekerja sama antara teman kelompok
5 Berpartisipasi dalam kerja kelompok
6 Menghargai pendapat teman
7 Dapat menyumbangkan pendapat dan menyimpulkan hasil kegiatan




Skor
5 4 3 2 1



















Jumlah Nilai



















Nilai = Jumlah skor x 100
Skor maksimal


Uraian:
Jelaskan perbedaan tiitk didih dan tiitk leleh!
Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan zat!


G. Sumber belajar: buku IPA dan lingkungan sekitar















45




Mata Pelajaran : IPA Satuan Pendidikan : SMP/MTs Kelas/Semester : VII/1
Tema : Suhu, Kalor, dan Penyulingan
Alokasi Waktu : 8 jam pelajaran (4 kali pertemuan)


A. Standar Komptensi:
Energi dan Perubahannya (3) : Memahami wujud zat dan perubahannya
Materi dan sifatnya (4) : Memahami berbagai sifat dalam perubahan fisika dan kimia



B. Komptensi Dasar dan Contoh Indikator: Energi dan Perubahannya (3.4) :
Mendeskripsikan peran kalor dalam mengubah wujud zat dan suhu suatu benda serta penerapannya dalam kehidupan sehari- hari
 Menunjukkan pengaruh kalor terhadap:
- perubahan suhu benda
- perubahan wujud zat
- perubahan ukuran/volume
 Menyebutkan faktor-faktor yang dapat mempercepat penguapan
 Menentukan banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu zat
 Menentukan banyaknya kalor yang dibutuhkan pada saat mendidih dan melebur
 Menerapkan hubungan Q = m. C . ∆t;
Q = m. U dan
Q = m. L untuk memecahkan masalah sederhana
 Menerapkan azas Black untuk menyelesaikan masalah sehubungan dengan kalor *)


Materi dan Sifatnya: (4.2) :
Melakukan pemisahan campuran dengan beberapa cara berdasarkan sifat fisika dan kimia





46




 Mengidentifikasi pemisahan campuran, berdasarkan ukuran partikel dan titik didih.
 Melakukan percobaan untuk memisahkan campuran yang sesuai dengan metode yang dipilih (penyaringan, destilasi, penguapan, dan sublimasi).


Materi dan Sifatnya: (4.2):
Melakukan pemisahan campuran dengan berbagai cara berdasarkan sifat fisika dan sifat kimia
 Menunjukkan terjadinya reaksi kimia berdasarkan perubahan warna.
 Menunjukkan terjadinya reaksi kimia berdasarkan perubahan suhu (reaksi eksoterm dan reaksi endoterm).
 Menunjukkan terjadinya reaksi kimia berdasarkan terbentuknya endapan. Menunjukkan terjadinya reaksi kimia berdasarkan terbentuknya gas.


C. Tujuan :
Setelah melakukan percobaan tentang pengaruh kalor terhadap perubahan suhu dan perubahan wujud, peserta didik dapat:
1. mendeskripsikan bahwa kalor yang diberikan pada suatu benda dapat menyebabkan terjadinya perubahan suhu maupun perubahan wujud suatu benda
2. menjelaskan bahwa pada saat terjadi perubahan wujud suhu zat tetap, karena kalor yang diterima tidak untuk menaikkan suhu melainkan untuk mengubah wujud zat.
3. menjelaskan perbedaan antara perubahan fisika dengan perubahan kimia
4. menjelaskan cara memisahkan campuran (penyaringan, destilasi, penguapan, dan sublimasi). Misalnya
untuk penjernihan air
5. menjelaskan bahwa reaksi kimia dapat menyebabkan terjadinya perubahan suhu, perubahan warna, terbentuknya endapan , dan terbentuknya gas, berdasarkan reaksi tersebut
6. menjelaskan faktor-faktor yang mempercepat penguapan
7. menerapkan hubungan Q = m. C . ∆t; Menerapkan azas Black untuk menyelesaikan masalah sehubungan dengan kalor


D. Pendekatan dan metode pembelajaran :
- Pendekatan : Kontekstual
- Metode : Diskusi kelompok





47




E. Langkah Pembelajaran :
Pertemuan 1 (Pengertian dan Pengaruh kalor) : 2 jam pelajaran


Pengetahuan Prasyarat : Kalor dapat menaikkan suhu dan mengubah wujud suatu benda

Tahapan Kegiatan Kegiatan

Kegiatan Awal Motivasi : mengapa tangan terasa panas ketika menyentuh ceret panas ?

Kegiatan Inti  Peserta didik dibentuk kelompok
 Peserta didik diminta diskusi bahwa “secara alamiah kalor dapat berpindah dari benda bersuhu yang lebih tinggi ke benda bersuhu lebih rendah” dan melakukan percobaan untuk menunjukkan bahwa kalor yang diberikan zat padat dapat mengubah suhu dan mengubah wujud zat ”
Contoh LK ”Kalor yang diberikan pada zat padat dapat mengubah suhu dan wujud suatu zat”
Alat dan bahan :
 Es
 Kaki tiga
 Pembakar spiritus
 Termometer


Langkah kerja :
1. Masukkan air ledeng ke dalam bejana kaca tahan panas, kemudian masukkan es batu ke dalamnya.
2. Panaskan bagian dasar bejana dengan pembakar spiritus
3. Amati secara seksama angka yang ditunjukkan oleh termometer mulai dari es batu masih tampak, sampai beberapa saat setelah air mendidih. Cacat hasil pengamatan!
4. Nyatakan tentang pengaruh kalor pada suatu zat!
 Secara kelompok peserta didik diminta untuk menyimpulkan hasil kegiatan di atas.





48





Tahapan Kegiatan Kegiatan


Kegiatan Akhir/ Penutup




















 Guru membimbing peserta didik untuk menarik kesimpulan :
- Kalor merupakan bentuk energi yang berpindah dari benda yang suhunya lebih tinggi ke benda yang suhunya lebih rendah ketika kedua benda bersentuhan.
Contoh: Gelas akan menjadi panas ketika diisi air panas, karena ada energi yang berpindah dari air panas ke gelas, sebaliknya gelas menjadi dingin ketika diisi dengan air es, karena ada energi yang berpindah dari gelas ke air es yang mengalami kenaikan suhu.
- Kalor yang diberikan pada suatu benda dapat menyebabkan kenaikkan suhu atau dapat mengubah wujud suatu zat.
Contoh :
 Es yang dipanaskan (diberi kalor) akan naik suhunya dan akhirnya mencair. Ketika es masih berbentuk padat suhunya masih di bawah 0⁰C, ketika melebur suhunya tepat pada
0⁰C (es berubah wujud menjadi cair)
 Ketika air itu dipanaskan lagi, maka lama-kelamaan air akan mendidih, dsb
 Guru memberi penghargaan pada kelompok yang kinerjanya baik




F. Penilaian Pertemuan I
1. Teknik : Tes harian
2. Bentuk Instrumen : Soal Uraian, unjuk kerja)
3. Soal/Instrumen :
a. Pemahaman dan penerapan konsep
Pemahaman konsep berkomunikasi :











49





No No





Nama Peserta




Aspek yang dinilai






Jumlah Skor

Urut

Induk

didik A B C D E F



01 0652 Tita 3 2 3 2 2 3 15






Keterangan aspek yang dinilai :
A. Kemampuan menyampaikan informasi, memberikan pendapat/ide, keruntutan, kejelasan
B. Kemampuan mengajukan pertanyaan
C. Kemampuan mengajukan argumentasi untuk menanggapi pendapat teman
D. Kemampuan menggunakan bahasa yang baku
E. Kelancaran berbicara
F. Keterbukaan terhadap saran/kritik


Cara Penilaian (Rubrik)
1. Tidak baik, jika salah, baik cara menyampaikan informasi maupun memberi ide dst
2. Baik, benar tetapi kurang jelas (jika baik cara menyampaikan informasi maupun memberi ide dst).
3. Sangat baik, benar dan sangat jelas(jika baik cara menyampaikan informasi maupun memberi ide dst)


b. Pemahaman dan penerapan konsep akademis:
a. Apakah yang dimaksud dengan kalor?
b. Dapatkah kamu memanaskan suatu benda tanpa menaikkan suhunya? Jelaskan!
c. Dapatkah kamu menaikkan suhu benda tanpa memanaskannya?










50




c. Penilaian kinerja ilmiah (performance/unjuk kerja )




No
Urut




No
Induk




Nama Peserta didik



ASPEK YANG DINILAI
A B C D Skor Maks






NO Penjelasan aspek yang dinilai


A Cara menyiapkan dan memasang alat-alat dan bahan yang akan digunakan
B Cara memasukkan air dan es ke dalam bejana
C Cara menyalakan dan mematikan lampu spiritus
D Cara membaca skala termometer


Kriteria skor (Rubrik):
3: Tepat, jika:
a. Cara menyiapkan dan memasang alat-alat dan bahan yang akan digunakan tepat cepat (terampil )
b. Cara memasukkan air dan es ke dalam bejana hati-hati (air tidak tumpah)
c. Cara menyalakan dan mematikan lampu spiritus (hati-hati dan menutup lampu spiritus ketika akan dimatikan)
d. Cara membaca skala termometer (pandangan mata tegak lurus)
2: Kurang tepat, jika:
a. Cara menyiapkan dan memasang alat-alat dan bahan yang akan digunakan tepat dan tidak cepat (kurang terampil)
b. Cara memasukkan air dan es ke dalam bejana kurang hati-hati (air tumpah)
c. Cara menyalakan dan mematikan lampu spiritus (kurang hati-hati dan menutup lampu spiritus ketika akan dimatikan)
d. Cara membaca skala termometer (pandangan mata kurang tegak lurus)






51




1: Tidak Tepat, jika:
a. Cara menyiapkan dan memasang alat-alat dan bahan yang akan digunakan tepat lambat (sama sekali tidak terampil)
b. Cara memasukkan air dan es ke dalam bejana tidak hati-hati (air tumpah)
c. Cara menyalakan dan mematikan lampu spiritus (tidak hati-hati dan tidak menutup lampu spiritus untuk mematikan, melainkan ditiup)
d. Cara membaca skala termometer (pandangan mata tidak tegak lurus/salah membaca)


Skor Yang diperoleh
NILAI = --------------------------- X 100
Skor Maksimal


G. Alat dan bahan:
 Es
 Kaki tiga
 Bejana kaca tahan panas
 Pembakar spiritus
 Termometer
 Air ledeng


H. Sumber Belajar:
Buku IPA, lingkungan sekitar


E. Langkah Pembelajaran:
Pertemuan 2 (Menguap, Mengembun dan Mendidih ) : 2 jam pelajaran










52




Pengetahuan Prasyarat : Kalor dapat menaikkan suhu dan mengubah wujud suatu benda

Tahapan Kegiatan Kegiatan

Kegiatan Awal Motivasi : Peserta didik diminta diskusi Mengapa badan menjadi dingin sehabis mandi?

Kegiatan Inti  Peserta didik dibentuk kelompok
 Peserta didik diminta melakukan diskusi tentang “ Menguap, Mengembun dan Mendidih”
 Peserta didik diminta melakukan demonstrasi. untuk menunjukkan bahwa “sewaktu menguap zat memerlukan kalor“
Contoh LK ”Kalor yang diberikan pada zat padat dapat mengubah suhu dan wujud suatu zat”
Alat dan bahan:
Bejana kaca dan larutan alkohol berkadar rendah secukupnya.


Langkah kerja :
a. Tuangkan alkohol ke dalam bejana kaca dan celupkan jari telunjuk ke dalam alkohol tersebut!
b. Angkat segera jarimu dan perhatikan keadaan pada jari telunjukmu!
 Secara kelompok peserta didik diminta untuk menyimpulkan kegiatan di atas.


Kegiatan Akhir/ Penutup









 Guru membimbing peserta didik untuk menarik kesimpulan :
- Kalor yang diberikan pada suatu benda dapat menyebabkan terjadinya perubahan wujud atau dapat juga menaikkan suhu.
- Pada saat terjadi perubahan wujud suhu zat tetap, hal ini disebabkan karena kalor yang diberikan tidak untuk menaikkan suhu tetapi untuk mengubah wujud dan ketika zat mengalami perubahan suhu, wujud zat tetap karena kalor yang diterima tidak untuk mengubah wujud tetapi untuk menaikkan suhu.









53





Tahapan Kegiatan Kegiatan

Pengayaan:
Diagram perubahan wujud:


Gas
5
3 2
6
1
Padat Cair
4
Keterangan :
Perubahan wujud yang memerlukan kalor :
1. Melebur adalah mengubah wujud dari padat menjadi cair.
2. Menguap adalah mengubah wujud dari cair ke gas
3. Menyublim adalah mengubah wujud dari padat menjadi gas


Perubahan wujud yang melepaskan kalor :
4. Membeku mengubah wujud dari cair menjadi padat
5. Mengembun mengubah wujud dari cair menjadi gas.
6. Deposisi (mengkristal) adalah perubahan wujud dari gas menjadi padat

 Guru membimbing peserta didik untuk menarik kesimpulan : Bukti pada waktu menguap zat memerlukan kalor adalah :
- jari tangan terasa dingin sehabis dicelupkan ke dalam alkohol, karena alkohol yang menempel pada tangan akan menguap, menguap memerlukan kalor, kalor diambil dari tangan sehingga tangan menjadi dingin.
- Badan terasa dingin sehabis mandi, karena air yang menempel pada badan akan menguap,





54





Tahapan Kegiatan Kegiatan

menguap memerlukan kalor, kalor diambil dari badan sehingga badan menjadi dingin.


Faktor-faktor yang mempercepat penguapan :
1. memanaskan
Dengan enrgi panas molekul-molekul akan lebih cepat bergerak, sehingga pakaian yang dijemur akan cepat kering.
2. memperluas permukaan
dengan memperluas permukaan berarti memperbanyak molekul-molekul yang zat cair yang dekat dengan permukaan, akibatnya molekul-molekul zat cair lebih mudah meninggalkan permukaan atau menguap.
3. meniupkan udara di atas permukaan
meniupkan udara di atas permukaan juga membawa molekul-molekul zat cair dekat ke permukaan, sehingga molekul-molekul tersebut lebih mudah meninggalkan permukaan dan menguap.
4. menyemburkan zat cair
semburan air memberikan suatu luas permukaan yang sangat besar, sehingga molekul- molekul mudah menguap.
5. mengurangi tekanan pada permukaan
dengan mengurangi tekanan di atas permukaan, berarti memberi jarak antarmolekul menjadi renggang.
 Prinsip kerja lemari es menggunakan prinsip proses pendinginan yang disebabkan oleh penguapan.
- Freon digunakan sebagai zat cair yang menguap di dalam lemari es. Freon dipompa mengitari lingkaran pipa, di dalam pipa-pipa sebagian freon berwujud gas dan berwujud cair.
- Ketika freon melalui pipa di luar lemari es, freon dimampatkan dan diubah dari gas menjadi cair. Pada saat ini freon melepaskan kalor maka dinding lemari es terasa panas. Freon cair





55





Tahapan Kegiatan Kegiatan

kemudian disalurkan melalui rangkaian pipa di dalam ruang beku, freon cair menguap memerlukan kalor, kalor diambil dari ruang sekitar sehingga ruang beku terasa dingin dan makanan, minuman di dalam lemari es pun terasa dingin.
- Zat cair dikatakan mendidih apabila gelembung-gelembung uap terjadi di dalam seluruh zat cair dan dapat meninggalkan zat cair.
- Pada saat mendidih (terjadi perubahan wujud dari cair menjadi gas) suhu zat tetap, hal ini dibuktikan jika air dipanaskan hingga mendidih yaitu pada suhu 100⁰C suhu air tidak akan naik lagi meskipun dipanaskan terus-menerus. 100⁰C disebut titik didih air. Begitu juga jika gas berubah wujudnya menjadi cair (mengembun) saat melepaskan kalor, suhu juga tetap dan titik embun pun sama dengan titik didih. Jadi tepat pada suhu 100⁰C air berubah wujud dari cair menjadi gas sebaliknya tepat pada suhu 100⁰C gas berubah wujud menjadi cair
(mengembun). Akibatnya titik didih sama dengan titik embun dan kalor uap sama dengan kalor embun.
- Kalor yang diperlukan untuk mengubah wujud 1 kg zat cair menjadi uap pada titik didihnya disebut kalor uap.
- Besarnya kalor yang diperlukan oleh suatu zat cair bergantung pada massa dan besarnya kalor uap suatu zat cair. Dapat dirumuskan:
Q = m . U Keterangan:
Q = kalor yang diperlukan (menguap) atau dilepaskan (mengembun). Satuan: joule (J) M = massa zat cair, satuan: kg
U = kalor uap, satuan: J/kg
- Pengaruh tekanan terhadap titik didih, titik didih zat cair akan naik jika tekanan di atas permukaan dinaikkan.
Contoh: Panci pemasak bertekanan (pressure cooker) dapat memasak daging lebih cepat empuk, karena air dalam panci mendidih lebih dari 100⁰C atau kira-kira 120⁰C dan





56





Tahapan Kegiatan Kegiatan

tekanannya sampai 2 atm. Akibatnya daging cepat empuk
- Naiknya titik didih karena tekanan di atas permukaan diperbesar :
 Otoklaf
 ketel uap
- Penurunan tekanan di atas permukaan dapat menurunkan titik didih, oleh karena itu makin tinggi tempat di permukaan bumi suhunya makin rendah karena makin tinggi tempat tekanannya makin rendah.
- Ketidakmurnian zat dapat menaikan titik didih.
- Contoh : air gula, air garam mendidih lebih dari 100⁰C, oleh karena itu jika memasak sayuran menggunakan garam dimaksudkan selain gurih rasanya juga cepat empuk.
 Guru memberi penghargaan pada kelompok yang kinerjanya baik


F. Penilaian Pertemuan II
1. Teknik : Tes harian
2. Bentuk Instrumen : Soal Uraian, unjuk kerja (performance)
3. Soal/Instrumen :
a. Pemahaman dan penerapan konsep
Pemahaman konsep berkomunikasi :

No
Urut

No
Induk Nama Peserta

Aspek yang dinilai


Jumlah Skor


didik A B C D E F







Keterangan aspek yang dinilai :
A Kemampuan menyampaikan informasi





57




B Kemampuan memberikan pendapat/ide
C Kemampuan mengajukan pertanyaan
D Kemampuan mengajukan argumentasi untuk menolak pendapat teman
E Kemampuan menggunakan bahan yang baku
F Kelancaran berbicara


Cara Penilaian (Rubrik)
1) Tidak baik, jika salah baik cara menyampaikan informasi maupun memberi ide dst
2) Baik , jika baik cara menyampaikan informasi maupun memberi ide dst sudah benar tetapi kurang jelas.
3) Sangat baik, jika baik cara menyampaikan informasi maupun memberi ide dst sudah benar dan sangat jelas


b. Pemahaman dan penerapan konsep akademis
Mengapa makanan yang simpan di lemari es tidak cepat busuk ?
c. Penilaian kinerja ilmiah (performance/unjuk kerja)



No
Urut



No
Induk Nama Peserta



ASPEK YANG DIUKUR




Skor Maks



didik A B C D




NO Penjelasan aspek yang dinilai


A Cara menuangkan alkohol ke dalam bejana
B Cara memasukkan jari ke dalam alkohol



Kriteria skor ( Rubrik ) :
2 : Tepat, jika:
 cara menuangkan alkohol ke dalam bejana tepat (alkohol tidak tumpah) dan cara memasukkan jari ke dalam




58




alkohol tepat.
1 : Tidak tepat, jika:
 cara menuangkan alkohol ke dalam bejana tidak rapi (alkohol tumpah) dan cara memasukkan jari ke dalam alkoholpun salah (tidak mengerti maksudnya)



Skor Yang diperoleh
NILAI = --------------------------- X 100
Skor Maxsimal
G. Alat dan bahan :
1 Bejana kaca
2 Alkohol berkadar rendah


H. Sumber Belajar :
1 Buku IPA, lingkungan sekitar


E. Langkah Pembelajaran:
Pertemuan 3 (Melebur, membeku dan Penyulingan Air) 2 jp
Pengetahuan Prasyarat :
1. Menguap adalah perubahan wujud dari cair menjadi gas.
2. Melebur adalah perubahan wujud dari padat menjadi cair

Tahapan Kegiatan Kegiatan

Kegiatan Awal  Motivasi : Bagaimana cara membuat air mawar yang seringdigunakan untuk kecantikan para wanita ?

Kegiatan Inti  Peserta didik dibentuk kelompok
 Peserta didik diminta melakukan demonstrasi atau percobaan ”Mengamati proses melebur dan mebeku “ , mengamati proses ketidakmurnian zat terhadap titik lebur zat “





59





Tahapan Kegiatan Kegiatan

 Peserta didik diminta melakukan diskusi tentang “ pemanfaatan sifat kalor ”
Contoh LK
1) Mengamati proses melebur dan mebeku
Alat dan bahan :
- Bejana, kaki tiga, lampu spiritus, air, lilin termometer, tabung reaksi dan penjepit.


Langkah kerja :
a. Melebur
Panaskan air dalam bejana kaca tahan panas, celupkan sebuah tabung yang mengandung lilin padat ke dalam air. Baca suhu lilin setiap setengah menit sampai semua lilin melebur.


b. Membeku
Keluarkan tabung yang telah berisi lilin cair dari air mendidih dalam bejana, biarkan lilin mendingin di udara an bacalah suhu lilin setiap setengah menit.


c. Mengamati proses ketidakmurnian zat terhadap titik lebur zat
- masukkan butir-butir es ke dalam gelas, tambahkan air ke dalam gelas sehingga es dan air kira-kira sama banyak
- aduk campuran es dan air, amati apa yang terjadi dan ukur suhunya!
- masukkan sesendok garam dapur ke dalam campuran air dan es itu, amati apa yang terjadi dan aduk hingá merata dan ukur kembali suhunya
- bandingkan suhu nomor 2 dengan nomor 3

2) Penyulingan air ( bisa didemontrasikan ) Alat dan bahan :





60





Tahapan Kegiatan Kegiatan

Alat penylingan air yang terdiri atas:
- Labu didih
- Kondensator
- Bejana
- Thermometer
- Lampu spirtus
- Kaki tiga dan air tidak murni secukupnya


Urutan kerja :
(1) Pasanglah alat dan bahan seperti gambar !
(2) Iisi labu didih dengan air tidak murni kemudian dipanaskan di atas lampu spiritus sampai mendidih.
(3) Tampung uap air murni hasil sulingan ke dalam bejana ( gelas )
 Secara kelompok peserta didik diminta untuk menyimpulkan dari kegiatan di atas.


Kegiatan Akhir/ Penutup
















 Guru membimbing peserta didik untuk menarik kesimpulan :
- Untuk melebur memerlukan kalor, pada saat melebur suhu zaat tetap. Sebaliknya untuk membeku zat melepaskan kalor dan pada saat membeku suhu zat tetap.
- Kalor yang diperlukan untuk meleburkan 1 kg zat padat menjadi 1 kg zat cair pada titik leburnya disebut kalor lebur, Sebaliknya kalor yang dilepaskan pada waktu 1 kg zat cair menjadi 1 kg zat padat pada titik bekunya disebut kalor beku.
- Untuk zat yang sama titik lebur sama dengan titik bekunya, sehingga kalor lebur sama dengan kalor beku.
- Kalor yang diperlukan untuk melebur sebanding dengan massa benda dan besarnya kalor lebur , sehingga dapat ditulis rumus :
Q = m x l
Keterangan :






61





Tahapan Kegiatan Kegiatan

Q : banyaknya kalor untuk melebur, satuan = joule (J)
m : massa benda, satuan = kg
L : kalor lebur, satuan = J/kg
- Pengaruh tekanan terhadap titik lebur: Titik lebur zat akan turun jika tekanan di atas permukaan zat diperbesar
Contoh: Peristiwa regelasi (regelation), adalah meleburnya balok es yang diberi beban dan membeku kembali sesaat setelah beban dihilangkan
- Pengaruh ketidakmurnian terhadap titik lebur zat. Titik lebur zat akan turun dengan menambah garam pada campuran es dengan air hingga – 20⁰C.
Contoh: Pembuataan es krim, karena penambahan garam es melebur di bawah 0⁰C. Untuk melebur zat memerlukan kalor, kalor diambil dari dalam es itu sendiri karena tidak ada suplai dari luar. Akibatnya suhu es akan turun di bawah 0⁰C meskipun sudah dalam wujud cair, Penyulingan air
- Penyulingan (destilasi) memanfaatkan prinsip penguapan pada titik didihnya. Penyulingan termasuk cara memisahkan campuran melalui titik didihnya. Penyulingan dengan cara seperti dapat digunakan untuk membuat air mawar. Caranya air tidak murni tadi ditambah bunga mawar, maka uap air yang ditampung menjadi air mawar. Contoh lain penggunaan penguapan adalah cara membuat garam dari air laut. Cara membuat garam dari air laut:
 Air laut dibendung di areal tertentu, kemuadian terkena sinar matahari
 uap air menguap sehingga terjadilah garam yang dikenal dengan garam dapur.
- Azas Black
Apabila dua zat yang berbeda suhunya dicampur, maka kedua zat yang bercampur akan memiliki suhu yang sama. Hal ini disebabkan kalor akan berpindah dari zat yang suhunya lebih tinggi ke zat yang suhunya lebih rendah. Berdasarkan hukum kekekalan energi tidak ada energi yang hilang, sehingga dapat disimpulkan bahwa kalor yang





62





Tahapan Kegiatan Kegiatan

diperlukan sama dengan kalor yang diterima. Qterima = Qlepas
Azas ini dapat digunakan untuk memecahkan masalah menghitung suhu akhir campuran, dan dapat dirumuskan:
Qterima = Qlepas
M x c x (ta – suhu awal zat yang suhunya lebih rendah) = m x c x (suhu awal zat yang suhunya lebih tinggi - ta )
 Guru memberi penghargaan pada kelompok yang kinerjanya baik




F. Penilaian Pertemuan III
1. Teknik : Tes harian
2. Bentuk Instrumen : Soal Uraian, unjuk kerja (performance)
3. Soal/Instrumen :
a. Pemahaman dan penerapan konsep
Pemahaman konsep berkomunikasi :



No
Urut




No
Induk



Nama Peserta didik

Aspek yang dinilai
A B C D E F Jumlah Skor






Keterangan aspek yang dinilai :
A Kemampuan menyampaikan informasi
B Kemampuan memberikan pendapat/ide
C Kemampuan mengajukan pertanyaan
D Kemampuan mengajukan argumentasi untuk menolak pendapat teman





63




E Kemampuan menggunakan bahan yang baku
F Kelancaran berbicara
Cara Penilaian (Rubrik)
1 : Tidak baik, jika salah baik cara menyampaikan informasi maupun memberi ide dst
2 : Baik, jika baik cara menyampaikan informasi maupun memberi ide dst sudah benar tetapi kurang jelas.
3 : Sangat baik, jika baik cara menyampaikan informasi maupun memberi ide dst sudah benar dan sangat
jelas


b. Pemahaman dan penerapan konsep akademis
(1) Jelaskan bahwa penguapan dapat digunakan untuk memisahkan campuran!
(2) Apa pengaruh ketidakmurnian zat terhadap titik beku suatu zat?
(3) Bagaimana prinsip pembuatan es krim?


c. Penilaian kinerja ilmiah (performance/unjuk kerja)




No No




Nama Peserta



Aspek yang dinilai





Skors Maks

Urut

Induk

didik A B C D






Melebur dan membeku :
NO Penjelasan aspek yang dinilai


A Cara menyiapkan dan memasang alat-alat dan bahan yang akan digunakan
B Cara menyalakan dan mematikan lampu spiritus
C Cara mencelupkan dan mengangkat tabung reaksi yang berisi lilin dari air dalam bejana
D Cara membaca skala thermometer






64










Kriteria skor (Rubrik) :
3 : Tepat, jika :
a Cara menyiapkan dan memasang alat-alat dan bahan yang akan digunakan tepat terlihat terampil. b Cara menyalakan dan mematikan lampu spiritus tepat dengan aturan.
c Cara mencelupkan dan mengangkat tabung reaksi yang berisi lilin dari air dalam bejana, hati-hati dan
tidak salah atau tumpah
d Cara membaca skala thermometer, pandangan mata tegak lurus
2 : Kurang Tepat, jika :
a. Cara menyiapkan dan memasang alat-alat dan bahan yang akan digunakan, kurang mantap (ragu-ragu)
b. Cara menyalakan dan mematikan lampu spiritus, kurang tepat
c. Cara mencelupkan dan mengangkat tabung reaksi yang berisi lilin dari air dalam bejana, kurang hati-hati sehingga ada air tumpah
d. Cara membaca skala thermometer, kurang tepat


1: Tidak Tepat, jika :
a. Cara menyiapkan dan memasang alat-alat dan bahan yang akan digunakan, ada kesalahan b. Cara menyalakan dan mematikan lampu spiritus, salah
c. Cara mencelupkan dan mengangkat tabung reaksi yang berisi lilin dari air dalam bejana, tidak hati-hati sehingga ada air tumpah
d. Cara membaca skala thermometer, salah


Penyulingan:

No Penjelasan aspek yang dinilai

A Cara menyiapkan dan memasang alat-alat dan bahan yang akan digunakan





65




B Cara memasukkan air tidak murni (air ledeng ke dalam labu didih)
C Cara membaca skala pada thermometer
D Cara menampung uap air murni dalam suatu wadah


Kriteria skor Rubrik) :
3: Tepat, jika :
a. Cara menyiapkan dan memasang alat-alat dan bahan yang akan digunakan tepat dan terlihat terampil
(tidak ragu-ragu)
b. Cara memasukkan air tidak murni (air ledeng ke dalam labu didih), hati-hati tidak tumpah.
c. Cara membaca skala pada thermometer (pandangan tegak lurus ke arah skala thermometer.
d. Cara menampung uap air murni dalam suatu wadah dengan hati-hati tidak ada yang tumpah.
2 : Kurang Tepat, jika :
a. Cara menyiapkan dan memasang alat-alat dan bahan yang akan digunakan kurang tepat dan terlihat kurang trampil (ragu-ragu), tetapi benar.
b. Cara memasukkan air tidak murni (air ledeng ke dalam labu didih), kurang hati-hati tidak tumpah-tumpah.
c. Cara membaca skala pada thermometer (pandangan tegak lurus kea rah skala thermometer tetapi tidak tepat).
d. Cara menampung uap air murni dalam suatu wadah dengan kurang hati-hati ada yang tumpah.
1 : Tidak Tepat, jika:
a. Cara menyiapkan dan memasang alat-alat dan bahan yang akan digunakan tidak tepat dan terlihat ragu-ragu dan salah.
b. Cara memasukkan air tidak murni (air ledeng ke dalam labu didih), tidak hati-hati sehingga ada yang tumpah- tumpah.
c. Cara membaca skala pada thermometer (pandangan tidak tegak lurus ke arah skala thermometer sehingga salah).
d. Cara menampung uap air murni dalam suatu wadah dengan cerobong ada yang tumpah.



Skor Yang diperoleh
NILAI = --------------------------- X 100





66




Skor Maksimal




G. Alat dan bahan:
Alat penylingan air yang terdiri atas:
1 Labu didih
2 Kondensator
3 Bejana
4 Thermometer
5 Lampu spirtus
6 Kaki tiga
7 Dan air tidak murni secukupnya


H. Sumber Belajar :
Buku IPA, lingkungan sekitar


I. Strategi Pembelajaran
Pertemuan 4 (Reaksi kimia): 2 jp


Pengetahuan Prasyarat: Sifat zat

Tahapan Kegiatan Kegiatan

Kegiatan Awal  Motivasi : Tahukah kamu bagaimana cara mempercepat kematangan buah, misalnya buah mangga, buah pisang sehingga selain warnanya menjadi bagus juga cepat matang?

Kegiatan Inti  Peserta didik dibentuk kelompok
- Peserta didik diminta melakukan percobaan tentang “perubahan fisika dan perubahan kimia” serta ” Mengenal ciri-ciri reaksi kimia ”.





67





Tahapan Kegiatan Kegiatan

- Secara kelompok peserta didik diminta untuk menyimpulkan dari kegiatan di atas.
Contoh LK
1) Perubahan fisika dan perubahan kimia Alat dan bahan : lilin, kawat, lampu spiritus Langkah kerja :
a. Panaskan kawat dengan lampu spiritus, setelah beberapa saat biarkan kawat menjadi dingin!
b. Amati apa yang terjadi setelah kawat itu dingin kembali? Patahkan lilin menjadi beberapa potong, apakah fisik lilin berubah?
c. Bakarlah kertas, sampai menjadi abu, amati apa yang terjadi! Apakah menghasilkan zat yang baru?
d. Buat kesimpulan dari kegiatan di atas! Informasi :
Perubahan yang tidak menghasilkan zat baru atau tidak merubah identitas zat disebut perubahan fisika, sedangkan perubahan yang menghasilkan zat yang baru (berbeda) disebut perubahan kimia.


2) Mengenal ciri-ciri reaksi kimia
Alat dan bahan : Pb (NO3), KL, gelas kimia, karbit, air secukupnya, thermometer


Langkah kerja :
a. Reaksi antara Pb (NO3) dengan KL
1. Ambil 20 ml larutan Pb (NO3), masukkan dalam gelas kimia 100 ml
2. Ambil 20 ml larutan Kl , campurkan dengan larutan Pb (NO3) , dalam gelas kimia 100
ml
3. Amati perubahan yang terjadi!
b. Reaksi antara karbit dengan air





68





Tahapan Kegiatan Kegiatan

1. Ambil 20 ml air , masukkan dalam gelas kimia 100 ml
2. Ukur suhu air tersebut!
3. Ambil cuplikan karbit dan masukkan dalam air yang telah disiapkan
4. Amati perubahan yang terjadi dan ukur suhu air pada saat reaksi berlangsung!
3) Analisa :
a. Reaksi manakah yang menghasilkan endapan?
b. Reaksi manakah yang menghasilkan perubahan warna?
c. Reaksi manakah yang menghasilkan gas?
d. Apakah reaksi antara karbit dan air mengakibatkan perubahan suhu?


Kegiatan Akhir/ Penutup























 Guru membimbing peserta didik untuk menarik kesimpulan :
1. Perubahan fisika adalah perubahan yang tidak menghasilkan zat baru atau tidak merubah identitas zat.
Contoh:
- Besi dipanaskan sampai membara, setelah dingin menjadi besi kembali
- Semua perubahan; membeku, mendidih, menguap, sublimasi, mengembun termasuk perubahan fisika.
2. Perubahan kimia adalah perubahan yang menghasilkan zat yang baru (berbeda).
- Contoh:
- Besi berkarat, telor membusuk, roti dibakar, kembang api meledak dst.
3. Ciri-ciri reaksi kimia:
a. menghasilkan endapan
Contoh: Air keruh diberi tawas, akan terjadi pengendapan, sehingga air menjadi jernih. b. menghasilkan perubahan warna
Contoh: Besi bereaksi dengan udara dan air warnanya berubah menjadi kehitaman. c. menghasilkan gas
Contoh: Karbit dicampur akan menghasilkan gas, gas ini yang digunakan untuk






69





Tahapan Kegiatan Kegiatan

mempercepat pemasakan buah. d. mengakibatkan perubahan suhu
Contoh: petasan yang meledak menghasilkan perubahan suhu, ledakan itulah hasil reaksi kimia.
4. Reaksi kimia yang menghasikan energi disebut reaksi eksoterm. Contoh: semua pembakaran
5. Reaksi kimia yang memerlukan energi disebut reaksi endoterm. Contoh: fotosintesis
 Guru memberi penghargaan pada kelompok yang kinerjanya baik




F. Penilaian Pertemuan IV
1. Teknik : Tes harian
2. Bentuk Instrumen : Soal Uraian, unjuk kerja (performance)
3. Soal/Instrumen:
a. Pemahaman dan penerapan konsep
Pemahaman dan penerapan konsep berkomunikasi:




No No




Nama Peserta



Aspek yang dinilai




Jumlah Skor


Urut

Induk

didik A B C D E F







Keterangan aspek yang dinilai:





70




A. Kemampuan menyampaikan informasi B. Kemampuan memberikan pendapat/ide C. Kemampuan mengajukan pertanyaan
D. Kemampuan mengajukan argumentasi untuk menolak pendapat teman
E. Kemampuan menggunakan bahan yang baku
F. Kelancaran berbicara


Cara Penilaian (Rubrik)
1) Tidak baik, jika salah baik cara menyampaikan informasi maupun memberi ide dst
2) Baik, jika baik cara menyampaikan informasi maupun memberi ide dst sudah benar tetapi kurang jelas.
3) Sangat baik, jika baik cara menyampaikan informasi maupun memberi ide dst sudah benar dan sangat jelas


Pemahaman dan penerapan konsep akademis
1. Sebutkan contoh sehari-hari yang termasuk perubahan fisika maupun perubahan kimia!
2. Jelaskan bagaimana cara agar buah cepat matang!


b. Penilaian kinerja ilmiah (performance/unjuk kerja)
Aspek yang dinilai

No
Urut

No
Induk

Nama Peserta didik

A B Jumlah Skor







No Penjelasan aspek yang dnilai
A Cara membakar kawat di atas lampu spiritus
B Cara membuat reaksi pada Pb (NO3) dengan KL



Kriteria skor (Rubrik):




71




3 : Tepat, jika:
1 Cara membakar kawat di atas lampu spiritus, benar baik cara memegang maupun cara mematikan dan menyalakan lampu spiritus.
2 Cara membuat reaksi pada Pb (NO3) dengan KL, terlihat terampil baik ukuran maupun cara mencampurnya.


2 : Kurang Tepat, jika:
1 Cara membakar kawat di atas lampu spiritus, benar baik cara memegang maupun cara mematikan sedangkan menyalakan lampu spiritus kurang tepat.
2 Cara membuat reaksi pada Pb (NO3) dengan KL, terlihat kurang terampil (ragu-ragu) baik ukuran maupun cara mencampurnya.


2 : Tidak Tepat, jika:
1 Cara membakar kawat di atas lampu spiritus, benar baik cara memegang maupun cara mematikan sedangkan menyalakan lampu spiritus salah.
2 Cara membuat reaksi pada Pb (NO3) dengan KL, terlihat tidak trampil (sangat ragu-ragu)
Skor Yang diperoleh
NILAI = --------------------------- X 100
Skor Maxsimal


G. Alat dan Bahan:
lilin, kawat, lampu spiritus, Pb (NO3) , KL, gelas kimia, karbit, air secukupnya, thermometer


H. Sumber Belajar:
Buku IPA, lingkungan sekitar












72




Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam
Kelas : VIII
Tema : Bahan Kimia dalam Makanan



A. Standar Kompetensi
Materi dan perubahannya (4) : Memahami kegunaan bahan kimia dalam kehidupan


Makhluk hidup dan proses kehidupan (1) : Memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia


B. Kompetensi Dasar dan Contoh Indikator
Materi dan perubahannya (4.3):
Mendeskripsikan bahan kimia alami dan buatan dalam kemasan yang terdapat dalam bahan makanan
 Mengidentifikasi contoh bahan-bahan kimia yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna, pemanis, pengawet, dan penyedap yang terdapat dalam bahan makanan dan minuman kemasan.
 Mengidentifikasi contoh bahan-bahan kima buatan yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna, pemanis, pengawet, penyedap, dan pengembang) yang terdapat dalam bahan makanan kemasan.


Makhluk hidup dan Proses Kehidupan(1.4):
Mendeskripsikan sistem pencernaan pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan
 Mendeskripsikan jenis makanan bagi bayi berdasar kandungan zat yang ada di dalamnya


C. Tujuan :
Setelah melakukan kegiatan belajar-mengajar, peserta didik dapat :
1. Mengidentifikasi bahan kimia alami.
2. mengidentifikasi bahan kimia buatan
3. membedakan bahan kimia alami dan bahan kimia buatan








73




D. Pendekatan dan metode pembelajaran
- Pendekatan : Kontekstual
- Metode : Diskusi


E. Langkah Pembelajaran
Prasyarat pengetahuan: Jenis zat yang dibutuhkan manusia


Tahap Kegiatan Kegiatan

Kegiatan Awal Motivasi : Pernahkan kalian memperhatikan bahan apa saja yang terkandung dalam sebuah kemasan makanan atau minuman?
Kegiatan Inti  Sebelum jam pelajaran/hari sebelumnya peserta didik perkelompok diberi tugas untuk membawa kemasan makanan dan minuman.
Setiap kelompok membawa kemasan kosong yang berbeda-beda.
 Kegiatan di kelas :
a. Peserta didik perkelompok mengidentifikasi bahan kimia yang terdapat pada kemasan makanan dan minuman, mencatatnya dan mendiskusikan serta mempresentasikan, sehingga semua peserta didik memiliki data bahan kimia yang terkandung dalam semua kemasan makanan dan minuman.
b. Guru menunjukkan bahan-bahan kimia alami.
Kemudian peserta didik perkelompok mendiskusikan bahan kimia alami yang dapat digunakan pada bahan makanan. Dan menggantikan bahan kimia alami dan bahan kimia buatan
Peserta didik perkelompok mendiskusikan berbagai jenis makanan yang sehat.
Kegiatan Akhir / Penutup Peserta didik diminta membuat kesimpulan. Contoh kesimpulan :
I. Bahan kimia alami :
1. Bahan kimia alami yang dibuat sebagai pewarna:
a. Daun suji: warna hijau b. Kunyit: warna kuning
c. Daun Jati: warna merah kecoklatan





74





Tahap Kegiatan Kegiatan

d. Keluak: warna coklat kehitaman e. Bit: warna merah dll.
2. Bahan kimia alami sebagai pemanis:
a. gula pasir
b. gula jawa, gula aren c. gula batu
3. Bahan kimia alami sebagai pengawet:
a. gula
b. garam dapur dll
4. Bahan kimia alami sebagai penyedap:
a. kayu manis: biasanya untuk minuman
b. daun panda : membuat aroma dalam makanan kecil dll
II. Bahan kimia buatan dalam kemasan:
5. Bahan kimia kemasan sebagai pewarna:
a. Tartrazine b. Carmoisine
c. F D & C Yellow no.5
d. F D & C Red no.2
e. F D & C Blue no.1
f. F D & C Green no.2 dll
6. Bahan kimia kemasan sebagai pemanis a. Aspartam
b. Siklamat
c. Sakarin dll.
7. Bahan kimia kemasan sebagai pengawet
a. Asam benzoat: pengawet minuman sari buah, minuman karbonat, sambal botol dll. Sebagai anti mikroba.
b. Asam cuka 25% : pengawet acar, asinan dll. Menghambat pertumbuhan jamur.
c. Asam sorbat: pengawet minuman sari buah, produk keju dll. Mencegah pertumbuhan jamur.





75





Tahap Kegiatan Kegiatan

d. Garam nitrat dan nitrit: pengawet daging.
8. Bahan kimia kemasan sebagai penyedap:
a. monosodium glutamat (MSG)
MSG atau vetsin berasal dari glutamat yang terbuat dari sisa pembuatan gula tebu, jagung, tapioka. Komposisi MSG terdisi dari natrium, glutamat dan air.


F. Penilaian
1. Teknik : Tes kajian
2. Bentuk Instrumen : Soal uraian
3. Instrumen
a. Penilaian pemahaman konsep komunikasi

No
Urut

No
Induk Nama Peserta

Aspek yang Dinilai



Jumlah Skor


didik A B C D



Keterangan aspek yang dinilai:
A. Kemampuan menyampaikan informasi B. Kemampuan mengajukan pertanyaan C. Kemampuan mengajukan argumentasi D. Kelancaran berbicara


Cara penilaian:
3 : Sangat baik
2 : Baik
1 : Kurang baik
Nilai : Skor yang diperoleh x 100 Range nilai : 80 – 100 = A
Skor maksimal 70 – 85 = B





76




≤ 69 = C


b. Penilaian pemahaman dan penerapan konsep Skor


1. Bahan pewarna alami apa yang menghasilkan warna …………
a. hijau 1 b. merah kecoklatan 1 c. kuning 1
2. Untuk membuat segelas teh manis, air teh dapat ditambahkan pemanis buatan, yaitu ………… 1
3. Jenis makanan dan minuman apa yang biasa ditambah
a. garam nitrat 1
b. asam benzoat 1
4. Mengapa pemakaian MSG harus dibatasi? 2
5. Bagaimana cara mengawetkan ikan? 2
Total Skor = 10
Nilai : Skor yang diperoleh x 100
10


G. Alat, bahan dan sumber belajar
1. Alat dan bahan:
- Beberapa kemasan kosong makanan dan minuman
- Beberapa bahan kimia alami: kunyit, daun suji, daun pandan dll.
2. Sumber belajar: buku IPA



Mengetahui, Jakarta, ……………………

Kepala SMP………

Guru IPA









77




Mata Pelajaran : IPA Satuan Pendidikan : SMP/MTs Kelas/Semester : VIII
Tema : Rokok dan Kesehatan



A. Standar Komptensi:
Materi dan Perubahannya (4): Memahami kegunaan bahan kimia dalam kehidupan


Makhluk Hidup dan Proses Kehidupan (1): Memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia

B. Komptensi Dasar dan Contoh Indikator: Materi dan Perubahannya (4.5) :
Menghindarkan diri dari pengaruh zat adiktif dan psikotropika
 Menjelaskan dampak negatif rokok bagi kesehatan, ekonomi, dan sosial.
 Menjelaskan cara menghindarkan diri dari rokok


Makhluk Hidup dan Proses Kehidupan (1.5):
Mendeskripsikan sistem pernapasan pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan
 Menjelaskan proses inspirasi dan ekspirasi pada proses pernapasan
 Mendata contoh kelainan dan penyakit pada sistem pernapasan yang biasa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dan upaya mengatasinya


C. Tujuan :
Setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar, peserta didik mampu:
1. Mengidentifikasi kandungan yang berbahaya dalam rokok dan pengaruhnya tehadap kesehatan, ekonomi, dan sosial
2. Mengindarkan diri dari pengaruh rokok
3. Mendeskripsikan penyakit pada sistem pernapasan yang disebabkan olah rokok






78




D. Pendekatan dan metode pembelajaran :
- Pendekatan : Kontekstual
- Metode : Diskusi


E. Langkah Pembelajaran :


Pengetahuan Prasyarat : kandungan zat yang terdapat dalam rokok dan zat adiktif lainnya


Tahapan Kegiatan Kegiatan

Kegiatan Awal  Mengadakan tanya jawab dengan anak tentang “siapa yang merokok, ciri-ciri fisik perokok, dan pengaruhnya terhadap kesehatan


Kegiatan Inti  Guru memberikan tugas ke peserta didik secara berkolompok untuk mengidentifikasi zat adiktif dalam rokok berdasarkan buku-buku IPA atau sumber lainnya
 Peserta didik mendiskusikan cara pencegahan dan akibat penggunaan zat adiktif dan psikotropika
 Peserta didik mendiskusikan penyakit pada pernapasan yang disebabkan oleh rokok
 Secara bekelompok peserta didik mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas, dan kelompok lain menanggapinya.


Kegiatan Akhir/ Penutup











 Peserta didik membuat kesimpulan dari hasil diskusi yang sudah dipresentasikan dan membuat leaflet
Contoh kesimpulan:
- zat adiktif adalah kelompok zat atau obat-obat keras yang mempengaruhi susunan saraf pusat, dan dapat menimbulkan ketergantungan dalam jangka panjang
- contoh zat adiktif adalah rokok, kopi, minuman keras
- rokok mengandung nikotin dalam tembakaunya dan asap hasil pembakaran mengandung gas
CO2, CO yang membahayakan kesehatan






79





Tahapan Kegiatan Kegiatan

- kopi, mengandung kafein yang dapat menimbulkan ketergantungan
- minuman keras adalah semua jenis minuman yang mempunyai kandungan alkohol
- akibat rokok, kopi, dan minuman keras bagi kesehatan diantaranya adalah:
1. asap rokok mengandung zat-zat penyebab kanker
2. rusaknya alveoli dalam paru-paru, karena endapan nikotin yang masuk bersama asap rokok, menyebabkan darah tidak dapat mengikatt oksigen (O2) dengan sempurna
3. bronkitis, merupakan peradangan pada bronkus atau saluran pernapasan yang terinfeksi oleh bakteri. Karena nikotin yang dihasilkan oleh rokok memperlemah syaraf bronkus sehingga mudah terkena infeksi
4. Jantung koroner, disebabkan oleh penimbunan lemak di dalam pembuluh darah. Nikotin mempengaruhi kerja lemak sehingga terjadi penimbunan lemak dalam pembuluh darah, sehingga terjadi penyempitan pembuluh darah
5. imsomnia, atau sulit tidur disebabkan oleh kafein yang berlebihan
6. penyakit kekurangan gizi, disebabkan oleh alkohol karena sifat alkohol yang menghalangi penyerapan zat gizi. Pemakaian alkohol yang berlebihan menyebabkan timbulnya komplikasi pada hati, muntah darah, atau gangguan fungsi hati, koma dan bahkan meninggal dunia secara mendadak.
- Obat-obat psikotropika mempunyai pengaruh pada susunan syaraf pusat
- Ciri-ciri fisik korban ketergantungan zat adiktif dan psikotropika diantaranya adalah sebagai berikut:
Jenis zat akdiktif dan obat psikotropika dan ciri-ciri korban


Opioda
 Sembelit
 Mengurangi nafsu makan








80





Tahapan Kegiatan Kegiatan

Ganja
 Menurunkan kekebalan tubuh
 Mengganggu keterampilan berbicara, membaca, dan berhitung
 Keracunan pada janin
 Menimbulkan bronkitis


Kokain
 Menimbulkan gangguan pada jantung


Amfetamin
 Menimbulkan gangguan pada jantung



F. Penilaian Pertemuan I .
1 Teknik : Tugas
2. Bentuk Instrumen : Hasil diskusi
3. Soal/Instrumen :
a. Materi presentasi
leaflet pangaruh zat adiktfif dan obat psikotropika bagi kesehatan


G. Sumber belajar: buku IPA













81

DAFTAR PUSTAKA



Fogarty, R. (1991). How to Integrate The Curricula. Illinois: IRI/Sky
Publishing Inc.

Rustaman, N.Y, Dirdjosaemarto S., Yudianto, S.A., Ahmad Y., Subekti R., Rochimtaniawati, D., dan Kusumawati,M.N. (2003). Strategi Belajar Mengajar Biologi. Common Textbook (Edisi Revisi). Bandung: FPMIPA UPI.


UNESCO. (1973 – 1977). New trend in Integrated Science Teaching Vol. I – II
– III – IV. Paris:UNESCO.






















































41




















MODEL PEMBELAJARAN SALINGTEMAS SMP




Mata pelajaran : IPA


Jenjang pendidikan : SMP/MTs


Materi pokok : Pemisahan Campuran


Kelas / Semester : VII / 1


Alokasi waktu : 6 jam pelajaran (6 x 40 menit)





























1

A. Standar Kompetensi : Memahami berbagai sifat dalam perubahan fisika dan kimia


B. Kompetensi Dasar : Melakukan pemisahan campuran dengan berbagai cara berdasarkan sifat fisika dan kimia


C. Indikator


Konsep
• Menentukan dan menjelaskan bahan-bahan yang terkandung dalam berbagai merk minuman ringan (soft drink) seperti coca cola.
• Menjelaskan dasar pemisahan campuran, berdasarkan ukuran partikel dan titik didih
• Melakukan percobaan untuk memisahkan campuran yang sesuai dengan metode yang dipilih.


Konteks


• Menentukan metode penjernihan air minum dengan teknik sederhana


• Menentukan metode pemisahan sederhana dalam berbagai sistem seperti


pemurnian garam dan destilasi minyak kayu putih.


Proses

• Memilih objek, menentukan topik dan menetapkan langkah-langkah penyelidikan.
• Mengkorelasikan data pengamatan untuk menafsirkan data pengamatan yang lain

• Menerapkan konsep yang telah diperoleh pada percobaan


• Meramalkan suatu keadaan yang belum diamati berdasarkan penggunaan


pola yang ditemukan pada hasil pengamatan


• Membuat prediksi/ramalan berdasarkan pengalaman sebelum melakukan




2

kegiatan.


• Menyimpulkan suatu percobaan dari data percobaan yang telah dilakukan.




Sikap dan Nilai


Sikap Terhadap Pembelajaran


• Ikut berpartisipasi dalam pembelajaran


• Mengikuti percobaan dengan sungguh-sungguh


• Melakukan kerjasama untuk memecahkan masalah


• Menyatakan pendapat dalam pembelajaran


• Merespon penjelasan guru pada pembelajaran




Kompetensi Afektif


Kesadaran Diri


• Menganalisis dan menentukan alasan mengapa orang memilih merk tertentu


dari minuman ringan.


Kecakapan Sosial


• Mengkomunikasikan pentingnya bersikap kritis pada iklan minuman ringan


berkaitan dengan fdaktor kesehatan.




D. Konsep dan Konteks Pembelajaran


1. Konsep


a. Campuran dan Pemisahannya


b. Titik didih



3

c. Ukuran partikel


2. Konteks


a. Minuman ringan dan kesehatan


b. Zat aditif dalam minuman




E. Strategi Pembelajaran


Pendekatan Pembelajaran : Salingtemas (Sains Lingkungan Teknologi dan


Masyarakat)


Metode : Diskusi, Percobaan, dan Ceramah




F. Langkah-Langkah Pembelajaran



Tahap



Deskripsi Kegiatan

Pembelajaran Guru Siswa

Tahap Kontak a. Sebelum Pembelajaran Memberikan tugas untuk menyiapkan berbagai iklan coca cola seperti Coca Cola: Segarnya Mantap, Diet Coke dan Mecca Cola serta komposisinya.


b. Di Kelas

Membimbing pelaksanaan diskusi mengenai isi iklan dan komposisinya.
Tahap Kuriositi  Guru membawa beberapa botol coca cola dari beberapa merk dan meminta beberapa siswa mencicipi rasa minuman ringan tersebut.
 Membangkitkan kuriositi dengan memberikan

 Menyiapkan iklan coca cola dan komposisinya.
 Melaksanakan diskusi tentang isi iklan dan komposisinya.

 Ikut aktif dalam diskusi.




 Mencicipi rasa berbagai coca cola.

 Mencoba menjawab pertanyaan guru


 Menyimak





4

Tahap

Deskripsi Kegiatan

Pembelajaran Guru Siswa

pertanyaan: “dapatkah kamu membedakan rasa dari berbagai coca cola yang kamu minum dan mengapa rasanya berbeda?”
 Mengarahkan jawaban siswa dan mengaitkan jawaban dengan komposisi campuran dalam minuman coca cola.


penjelasan guru















Tahap Elaborasi dan Penemuan Konsep













































a. Praktikum 1

(Penguapan: Metode Sederhana untuk Pemisahan Campuran Air dan Bahan Lainnya dalam Coca Cola)

 Memberikan tugas untuk melakukan percobaan secara berkelompok tentang penguapan berbagai merk coca cola dengan bantuan Lembar Kerja Siswa (LKS)

 Mendorong interaksi siswa dalam diskusi kelompok dan menjadi nara sumber jika diperlukan


b) Diskusi hasil praktikum 1

 Mendiskusikan penguapan sebagai metode pemisahan sederhana untuk memisahkan air dari bahan lainnya dalam coca cola.

 Mendiskusikan konsep penguapan.







 Melakukan percobaan secara berkrlompok dengan bantuan LKS

 Mendiskusikan hasil pengamatan dan permasalahan- nya

 Aktif dalam diskusi dan menyimak penjelasan guru

 Melakukan percobaan secara berkelompok dengan bantuan LKS

 Mendiskusikan hasil pengamatan dan permasalahan- nya

 Aktif dalam diskusi dan menyimak penjelasan guru

 Melakukan percobaan secara




5

Tahap

Deskripsi Kegiatan

Pembelajaran Guru Siswa


c) Praktikum 2

(Penyaringan: Metode Lain untuk Pemisahan Campuran)

 Memberikan tugas secara berkelompok untuk melakukan percobaan membuat coca cola menjadi tak berwarna seperti
“sprite” dengan menambahkan karbon aktif (tablet norit) dan metode pemisahan campuran dengan penyaringan dengan bantuan LKS

 Mendorong interaksi siswa dalam diskusi kelompok dan menjadi nara sumber jika diperlukan


d). Diskusi hasil praktikum 2

 Mendiskusikan konsep pemisahan campuran berdasarkan perbedaan ukuran partikel


e) Praktikum 3

(Destilasi: Metode Pemisahan Campuran Berdasarkan Perbedaan Titik Didih)

 Memberikan tugas untuk melakukan percobaan destilasi air suling dan coca cola dan melihat perbedaan kurva titik didihnya (temperatur versus waktu).

 Mendorong interaksi siswa dalam diskusi kelompok dan

berkelompok dengan bantuan LKS

 Mendiskusikan hasil pengamatan dan permasalahannya

 Aktif dalam diskusi dan menyimak penjelasan guru















































6

Tahap

Deskripsi Kegiatan

Pembelajaran Guru Siswa
menjadi nara sumber jika diperlukan


f). Diskusi hasil praktikum 3

 Mendiskusikan konsep pemisahan campuran berdasarkan perbedaan titik didih.




Tahap Pengembangan Konsep dan Dekontekstualisasi











 Diskusi tentang proses penjernihan air minum.
 Diskusi tentang proses penjernihan garam.
 Diskusi tentang proses destilasi minyak kayu putih.
 Diskusi tentang perlunya sikap kritis terhadap iklan berkaitan dengan aspek kesehatan.




 Aktif dalam diskusi dan menyimak penjelasan guru













G. Media dan Sumber Pembelajaran


Media pembelajaran
 Transparansi
 Overhead Projektor (OHP)
 Alat dan bahan percobaan


Sumber pembelajaran

 Chemie im Kontext, Ein Vorkoster in Not, Unit Pembelajaran dalam
Chemie im Kontext, Proyek Chemie im Kontext di Jerman, 2005.
 Heikkinen, H. (Chief Editor), ChemCom: Chemistry in Community, Second Edition, American Chemical Society, 1993.













7

H. Penilaian


Aspek

Literasi sains meliputi aspek pengetahuan konsep, aplikasi konsep pada konteks tertentu, ketrampilan proses sains serta sikap dan nilai.


Bentuk

 Tes tertulis untuk aspek konsep, konteks dan proses.
 Unjuk kerja dan observasi untuk ketrampilan proses sains serta sikap dan nilai.
 Skala sikap Likert untuk sikap dan nilai.

















































8

Implementasi Desentralisasi Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Jika diperhatikan lebih khusus tentang prestasi siswa, utamanya di bidang sains, hasil dari tes yang dilakukan oleh Trends International Mathematics and Science Study (TIMSS) mengungkapkan bahwa kemampuan siswa SMP berada pada peringkat ke 32 dari 50 negara yang berperan serta. Sementara tes yang dilakukan oleh Associations for Evaluation of Educational Achievement International (AEEAI) menunjukan bahwa kemampuan sains siswa Indonesia berada pada peringkat 36 dari 50 negara (Santyasa, 2008). Dalam mengatasi hal tersebut, berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, misalnya pengembangan kurikulum nasional dan lokal, peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan, pengadaan buku dan alat pelajaran, pengadaan dan perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, dan peningkatan mutu manajemen sekolah. Namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukan peningkatan yang berarti. Sebagian sekolah, terutama di kota-kota menunjukan peningkatan mutu pendidikan yang cukup menggembirakan, namun sebagian lainnya masih memprihatinkan.
Berdasarkan hal itu, berbagai pihak mempertanyakan tentang diamana kekeliruan penyelenggaraan pendidikan kita. Dari berbagai laporan, sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata. Faktor pertama adalah kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan education function atau input-output analisys yang tidak dilaksanakan secara konsekuen. Pendekatan ini memandang bahwa lembaga pendidikan berfungsi sebagai pusat produksi yang apabila dipenuhi semua input yang diperlukan dalam kegiatan produksi tersebut, maka lembaga ini akan menhasilkan output yang dikehendaki. Pendekatan ini menganggap bahwa apabila input seperti pelatihan guru, pengadaan alat pelajaran, dan perbaikan sarana serta prasarana pendidikan lainnya dipenuhi, maka mutu pendidikan secara otomatis akan meningkat. Namun dalam kenyataannya tidak, hal ini disebabkan karena yang lebih ditekankan adalah masukan dan keluaran, tanpa memperhatikan proses pendidikannya. Faktor yang kedua adalah penhelenggaraan pendidikan nasional yang dilakukan secara birokratik-sentralistik. Hal ini menyebabkan hampir semua kebijakan diatur oleh birokrasi pusat, sehingga sekolah sebagai penyelenggara pendidikan sangat tergantung pada keputusan pusat yang kadang-kadang kebijakannya tidak sesuai dengan kondisi sekolah setempat. Sekolah seolah-olah dikekang sehingga mereka kehilangan kemandiriannya. Sekolah menjadi kurang berinovasi, tidak memiliki motivasi yang bagus, serta kreatifitas dan inisiatifnya untuk mengembangkan dan memajukan lembaganya termasuk peningktan mutu pendidikannya sebagai salah satu tujuan pendidikan nasional. Faktor yang ketiga adalah peran serta warga sekolah khususnya guru dan peran serta masyarakat khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini sangat minim. Partsipasi guru dalam mengambil keputusan sering diabaikan, padahal terjadi atau tidaknya perubahan di sekolah sangat tergantung pada guru. Hal ini dapat dikuatkan, kebijakan apapun yang dikeluarkan oleh pusat jika guru tidak mengikuti, maka tidak akan terjadi perubahan pada sekolah tersebut. Demikian juga dengan partisifasi masyarakat yang selama ini pada umumnya hanya sebatas pada dukungan dana. Karena manajemen sekolah bersifat sentralistik, maka akuntabilitas sekolah terhadap masyarakat atau stakeholder pun menjadi kurang.
Berdasarkan kenyataan-kenyataan tersebut, perlu dilakukan upaya perbaikan, salah satunya adalah dengan melakukan reorientasi kebijakan penyelenggaraan pendidikan, yaitu dari manajemen peningkatan mutu berbasis pusat (MPMBP) menjadi manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS). Dalam otonomi yang lebih besar, maka sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya, sehingga sekolah lebih mandiri. Secara umum MPMBS dapat diartikan sebagai model otonomi yang memberikan otonomi yang lebih besar kepada sekolah, dan mendorong partisifasi secara langsung warga sekolah (guru, siswa, kepala sekolah, dan pegawainya) dan masyarakat (orang tua siswa, tokoh masyarakat, ilmuwan, pengusaha, dan pihak –pihak terkait) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta peraturan perundang-undangan yang berlaku tanpa mengekang dan mengurangi kemandirian sekolah yang bersangkutan.
MPMBS merupakan bagian dari MBS (manajemen berbasis sekolah). Jika MBS bertujuan untuk meningkatkan semua kinerja sekolah (efektifitas, kualitas/mutu, efisiensi, inovasi, relevansi, dan pemerataan serta akses pendidikan), maka MPMBS lebih difokuskan pada peningkatan mutu. Dasar dari peningkatan mutu adalah memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada sekolah, dan mendorong partisifasi warga sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan mutu pendidikan. Berdasarkan hal itu yang menjadi alasan diterapakannya MPMBS adalah sebagai berikut.
1. Dengan pemberian otonomi yang lebih besar, maka sekolah akan lebih inisiatif dan kreatif dalam meningkatkan mutu sekolahnya
2. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya. Khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.
3. Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi dirinya, sehingga dapat megoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan dan meningkatkan mutu sekolahnya.
4. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Karena pihak sekolahlah yang paling tahu apa yang terbaik bagi sekolahnya.
5. Penggunaan sumber daya menjadi lebih efisien dan efektif bilamana dikontrol oleh masyarakat.
6. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan akan menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat.
7. Akuntabilitas sekolah akan menjadi tinggi kepada pemerintah, orang tua, dan masyarakat umumnya, sehingga sekolah akan semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai sasaran mutu pendidikan yang telah dilaksanakan.
8. Sekolah akan melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah yang lain untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif dengan dukungan orang tua , masyarakat, dan pemerintah daetah setempat, dan
9. Sekolah dapat secara cepat dan tepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah dengan cepat setiap saat (Anonim, 2007).
Berdasarkan hal itu, manajemen berbasis sekolah pada intinya adalah pemberdayaan masyarakat sebagai komponen yang penting dalam penyelengaraan pendidikan (Dantes, 2007). Esensi dari otonomi sekolah adalah pengambilan keputusan yang bersifat partisifatif, yaitu pengambilan keputusan yang melibatkan stakeholder terutama yang akan melaksanakan dan menerima manfaat dari keputusan tersebut.
Selain tiga faktor tersebut, terdapat faktor lain yang sangat menentukan mutu pendidikan. Faktor tersebut dapat digambarkan kedalam perubahan paradigma pendidikan. Perubahan paradigma pendidikan merupakan pergeseran proses pendidikan dari yang berorientasi pada pengajaran teacher centre (guru menjadi pusat informasi) ke pembelajaran yang berorientasi pada student centre. Guru bertindak sebagai perancang kegiatan pembelajaran, sebagai moderator dan fasilitasor bagi peserta didik. Sehingga dalam hal ini peserta didik dituntut menjadi individu-individu yang aktif dan mandiri. Kemandirian dan kreatifitas peserta didik sangat dituntut, sehingga peserta didik menjadi manusia yang utuh dalam membangun dirinya. Hal ini sesuai dengan pendapatnya Degeng (2001), bahwa manusia yang dapat hidup di era global adalah mereka yang memiliki karakteristik mandiri, berketrampilan, dan mampu berpikir divergen. Hal inil tertuang dalam kurikulum tingkat satuan pembelajaran (KTSP) yang sekarang, yaitu mewujudkan tujuan pendidikan nasional, seoperti mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demoktaris dan bertangungjawab (BSNP, 2006).
Agar dapat memiliki karakteristik tersebut, maka peserta didik harus dihadapkan dengan kondisi-kondisi yang sesuai dengan tingkat perkembangannya dan keperluannya hidupnya di masa mendatang. Berdasarkan hal itu, komisi internasional bagi pendidikan yang dibentuk oleh UNESCO melaporkan, bahwa pendidikan di abab ke 21 harus dilaksananakan dengan bersandar pada empat pilar pendidikan. Enpat pilar pendidikan tersebut adalah learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together (Delor dalam Dantes, 2007). Selain itu, UNESCO juga mengebutkan pilar yang kelima, yaitu learning sustainable yang belum dipublikasikan. Dari kelima pilar pendidikan tersebut tersirat makna bahwa peserta didik belajar untuk mengetahui sesuai dengan jenjang pendidikannya melalui belajar malakukan dan mengembangkan keterampilan dengan memadukan pengetahuan yang dimilikinya dengan latihan-latihan, saling menghormati dan menghargai kerja sama. Sementara khusus untuk pilar yang kelima menekankan adar peserta didik mampu untuk mengambarkan masa depan untuk hidup berkelanjutan. Hal ini didasarkan atas pemikiran bahwa manusia hidup bukan hanya untuk saat ini saja, tetapi juga untuk masa depan anak cucu mendatang. Dengan demikian diharapkan akan terbentuk individu peserta didik yang berkembang secara utuh, menyadari segala hak dan kewajibannya, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, dan mampu menjaga kesinambungan kehidupan di masa mendatang.
Berdasarkan uraian tersebut yang aspek kajiannya cukup luas, dalam tulisan ini akan dicoba dikaji hanya sebatas pada pengelolaan manajemen dan penerapan pembelajaran di SD N 1 Semarapura Tengah, Klungkung.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang dan pembatasan masalah, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut.
1. Bagaimana implementasi desentralisasi pendidikan ditinjau dari pengelolaan kebijakan di SD Negeri 1 Semarapura Tengah, Klungkung?
2. Bagaimana implementasi desentralisasi pendidikan ditinjau dari sisi pelaksanaan pembelajaran di SD Negeri 1 Semarapura Tengah, Klungkung?

1.3 Tujuan Penulisan
Dalam penulisan laporan ini, tujuan yang ingin dicapai adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui implementasi atau pelaksanaan desentralisasi pendidikan ditinjau dari segi pengelolaan kebijakan di SD Negei 1 Semarapura Tengah, Klungkung.
2. Untuk mengetahui implementasi atau pelaksanaan desentralisasi pendidikan ditinjau dari segi pengelolaan pembelajaran di SD Negeri 1 Semarapura Tengah, Klungkung.

1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat yang dapat dipetik dari penulisan laporan ini dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu manfaat praktis dan manfaat teoritis. Masing-masing manfaat memiliki hubungan yang saling keterkaitan satu sama lainnya.
1. Manfaat Praktis
Laporan ini dapat menggambarkan keadaan riil yang terjadi di lapangan, sehingga dapat digunakan sebagai acauan dalam mengevaluasi diri dan mengambil tindakan selanjutnya.
a. Manfaat Bagi Penulis
Penulisan ini dapat memberikan dan mengembangkan wawasan penulis terhadap pengelolaan kebijakan dan pengelolaan pembelajaran yang ada di sekolah, khususnya di SD Negeri 1 Semarapura Tengah.
b. Manfaat Bagi Sekolah
Sekolah dapat memperoleh gambaran untuk evaluasi dan refleksi terhadap pelaksanaan kebijakan yang telah dilakukan yang dapat dipakai sebagai pedoman untuk mengambil kebijakan berikutnya.
c. Manfaat Bagi Stakeholder
Penulisan laporan ini dapat dijadikan pedoman bagi Stakeholder dan masyarakat yang berkepentingan untuk mengevaluasi diri terkait dengan kiprah dan kontribusinya terhadap pelaksanaan pengelolaan pendidikan yang ada di sekolah, sehingga diharapkan mampu menjadi yang lebih baik dalam peran sertanya memajukan mutu sekolah.
d. Manfaat Bagi Pemerintah
Pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dapat memperoleh gambaran sebagai pertimbangan untuk mengevaluasi dan menindak lanjuti pelaksanaan pendidikan di sekolah.
2. Manfaat Teoritis
Penulisan laporan ini dapat dijadikan referensi bagi pengembang dan peneliti pendidikan dalam merumuskan kerangka kerja hingga dapat mengurangi ketidakvalidan data yang akan diperoleh.






BAB II
PEMBAHASAN

Implementasi Desentralisasi Pendidikan Ditinjau dari Segi Pengelolaan Kebijakan di SD Negei 1 Semarapura Tengah, Klungkung.
Pada dasarnya Undang-Undang Nomor 22 tentang pemerintah daerah (Otonomi Daerah) tahun 1999 beserta sejumlah Peraturan Pemerintah (PP) sebagai pedoman pelaksanaan terutama PP No. 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah propinsi dan kabupaten/kota, harus digunakan sebagai referensi atau acuan. Dengan demikian pendesentralisasian fungsi-fungsi pendidikan tidak akan merubah peraturan perundang-undangan yang ada. Namun demikian masih ada beberapa fungsi yang masih harus dikerjakan oleh pemerintah pusat. Hal ini berarti suatu fungsi tidak dapat sepenuhnya dilimpahkan ke sekolah, sebagian masih merupakan porsi kewenangan pusat, sebagian kewenangan dinas propinsi, dinas kabupaten/kota, dan sebagian lainnya dilimpahkan ke sekolah. Fungsi-fungsi yang dapat dilakukan oleh masing-masing sekolah dalam kerangka MPMBS meliputi: proses belajar mengajar, perencanaan dan evaluasi program sekolah, pengelolaan kurikulum, pengelolaan ketenagaan, pengelolaan peralatan dan perlengkapan, pengelolaan keuangan, pelayanan siswa, hubungan sekolah-masyarakat, dan pengelolaan iklim sekolah. Implikasi dari kebijakan ini akan nampak pada adanya perbedaan sistem pengelolaan antara sekolah yang satu dengan sekolah yang lainnya, tetapi tetap berdasarkan pada tujuan yang sama.
Berdasarkan hal itu, realita di lapangan perlu ditelusuri sejauh mana manajemen peningktan mutu berbasis sekolah (MPMBS) ini telah dilaksanakan oleh sekolah, khususnya di SD Negeri 1 Semarapura Tengah, Klungkung. Berikut adalah paparan kebijakan-kebijakan yang ada dan telah direalisasikan di SD Negeri 1 Semarapura Tengah, Kabupaten Klunglung.
1. Pengelolaan Proses Belajar Mengajar
Proses belajar merupakan kegiatan utama sekolah. Sekolah diberikan kebebasan dalam memilih srategi, metode dan teknik-teknik pembelajaran dan pengajaran yang paling efektif, sesuai dengan karakteristik siswa, guru, dan kondisi nyata sumber daya yang ada di sekolah. Menurut bapak Wayan Suarjana selaku kepala sekolah di SD Negeri 1 Semarapura Tengah menyatakan, bahwa pengelolaan kelas dan pembelajaran sepenuhnya dilimpahkan kepada guru masing-masing. Walaupun demikian kepala sekolah selaku pimpinan lembaga tetap melakukan supervisi terhadap proses yang terjadi. Dalam penentuan guru kelas, guru siapa yang mengajar di kelas berapa ditentukan oleh hasil rapat atau kebijaksanaan antara masing-masing guru. Setelah terjadi kesepakatan diatara mereka, selanjutnya baru dikoordinasikan pada bagian kurikulum. Secara umum, berdasarkan teori strategi/metode/teknik pembelajaran dan pengajaran yang berpusat pada siswa (student centered) lebih mampu memberdayakan pembelajaran yang menekankan pada keaktifan belajar siswa, dan bukan pada keaktifan mengajar guru. Oleh karena itu, cara-cara belajar siswa aktif seperti active learning, cooperative learning, dan quantum learning perlu diterapkan. Menurut bapak Wayan Suarjana, di sekolah yang dipimpinnya ada beberapa guru yang memang sudah melaksanakan pembelajaran active learning. Guru tersebut mengajak siswanya ke museum Semarajaya, Kertagosa, dan Lapangan Puputan. Disana siswa disuruh mencatat hasil temuannya, kemudian siswa membuat sebuah laporan kecil dan menyajikannya di depan kelas. Dalam hal ini siswa juga diperankan sebagai tutor sebaya. Namun demikian, sebagian besar guru masih melakukan pembelajaran secara konvensional dan books oriented.
2. Perencanaan dan Evaluasi
Sekolah diberi wewenang untuk melakukan perencanaan sesuai dengan kebutuhannya (school-based plan). Misalnya kebutuhan terhadap peningkatan mutu sekolah. Sekolah harus melakukan analisis kebutuhan mutu yang dijadikan pedoman dalam pembuatan rencana peningkatan mutu. Di SD Negeri 1 Semarapura Tengah, dalam penyusunan program sekolah, selama ini dilakukan oleh staf pimpinan sekolah, guru, dan komite sekolah. Peran komite sekolah dalam memberikan sumbangsih pemikirannya menurut bapak Suarjana cukup besar, walaupun dalam undangan rapat atau undangan yang lain, komite sekolah maupun masyarakat tidak dapat hadir 100%. Hal ini disebabkan oleh kesibukan masing-masing.
Berdasarkan MPMBS, sekolah juga diberi wewenang dalam melakukan evaluasi, khususnya evaluasi yang dilakukan secara internal. Evaluasi dilakukan oleh warga sekolah untuk memantau proses pelaksanaan dan mengevaluasi hasil program-program yang telah dilaksanakan. Penyampaian hasil evaluasi ini dapat dilakukan kapan saja, tetapi umumnya di SD Negeri 1 Semarapura Tengah dilakukan saat rapat-rapat tertentu. Seperti dalam rapat semesteran atau rapat-rapat yang lainnya.
3. Pengelolaan Kurikulum
Secara teoritis kurikulum yang dibuat oleh pemerintah pusat adalah kurikulum standar yang berlaku secara nasional. Mengingat kondisi masing-masing sekolah sangat beragam, maka dianjurkan dalam implemetasinya, sekolah dapt mengembangkan (memperdalam, memperkaya, dan memodifikasi) sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya, namun tidak sampai mengurangi isi kurikulum yang berlaku secara nasional. Di SD Negeri 1 Semarapura Tengah, pengelolaan kurikulum seperti dalam pembuatan persiapan perangkat mengajar guru (silabus, RPP, dan lainnya) diserahkan pada guru yang bersangkutan. Sekolah memfasilitasi dalam bentuk pelatihan. Apakah gurunya ikut pelatihan di dinas pendidikan ataukah yang lainnya. Idealnya dalam pelatihan tersebut guru-guru melakukan diskusi untuk membuat persiapan mengajarnya.
4. Pengelolaann Ketenagaan
Dalam pengelolaan ketenagaan di sekolah, pihak sekolah juga melibatkan peran serta masyarakat., yang dalam hal ini diwakili oleh komite sekolah. Idealnya, pengelolaan ketenagaan mulai dari analisis kebutuhan, perencanaan, rekrutmen, pengembangan, hadiah dan sangsi, hubungan kerja, sampai evaluasi kerja tenaga kerja (guru, tenaga administrasi, laboran, dan tenaga lainnya) dapat dilakukan oleh sekolah. Khusus untuk imbal jasa dan rekrutmen guru pegawai negeri sampai saat ini masih dipegang oleh birokrasi kepemerintahan di atasnya. Di SD Negeri 1 Semarapura Tengah, pihak sekolah dan komite sekolah mengadakan rapat gabungan untuk membahas kebutuhan tenaga kerja. Apabila dalam rapat tersebut terindikasi ada kekurangan guru, akan disepakati untuk mencari guru honorer. Demikian juga untuk tenaga yang lainnya.
5. Pengelolaan Fasilitas (Sarana Prasarana) Pendidikan
Pengelolaan sudah seharusnya dilakukan oleh sekolah, mulai dari pengadaan, pemeliharaan dan perbaikan, hingga sampai pengembangan. Hal ini didasari leh kenyataan, bahwa sekolah yang paling mengetahui kebutuhan fasilitasnya, mulai dari kecukupan, kesesuaian, sampai kemutahirannya, terutama fasulitas yang sangat erat hubungannya dengan pembelajaran. Menurut kepala SD Negeri 1 Semarapura Tengah dan hasil pengamatan, sarana prasarana diusulkan oleh pimpinan sekolah berdasarkan hasil rapat warga sekolah dan komite sekolah. Pada saat observasi, sekolah sedang melakukan perbaikan gerbang sekolah dan penataan taman sekolah yang dikerjakan oleh tenaga dari masyarakat. Diambilnya tenaga ini berdasarkan persetujuan warga sekolah. Untuk sarana dan prasarana yang lainnya, sekolah bersama komite sekolah sepakat mengambil hal-hal lebih penting dan harus diprioritaskan keberadaannya dengan memperhatikan RAPBS yang tersedia.
6. Pengelolaan Keuangan
Keuangan sekolah tercantum seluruhnya pada RAPBS dan APBS. RAPBS untuk disahkan menjadi APBS harus disepakati oleh pihak sekolah dan komite sekolah melalui musyawarah. Pemerintah dalam hal ini hanya memberikan sumber umum pendanaan, sementara pengelolaannya sepenuhnya dilakukan oleh sekolah, termasuk dana BOS yang diterima sekolah. Di SD Negeri 1 Semarapura Tengah, dana tersebut dipakai sebagai dana untuk melengkapi fasilitas sekolah, seperti pengadaan buku pelajaran atau sarana yang lainnya. Terkait dengan RAPBS, kepala sekolah, dewan guru, berserta komite sekolah menyepakati RAPBS menjadi APBS. APBS selanjutnya disosialisasikan kepada warga sekolah. Hal ini dilakukan sebagai bentuk akuntabilitas atau pertanggungjawaban dan transparansi manajemen. Secara teoritis, pemerintah memberikan kebebasan kepada sekolah untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat mendatangkan penghasilan (income generating activities), sehingga sumber keuangan tidak semata-mata tergantung kepada pemerintah. Di SD Negeri 1 Semarapura Tengah, menurut bapak Suarjana sudah dilakukan kegiatan pengelolaan koperasi sekolah. Sementara untuk kegiatan yang lain belum ada.
7. Pelayanan Siswa
Dalam menangani kesiswaan, mulai dari penerimaan siswa baru, pengembangan, pembinaan, dan pembimbingan, penempatan untuk melanjutkan sekolah atau memasuki dunia kerja, hingga sampai pada pengurusan alumni dilakukan oleh sekolah. Di SD Negeri 1 Semarapura Tengah, menurut kepala sekolahnya selama menjabat belum pernah dilakukan penelusuran terhadap alumninya. Dalam mengembangkan kreatifitas siswa, sekolah menyediakan ekstra kurikuler kepramukaan. Semua siswa diwajibkan mengikuti kegiatan tersebut yang biasanya dilakukan pada hari Sabtu sore atau Minggu pagi. Di SD 1 Semarapura belum pernah ada siswa yang diberhentikan karena kenakalannya ataupun karena hal lainnya. Menurut keterangan bapak Wayan Suarjana selaku kepala sekolah, selama menjabat beliau belum pernah menemukan siswa yang berhenti sekolah ataupun pindah sekolah.
8. Hubungan Sekolah dan Masyarakat
Esensi hubungan sekolah dan masyarakat adlah untuk meningkatkan keterlibatan, kepedulian, rasa kepemilikan, dan dukungan dari masyarakat berupa moral dan finansial. Dalam aeri yang sebenarnya hubungan sekolah dan masyarakat dari dulu sudah disentralisasikan. Jadai yang dibutuhkan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitas hubungan sekolah masyarakat. Di SD negeri 1 Semarapura Tengah hal ini sudah dilakukan. Sebagai contoh, ketika siswa mengadakan program kunjungan ke suatu objek wisata seperti di Museum-Kertagosa, pihak sekolah terlebih dahulu membicarakan maksud tersebut dengan pihak terkait untuk memperoleh kesepakatan.
9. Pengelolaan Iklim Sekolah
Iklim sekolah, baik fisik maupun non fisik yang kondusif merupakan prasyarat bgi terselenggaranya pembelajaran yang efektif. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib, optimisme dan ekspetasi yang tinggi dari warga sekolah, kesehatan sekolah, dan kegiatan-kegiatan yang terpusat pada siswa (student centered activities) adalah contoh-contoh yang dapat menumbuhkan semangat belajar siswa. salah satu upaya yang telah dilakukan oleh pimpinan di SD Negeri Semarapura Tengah adalah dengan bersiap terbuka. Kepala sekolah berserta stapnya, baik dalam acara resmi maupun acara tidak resmi selalu mengutamakan ketransparanan dan keterbukaan. Segala sesuatu yang berkepentingan dengan sekolah disampaikan secara transparan, utamanya adalah tentang keuangan. Dalam mengambil keputusan selalu didasarkan atas asas kebersamaan dan kekeluargaan. Semua aspirasi dari bawah diterima dan dianalisa kembali dalam rapat tertentu, sehingga tercipta suasana yang demokratis dalam usaha memajukan sekolah.

Implementasi Desentralisasi Pendidikan Ditinjau dari Segi Pengelolaan Pembelajaran di SD Negeri 1 Semarapura Tengah, Klungkung.
Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan, salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan memahami bagaimana anak-anak belajar, bagaimana perilaku belajar yang telah berlangsung pada mereka, bagaimana informasi yang diperoleh dari lingkungan diproses sehingga menjadi dasar pengetahuan milik mereka dan kemudian mereka kembangakan, dan bagaimana informasi itu haris disampaikan agar siswa dapat mencerna dan diingat dalam waktu yang lama (Dahar, 1989), adalah dasar yang telah menjadi pemikiranan bagi pelaku pendidikan. Berdasarkan hal itu banyak dikembangkan teori-teori belajar, metode-metode belajar, strategi belajar. Salah satunya yang sekarang sedang gencarnya dilaksanakan adalah merubah sistem pembelajaran dari belajar berpusat pada guru (teacher centerde) ke pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Perubahan paradigma pembelajaran juga menekankan agar meninggalkan pronsif bahwa belajar adalah transfer pengetahuan dari guru ke peserta didik, dan mulai menggunakan prinsif bahwa belajar adalah proses pengkonstruksian pengetahuan peserta didik secara mandiri yang tentunya dibawah pengawasan gurunya.
Berdasarkan hal tersebut, di SD Negeri 1 Semarapura Tengah sudah ada beberapa guru yang menerapkan metode belajar konstruktivisme. Guru mengajak siswa jalan-jalan (study-rekreasi) ke suatu tempat, yaitu objek wisata kerta gosa yang ada di sebelah timur sekolah. Siswa dihadapkan dengan permasalah riil yang ada di lingkungannya. Kemudian siswa disuruh untuk mengumpulkan informasi sebagai temuan mereka dilapangan. Sebelum berangkat tentunya siswa tersebut telah dibekali dengan beberapa catatan oleh gurunya. Siswa dibebani dengan sebuah laporan kecil hasil temuan mereka. Setelah informasi terkumpul, siswa disuruh menyampaikan hasil temuannya di kelas dalam kegiatan pembelajaran. Setelah selesai, kemudian guru menekankan hal-hal yang dianggap penting dalam pembelajaran tersebut.
Berdasarkan uraian informasi tersebut, pembelajaran sudah mengarah pada siswa (student centered) dan tentunya peran guru sebagai mediator dan fasilitator bagi pebelajar sesuai dengan tuntutan konstruktivis telah terlaksana. Menurut bapak Wayan Suarjana selaku kepala sekolah SD Negeri 1 Semarapura Tengah hanya beberapa guru saja yang baru melaksanakan kegiatan seperti itu (kurang lebih baru 3 orang guru), sementara yang lainnya masih dianggap melaksanakan pembelajaran secara konvensional di dalam kelas, bahkan masih ada guru yang terlalu mendominasi kegiatan pembelajaran di kelas dengan menggunakan metode ceramah. Ternyata setelah ditanya oleh kepala sekolah pada saat supervisi dilakukan, mereka menyampaikan pernyataan bahwa materi yang diberikannya masih baru, sehingga terlebih dulu siswa harus diberikan pemahaman.

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Berdasarkan rumusan masalah dan uraian dari pembahasan dapat diambil simpulan sebagai berikut.
1. Implementasi desentralisasi pendidikan ditinjau dari sisi kebijakan manajemen di SD Negeri 1 Semarapura Tengah telah terlaksana dengan baik. Desentralisasi kebijakan tersebut antara lain: pengelolaan proses belajar mengajar, perencanaan dan evaluasi, pengelolaan kurikulum, pengelolaan ketenagaan, pengelolaan fasilitas pendidikan, pengelolaan keuangan, pelayanan siswa, hubungan sekolah dengan masyatrakat, dan pengelolaan iklim sekolah.
2. Kehadiran warga sekolah dan masyarakat dalam mengambil kebijakan sudah dapat dikatakan memenuhi kuota setengah lebih, walaupun belum mencapai target seratus persen.
3. Implementasi desentralisasi pendidikan ditinjau dari segi kebijakan pembelajaran di SD Negeri 1 Semarapura Tengah sudah cukup berjalan baik. Dari segi pengelolaan kelas dan kurikulum, diserahkan pada masing-masing guru.
4. Dalam melaksanakan pembelajaran belum semua guru mampu mengubah pola belajar dari teacher centered ke pola student centered.

3.2 Saran
Pada kesempatan ini ada beberapa saran yang ingin disampaikan berdasarkan hasil pembahasan dan simpulan, yaitu sebagai berikut.
1. Bagi warga sekolah dan masyarakat, diharapkan kehadirannya dan keikutsertaannya dalam pengambilan kebijakan sekolah untuk meningkatkan mutu sekolah.
2. Kepada para guru, diharapkan melaksanakan pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum yang terbaru, yaitu menerapkan pola pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered), dan lebih menerapkan model-model pembelajaran yang inovatif.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Internet. Diakses tanggal 21 Oktober 2008 pada http://pakguruonline.pendidikan.net/ mpmbs.html

Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.

Dahar, Ratna Wilis. 1989. Teori-Teori Belajar. Jakarta: Erlangga.

Dantes, Nym. 2007. Perspektif dan Kebijakan Pendidikan Menghadapi Tantangan Global, Suatu Keharusan Peningkatan Profesionalisme Guru. Makalah, disampakaikan dalam seminar peningkatan mutu dan profesionalisme guru SMK Negeri 1 Denpasar, 22 September 2007. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.

Degeng, I N. S. 2001. Landasan dan Wawasan Kependidikan. Malang: Universitas Negeri Malang.

Santyasa. 2008. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Sains Bermuatan Peta Konsep dan Model Perubahan Konseptual serta Pengaruhnya terhadap Penalaran Siswa. Usulan Penelitian Hibah Penelitian Pascasarjana. Undiksha.

Jumat, 27 Februari 2009

Model LKS Kimia Asam Basa

Lembar Kerja Siswa
(LKS)
MENGENAL CIRI-CIRI REAKSI KIMIA

I. Tujuan Percobaan
Setelah melakukan kegiatan ini siswa diharapkan dapat:
1. mengetahui ciri-ciri reaksi kimia
2. mengetahui reaksi kimia yang menghasilkan endapan
3. mengetahui reaksi kimia yang menghasilkan gas
4. mengetahui reaksi kimia yang menghasilkan panas
5. memahami ciri-ciri reaksi kimia

II. Landasan Teori
Sagat banyak peristiwa perubahan kimia yang terjadi di sekitar kita. Sebagai contoh, ketika kita selesai makan, tubuh kita mencerna makanan yang kita makan sehingga dihasilkan energi untuk keberlangsungan hidup kita. Tanaman menggunakan sinar matahari, air, dn karbondioksida (CO2) dalam proses fotosintesis untuk menghasilkan glukosa (C6H12O6) dan oksigen (O2) (Kamilati, 2005). Kedua hal tersebut merupakan sebagian kecil dari contoh reaksi kimia yang terjadi dialam.
Reaksi kimia adalah peristiwa perubahan kimia yang berlangsung dari zat-zat yang bereaksi (reaktan) membentuk zat-zat hasil reaksi (produk). Reaksi kimia ada yang berlangsung dengan cepat, seperti ledakan bom, namun ada juga yang berlangsung lama, seperti pematangan buah, dan bahkan ada yang berlangsung sangat lama, seperti terbentuknya batu bara. Pada reaksi kimia selalu dihasilkan zat-zat baru dengan komposisi dan sifat-sifat yang baru, sehingga sifat yang dimiliki reaktan berbeda dengan sifat yang dimiliki produk.
Pada dasarnya suatu reaksi kimia terjadi akibat adanya pembentukan molekul unsur atau molekul senyawa dari atom-atomnya (penggabungan) dan adanya penguraian molekul unsur atau molekul senyawa menjadi atom-atomnya. Keadaan bercampurnya suatu zat menyebabkan molekul-molekul zat tersebut saling bertabrakan satu sama lain. Tabrakan (tumbukan) antar molekul zat tersebut menyebabkan adanya transfer energi. Transfer energi inilah yang menimbulkan terjadinya reaksi kimia. Energi diperoleh dari zat yang bereaksi (reaktan) ataupun dari lingkungan (sesuatu di luar zat yang bereaksi) yang digunakan dalam proses reaksi, sehingga menghasilkan produk (hasil reaksi). Selain menyerap energi, reaksi kimia juga dapat melepas sejumlah energi ke lingkungan. Reaksi yang menyerap energi disebut reaksi endoterm, misalnya fotosintesis. Sedangkan reaksi yang melepas energi disebut reaksi eksoterm, misalnya pembakaran kayu.
Beberapa ciri yang menyertai perubahan kimia, yaitu: perubahan bau, perubahan warna, perubahan suhu, timbulnya gas, dan terbentuknya endapan. Endapan (presifitat) pada reaksi kimia terjadi karena adanya proses kimia yang menyebabkan molekul-molekul pada zat saling berikatan atau terurai menjadi molekul-molekul padat. Molekul-molekul padat tersebut terlihat dalam bentuk endapan zat tertentu. Gas juga dapat terbentuk dari reaksi kimia. Gas yang terbentu merupakan produk sampingan dari suatu reaksi. Misalnya reasi fotosintesis menghasilkan gas oksigen (O2), dan reaksi katabolisme glukosa (C6H12O6) dengan oksigen (O2) yang terjadi di dalam tubuh mahluk hidup yang menghasilkan gas karbondioksida (CO2). Secara sederhana dapat diringkas seperti berikut.




Atau terjadi sebalikya.




Tidak semua reaksi kimia diikuti oleh terbentuknya gas tertentu. Terbentuknya gas dalam suatu reaksi kimia tergantung dari zat-zat atau molekul-molekul yang bereaksi pada suatu proses kimia. Contoh reaksi kimia lain yang dapat menghasilkan gas yaitu reaksi penguraian air menjadi gas oksigen.




Selain terbentuk endapan dan gas, rekasi kimia juga dicirikan dengan adanya perubahan suhu. Perubahan suhu ini terjadi karena adanya penyerapan atau pelepasan energi dalam bentuk kalor (panas). Jika reaksi kimia menyerap panas disebut reaksi endoterm. Pada reaksi ini ada sejumlah energi (panas) diserap dari lingkungan. Sedangkan reaksi yang melepas panas disebut reaksi ekstoterm. Pada reaksi ini ada sejumlah energi (panas) dilepas ke lingkungan.

III. Alat dan Bahan
Alat
- Gelas Kimia 100 ml 6 buah - Korek Api
- Tabung Reaksi 5 buah
- Termometer 5 buah
- Pemanas Bunsen
- Lidi
Bahan
- Pb (NO3) (Timbal Nitrat) - H2SO4 (Asam sulfat)
- Air - Magnesium Klorida
- KI (Kalium Iodida) - Natrium hidroksida
- KClO3 (Kalium klorat) - Karbit

IV. Langkah Kerja
Menunjukan peristiwa terbentuknya endapan pada reaksi kimia
1. Amati keadaan awal masing-masing larutan Pb (NO3) dan KI
2. Tuangkan 20 ml larutan Pb (NO3) kedalam gelas kimia 100 ml
3. Tuangkan 20 ml larutan KI dan campurkan kedalam larutan Pb (NO3) di dalam gelas kimia 100 ml tadi.
4. Amati perubahan yang terjadi!

Menunjukan peristiwa terbentuknya gas pada reaksi kimia
1. Amati keadaan awal kalium klorat
2. Masukan kalium krolat ke dalam tabung reaksi
3. Panaskan tabung rekasi dengan menggunakan pemanas bunsen
4. Lakukan uji oksigen dengan mendekatkan ujung lidi yang membara di atas mulut tabung reaksi.
5. Amati apa yang terjadi?

Menunjukan peristiwa perubahan suhu pada reaksi kimia
1. Masukan masing-masing larutan ke dalam tabung reaksi
2. Ukurlah suhu masing-masing larutan
3. Campurkan larutan asam sulfat dengan larutan magnesium klorida
4. Ukurlah kembali suhunya dan catat hasil pengukurannya
5. Campurkan larutan asam sulfat dengan larutan natrium hidroksida
6. Ukurlah kembali suhunya dan catat hasil pengukurannya
7. Ambilah 50 ml air dan masukan kedalam gelas kimia 100 ml
8. Ukur suhu air tersebut!
9. Masukan 10 gram karbit ke dalam air tersebut!
10. Amati perubahan yang terjadi, dan segera ukur kembali suhu air yang telah diberi karbit tersebut!

V. Pertanyaan
Untuk kegiatan 4.1
1. Bagaimana keadaan awal masing-masing larutan?
2. Pada peristiwa di atas, sebutkan yang berperan sebagai reaktan dan yang berperan sebagai produknya!
3. Apakah terbentuk zat baru pada reaksi diatas?
Untuk kegiatan 4.2
1. Apakah yang terjadi pada ujung lidi yang membara?
2. Apakah pemanasan kalium klorat di atas merupakan reaksi kimia?
3. Apakah terbentuk zat baru pada rekasi diatas?
Untuk kegiatan 4.3
1. Berapa suhu masing-masing larutan sebelum reaksi?
2. Apakah terjadi perubahan suhu setelah hasil rekasi?
3. Larutan manakan yang paling tinggi suhu yang didapat!

VI. Tugas
Buatlah laporan hasil pengamatan pada praktikum diatas dan laporkan pada guru kalian untuk diberikan penilaian.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2006. Panduan Pengembangan Pembelajaran IPA Terpadu Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah. Jakarta: Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas. Internet diakses di http://www.puskur.net/inc/mdl/050 Model IPA Trpd.pdf

Jamal, A. 2006. Pintar Kimia Untuk SMA Kelas 1, 2, & 3. Jawa Timur: Gitamedia Press
Kamilati, Nurul. 2005. Mengenal Kimia SMP Kelas IX. Yogyakarta: Yudistira.
Ptrucci, R. H. & Suminar. Kimia Dasar, Prinsip dan Terapan Modern, Edisi Keempat Jilid 2. Bandung: Erlangga.
Susanti, E. V. H. 2007. Sains Kimia 1 untuk Kelas VII SMP/MTs. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri

Contoh RPP Biologi

Sistem Pendidikan : SMP
Mata Pelajaran : Biologi
Kelas / Semester : IX / 2
Bahan Kajian : Pewarisan Sifat
Alokasi Waktu : 6 x 45 menit
Pertemuan : 1 s/d 3

A. STANDAR KOMPETENSI
7. Mengaplikasikan konsep pertumbuhan dan perkembangan, kelangsungan hidup, dan pewarisan sifat pada organisme, serta kaitannya dengan lingkungan, teknologi, dan masyarakat.

B. KOMPETENSI DASAR
7.5. Mendeskripsikan proses dan hasil pewarisan sifat dan penerapannya.

C. INDIKATOR – Pencapaian Kompetensi Siswa
1. Mendeskripsikan materi genetis yang bertanggung jawab dalam pewarisan sifat (gen, kromosom).

2. Membedakan pengertian sifat resesif, dominan, dan intermediat.

3. Menentukan gamet dari genotipe tetua.

1. Produk
a. Terampil membuat model gen.
b. Terampil menerapkan model gen dalam menyusun bagan penurunan sifat.
c. Terampil melakukan pengamatan terhadap bagan dan charta pewarisan sifat.
d. Dapat mendata ciri-ciri anggota keluarga.
e. Terampil menentukan gamet dalam penurunan sifat.

2. Proses
a. Siswa dapat membuat model gen.
b. Siswa dapat membuat bagan pewarisan sifat dengan satu sifat beda (persilangan monohibrid).
c. Siswa dapat melakukan pengamatan terhadap penerapan model gen dan charta pewarisan sifat.
d. Siswa melakukan percobaan memprediksi sifat keturunan.

3. Keterampilan Sosial
Siswa terlibat aktif dalam :
a. Kerjasama
b. Mengajukan pertanyaan
c. Mengeluarkan pendapat
d. Menghargai pendapat orang lain
e. Tekun, teliti, jujur, obyektif.
D. MATERI POKOK
Pewarisan Sifat

E. MODEL PEMBELAJARAN DAN METODE/STRATEGI BELAJAR
- Model Pembelajaran : Kooperatif – STAD
- Metode : Observasi, percobaan sederhana, diskusi informasi.




F. SUMBER PEMBELAJARAN
Buku referensi, LKS, lingkungan sekolah.

G. RINCIAN PROSES PEMBELAJARAN SISWA

Pertemuan 1
I. Pendahuluan
1. Guru mengajukan pertanyaan :
- Siapakah yang menentukan sifat individu ? dan dimana letaknya ?
2. Prasarat pengetahuan
Guru mengingatkan pelajaran Kls. I tentang sel hewan dan bagian yang berhubungan dengan penurunan sifat.

3. Kompetensi yang harus dicapai siswa :
- Setelah melakukan kegiatan ini, siswa dapat menjelaskan pewarisan sifat.

II. Kegiatan Inti
a. Guru mengelompokkan siswa terdiri dari 4 – 5 orang, secara heterogen.
b. Siswa membuat model gen.
c. Siswa mendemonstrasikan model gen untuk membentuk bagan penurunan sifat.

d. Siswa melakukan pengamatan secara cermat terhadap bagan penurunan sifat.

e. Diskusi hasil pengamatan.

III. Penutup
a. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mendata ciri-ciri anggota keluarga.

b. Uji kompetensi dasar / kuis.
c. Memberikan penghargaan bagi kelompok yang kinerjanya terbaik.

Pertemuan 2
I. Pendahuluan
a. Memberi motivasi :
- Buatlah contoh penurunan sifat dengan satu sifat beda pada tumbuhan/hewan !

b. Prasarat pengetahuan
Guru mengingatkan cara penulisan bagan penurunan sifat yang benar.

c. Kompetensi yang harus dicapai siswa :
- Siswa dapat memahami perbedaan antara sifat resesif, dominan dan intermediat.

II. Kegiatan Inti
a. Guru mengelompokkan siswa secara heterogen, terdiri dari 4 – 5 siswa.
b. Siswa berlatih membuat bagan penurunan sifat dengan satu sifat beda.
c. Siswa mempresentasikan hasil kegiatan.
d. Siswa mendiskusikan hasil kegiatan.
e. Siswa merangkum hasil diskusi.


III. Penutup
a. Guru memberikan tugas kepada siswa, untuk mengidentifikasi sifat keturunan pada hewan di lingkungan sekitar.

b. Uji kompetensi dasar / kuis.
c. Memberikan penghargaan bagi kelompok yang kinerjanya baik.

Pertemuan 3
I. Pendahuluan
a. Memberi motivasi :
- Bagaimanakah cara menuliskan lambang suatu individu ?

b. Prasarat pengetahuan
Guru mengingatkan sifat genotip pada suatu individu.

c. Kompetensi yang harus dicapai siswa :
- Siswa dapat menjelaskan pentingnya gen.

II. Kegiatan Inti
a. Siswa melakukan kajian pustaka tentang contoh penurunan sifat untuk menentukan gamet.

b. Siswa dapat melakukan pengamatan untuk menentukan gamet dengan menggunakan charta penurunan sifat.

c. Latihan membuat bagan penurunan sifat untuk menentukan gamet.
d. Mendiskusikan hasil kegiatan.




III. Penutup
a. Guru membimbing siswa membuat rangkuman/kesimpulan dari kegiatan.

b. Uji kompetensi lisan / kuis.
c. Memberikan penghargaan bagi siswa yang kinerjanya baik.






,
Kepala SMP ………… Guru Mata Pelajaran IPA/Biologi



……………………… ………………………
NIP. ……………….. NIP. ……………..
Posted by GURU KEMAS at 1:43 PM

http://guru-kemas.blogspot.com/2007/05/desain-pembelajaran.html

Contoh Silabus Kontekstual Biologi